Dakwah Ekologis: Sampah Belum Menjadi Materi Utama Dakwah?

Ach. Atikul Ansori
Ach. Atikul Ansori
Mahasiswa S2 Uin Sunan Kalijaga Komunikasi Penyiaran Islam. Kader HMI Cabang Jember, (Sunan Ampel).
- Advertisement -

Dakwah Islam selama ini banyak menyoroti persoalan akidah, ibadah, akhlak, dan hubungan manusia dengan-Nya. Tema-tema tersebut tentu memiliki kedudukan yang sangat penting. Tapi dengan demikian, terdapat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari tetapi relatif jarang memperoleh perhatian sebagai materi dakwah, yaitu perilaku menjaga lingkungan, khususnya kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Padahal persoalan sampah bukan sekedar masalah kebersihan, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sosial, kesehatan, bahkan krisis ekologis yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Seiring meningkatnya berbagai tantangan lingkungan, dakwah Islam masih lebih sering dipahami sebagai ajaran penyampaian ajaran ritual dibandingkan sebagai sarana membangun kesadaran ekologis. Akibatnya perilaku sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya belum diposisikan sebagian dari pengamalan ajaran Islam yang memiliki nilai ibadah. Padahal Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia dan alam.

Hal ini berangkat dari gagasan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kurangnya ajaran Islam mengenai keberhasilan, melainkan pada kurang optimalnya integrasi isu lingkungan ke dalam materi dakwah. Oleh karena itu dalam sudut pandang ekologis yaitu pendekatan dakwah yang tidak hanya mengajarkan kesalehan spiritual, tetapi juga membangun kesalehan ekologis melalui perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan.

Mengapa Isu Lingkungan Belum Menjadi Arus Utama Dakwah?

Salah satu pertanyaan penting yang layak diajukan adalah mengapa persoalan sampah, yang setiap hari dihadapi masyarakat, masih jarang menjadi tema utama dalam dakwah Islam. Sebagian besar materi dakwah masih didominasi pembahasan mengenai ibadah ritual, hukum fiqih, atau persoalan akhlak individual. Sementara itu, persoalan ekologis sering dianggap sebagai urusan pemerintah, aktivis lingkungan, atau lembaga sosial, bukan sebagai bagian dari dakwah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dakwah masih cenderung berorientasi pada dimensi teosentris, yaitu menitikberatkan hubungan manusia dengan Tuhan, sementara dimensi ekologis belum memperoleh perhatian yang seimbang. Padahal kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi dari perilaku manusia yang juga memiliki dimensi moral dan keagamaan.

Oleh sebab itu, dakwah semestinya tidak hanya mengajak bagaimana masyarakat memperbaiki hubungan dengan-Nya, akan tetapi juga bagaimana memperbaiki hubungan dengan alam sebagai amanah yang harus dijaga.

Dalam perspektif ini, perilaku membuang sampah pada tempatnya tidak lagi dipahami sekedar kebiasaan hidup bersih, melainkan sebagai bentuk nyata tanggungjawab seorang khalifah fil ardhi dalam menjaga keberlangsungan kehidupan. Dakwah yang mampu menghubungkan praktik sederhana dengan nilai-nilai keislaman akan lebih mudah membangun perubahan sosial daripada hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan tanpa mendorong implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan tersebut sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menegaskan bahwa tindakan membuang sampah sembarangan hingga menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan termasuk perbuatan yang dilarang.

Fatwa itu menunjukkan bahwa adanya persoalan lingkungan telah menjadi bagian dari tanggungjawab keagamaan, bukan sekedar persoalan etika sosial. Dengan demikian, penyampaian isu lingkungan melalui dakwah memiliki dasar normatif yang kuat dalam ajaran Islam.

- Advertisement -

Menuju Paradigma Dakwah Ekologis

Dakwah ekologis merupakan pendekatan dakwah yang memandang pelestarian lingkungan sebagai bagian unsur pokok dari pengamalan ajaran Islam. Dalam paradigma ini, dakwah tidak berhenti pada penyampaian hukum-hukum ibadah, tetapi juga mengarahkan masyarakat agar memiliki tanggungjawab ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tersebut memperluas makna ibadah. Ibadah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ritual seperti sholat, puasa, zakat, dan haji, tetapi mencakup perilaku yang memberikan kemaslahatan bagi kehidupan. Membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan, merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai Islam yang berorientasi pada kemaslahatan umum.

Dalam sudut pandang filsafat Islam, manusia merupakan khalifah yang diberi amanah untuk memakmurkan bumi, bukan mengeksploitasinya. Oleh karena itu perilaku terhadap lingkungan mencerminkan kualitas keimanan sekaligus kualitas peradaban. Semakin tinggi kesadaran ekologis masyarakat, semakin nyata pula implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.

Adanya hal itu, dakwah ekologis bukanlah upaya mengganti materi dakwah yang telah ada, melainkan memperluas cakupan dakwah agar lebih responsif terhadap persoalan-persoalan kontemporer yang dihadapi masyarakat. Isu lingkungan menjadi bagian dari dakwah karena kerusakan ekologis pada hakikatnya merupakan persoalan moral, spiritual, sekaligus kemanusiaan.

Berangkat dari uraian di atas, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui penyediaan sarana kebersihan atau penegakan aturan, tetapi juga memerlukan perubahan cara pandang masyarakat. Dalam konteks ini, dakwah memiliki peran strategis untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengamalan ajaran Islam.

Dakwah tidak hanya berorientasi pada pembentukan kesalehan ritual saja, tetapi juga memiliki peran dalam membangun kesalehan ekologis sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam. Dalam perspektif dakwah ekologis, tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dipahami bukan sekedar sebagai aktivitas sosial, melainkan sebagai praktik keagamaan yang mencerminkan tanggungjawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Dengan hal ini, dakwah tidak hanya membentuk individu yang taat beribadah, tetapi juga membangun masyarakat yang memiliki kepedulian dan tanggungjawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Ach. Atikul Ansori
Ach. Atikul Ansori
Mahasiswa S2 Uin Sunan Kalijaga Komunikasi Penyiaran Islam. Kader HMI Cabang Jember, (Sunan Ampel).
Facebook Comment
- Advertisement -