Anatomi Bencana di Atas Kertas: Mengapa Kita Menikmati Kegagalan Sastra?

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Ada kepuasan ganjil yang sulit dijelaskan saat mata kita menangkap sebuah kesalahan ketik (typo) yang mencolok di tengah baris kalimat sebuah jurnal prestisius. Ada getaran schadenfreude—sebuah istilah Jerman untuk kegembiraan di atas penderitaan orang lain—ketika kita melihat seorang kritikus sombong terjungkal dari singgasananya, atau saat sebuah skandal plagiarisme meledak dan mengoyak topeng kesempurnaan dunia literasi. Mengakulah: kita bisa sangat mencintai buku, namun di saat yang sama, kita diam-diam berpesta pora di atas bencana yang menimpanya.

Sentimen inilah yang menjadi fondasi kuat dalam karya terbaru Rebecca Lee, Rogues, Widows and Orphans (2026). Sebagai seorang editor kawakan yang telah bergelut dengan anatomi kata selama dua dekade, Lee adalah seorang ahli bedah kalimat. Ia tahu persis bagaimana kata-kata bisa “menjadi hebat”—sebagaimana judul buku sebelumnya—namun ia juga sangat paham apa yang terjadi ketika kata-kata itu memberontak dan menjadi bencana. Buku terbarunya ini ibarat sebuah kedai es krim dengan varian rasa yang aneh; ia menawarkan setiap sendok “keanehan sastra” (ick lit) yang membuat pembaca justru ketagihan meski terkadang merasa mual.

Dari Humor Toilet Hingga Regu Tembak

Dalam dunia cetak, sebuah kesalahan kecil bukanlah sekadar noda tinta. Ia adalah riak yang bisa berubah menjadi gelombang konsekuensi bagi siapa pun yang berada di jalurnya. Lee membawa kita kembali ke tahun 1948, saat Winston Churchill tengah menyusun The Gathering Storm. Sang negarawan besar itu hampir saja mempermalukan dirinya sendiri jika ia tidak segera menyadari kesalahan ketik di menit terakhir.

Kalimat yang seharusnya mendeskripsikan tentara Prancis sebagai “penopang” (prop) bangsa, hampir saja tercetak sebagai “tinja” (poop) bangsa tersebut. Churchill selamat dari humor toilet yang tidak disengaja itu, namun Lee menyisakan misteri: apa yang terjadi pada editor atau tukang cetak yang nyaris membuat sang Perdana Menteri terlihat konyol? Selain amarah Churchill, sejarah tak mencatat nasib mereka.

Namun, di belahan dunia lain, sebuah kesalahan ketik bisa berarti vonis mati. Lee mungkin melewatkan sebuah catatan kelam dari masyarakat totaliter, di mana typo bukan sekadar kecerobohan, melainkan pengkhianatan ideologi. Di Uni Soviet, kesalahan ejaan yang menyangkut harga diri Joseph Stalin adalah tiket satu arah menuju liang lahat. Pada 25 Oktober 1944, surat kabar Pravda Vostoka salah mengeja pangkat militer Stalin menjadi sesuatu yang berbau vulgar (mirip dengan kasus Churchill). Hasilnya mengerikan: seluruh eksemplar dimusnahkan, dan seluruh tim redaksi dieksekusi oleh regu tembak. Di bawah bayang-bayang diktator, tinta benar-benar bisa berubah menjadi darah.

Estetika Keburukan: Mengapa Tulisan Gagal?

Setiap bab dalam buku Lee membedah patologi penulisan secara spesifik: dari salah ketik, cacat gaya bahasa, hingga penilaian yang keliru. Namun, bagian paling menarik mungkin terletak pada eksplorasinya terhadap “Selera Buruk”. Lee memamerkan spesimen tulisan yang begitu buruk hingga mencapai tingkat artistik yang aneh.

Kita diajak menertawakan metafora kacau dalam novel Irene Iddesleigh (1897) karya Amanda McKittrick Ros, hingga puisi William McGonagall tentang bencana Jembatan Tay yang dianggap sebagai puisi terburuk dalam sejarah bahasa Inggris. Bahkan idola pop modern seperti Morrissey tidak luput dari bidikan; novel debutnya, List of the Lost, yang memenangkan Bad Sex Award 2015, dijadikan contoh bagaimana penulis besar bisa kehilangan arah.

Namun, Lee tidak sekadar mengajak kita menghujat. Ia berpendapat bahwa ada nilai edukatif dalam “faktor jijik” komunal ini. Dengan memahami mengapa sebuah tulisan dianggap gagal, kita justru belajar memahami apa itu tulisan yang baik. Lee bahkan dengan rendah hati membiarkan dirinya menjadi sasaran. “Betapa buruknya kalimat ini,” tulisnya sambil mengedipkan mata kepada pembaca. “Silakan hakimi saya!”

Sensor dan Paradoks Kualitas

Dalam bab bertajuk “Tafsiran Buruk”, Lee bergeser dari tulisan yang buruk secara estetika ke upaya-upaya jahat untuk memberangus tulisan—baik atau buruk. Ia merangkum kembali drama penyensoran klasik seperti kasus Lady Chatterley’s Lover, skandal Doctor Zhivago, hingga kontroversi Lolita.

Salah satu kasus paling menarik adalah novel The Well of Loneliness karya Radclyffe Hall (1928). Novel tentang cinta sesama perempuan ini menghadirkan sebuah ironi hukum: hakim yang melarang buku tersebut mengakui bahwa buku itu ditulis dengan sangat baik. Justru karena kualitas sastranya yang tinggi itulah, sang hakim menganggapnya “berbahaya”. Sebaliknya, beberapa dekade kemudian, penulis Jeanette Winterson justru menyerang buku tersebut dari sisi kualitas, menyebutnya sebagai salah satu buku terburuk yang pernah ada. Di sini kita melihat bahwa “keburukan” sering kali berada di mata pengamat, tergantung pada kacamata moral atau estetika yang digunakan.

- Advertisement -

Plagiarisme dan Hantu Masa Depan

Tur kejahatan sastra ini berlanjut ke wilayah abu-abu: plagiarisme, pencurian buku, dan tipu-tipu intelektual. Lee mempertanyakan batasan antara pengaruh kreatif dan pencurian terang-terangan. Apakah ada perbedaan etis antara T.S. Eliot yang “meminjam” baris Shakespeare dalam The Waste Land dengan penulis Australia John Hughes yang mencatut karya Tolstoy dan Fitzgerald tanpa atribusi dalam novelnya tahun 2022?

Kegagapan Hughes dalam sebuah wawancara saat mencoba membela diri menjadi momen komedi tragis dalam buku ini. Namun, ancaman sesungguhnya terhadap orisinalitas bukan lagi sekadar penulis yang malas, melainkan kehadiran Model Bahasa Besar (AI) yang “rakus dan tanpa wajah”. Lee memberikan catatan peringatan tentang bagaimana kecerdasan buatan ini bisa menjadi “apel busuk” terbesar dalam sejarah literasi, yang mampu memproduksi teks tanpa nyawa dalam skala industri.

Perang Kata-Kata dan Optimisme Akhir

Buku ini juga menyoroti ekosistem pendukung sastra: resensi dan perseteruan antarpenulis. Lee menemukan permata di kolom ulasan Amazon tentang The Grapes of Wrath karya John Steinbeck yang berbunyi: “Ini buku yang hebat. Sangat ditulis dengan baik dan penting. Saya membencinya.” Sebuah kalimat yang merangkum paradoks hubungan antara pembaca dan karya besar.

Tak ketinggalan, intrik pribadi antara para raksasa sastra. Perseteruan antara Hemingway dan Fitzgerald diungkap bukan hanya sebagai debat intelektual, tapi juga melibatkan rasa tidak aman yang sangat manusiawi (dan terkadang anatomis).

Meski judul bab penutupnya terdengar suram—”Akhir yang Buruk”—Lee tidak sedang meramalkan kematian sastra. Ia justru menutup bukunya dengan optimisme yang hangat. Dari sejarah mesin cetak yang ternyata berkerabat dekat dengan mesin pemeras anggur, hingga istilah “blifters” bagi para pencuri buku di era 1930-an, Lee merayakan kemanusiaan di balik setiap kesalahan.

Secara keseluruhan, Rogues, Widows and Orphans adalah hidangan yang lezat bagi siapa pun yang mencintai dunia buku. Meski Lee sedikit pelit dalam menyertakan contoh dari sastra non-Inggris—sebuah kekurangan kecil di tengah subjek yang bersifat universal—ia berhasil membuktikan satu hal: dalam dunia kata-kata, kegagalan sering kali jauh lebih menarik daripada kesempurnaan. Selama manusia masih menulis, kesalahan akan selalu ada. Dan selama kesalahan itu ada, sastra tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Sebagaimana kesimpulan Lee yang berani: “Tidak akan ada akhir, baik yang buruk maupun sebaliknya.” Kita akan terus membaca, terus menghakimi, dan terus jatuh cinta pada setiap kata yang salah.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -