Tanpa terasa bulan Ramadhan segera akan usai. Hari terakhir Ramadhan, banyak orang khususnya kaum muslimin dan muslimah berlomba-lomba melakukan itikaf di masjid-masjid untuk mencari keberkahan dan meraih kemuliaan di malam “Lailatul Qadar”, dengan menabur amal kebaikan, melakukan ritual ibadah seperti solat sunnah tobah, tahajud, tasbih, berzikir dan membaca Al-Qur’an.
Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan maghfirah. Jika kita melakukan ibadah dengan penuh keikhlasan dan ketaqwaan pada Allah SWT, maka amal ibadah kita akan berlipat ganda dari hari-hari biasa. Rosulullah bersabda “Barang siapa yang melakukan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan keimanan dan ketaqwaan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya” ( H.R. Bhukhari dan Muslim).
Menjelang 10 malam terakhir, baik malam-malam genap maupun malam-malam ganjil, masjid- masjid mulai dibuka hingga subuh untuk yang ingin melakukan itikaf. Hampir semua orang melafadzkan surat “Lailatul Qadar” di setiap awal rakaat ketika melakukan solat sunnah tarawih dan sunnah lainnya. Mengapa sedemikian diagungkannya surat ini?
Mari kita mencoba menelaah kehebatan ilmu hitungan dan keagungan yg diisyaratkan Al Qur’an di dalam surah ke 97 ini. Surah Al-Qadr yang digolongkan dalam surat Makkiyah terdiri atas 30 kata. Jumlah kata dlm surah Al Qadr (30) sebanyak jumlah Juz dlm Al Qur’an. Jumlah hurufnya (114) sebanyak jumlah surah dalam Al Quran. Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, sesuai firman Allah. Bulan Ramadhan yg didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai Hudallinnas (petunjuk bagi semua manusia)
Kata Hiya (ia) dlm surah itu berada di nomer (27) yang seolah mengisyaratkan bahwa ia malam Lailat Al Qadr adalah malam ke 27 dibulan Ramadhan. Kata Al-Qadr terulangi di surah itu pada nomer 5 – 10 – 12 , yg mana kalau dijumlahkan : 5+10+12 = 27. Dan ini adalah isyarat lagi bahwa ia (Lailat Al-Qadr) adalah pada malam hari ke 27 dibulan Ramadhan.
Sebagaimana dalam kata-kata Lailat Al Qadr (ليلة القدر) itu terdiri atas 9 huruf dan diulang sebanyak tiga kali dalam surah Al Qadr : 9+9+9 = 27. Dan ini juga adalah isyarat lain bhw Lailat Al Qadr adalah malam hari ke 27 dibulan Ramadhan.
Adapun beberapa pokok kandungan sari surat Al Qadr adalah:
- Al Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana yang di firman Allah SWT pada surat al Baqarah ayat 185
- Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
- Para Malaikat dan Jibril diturunkan untuk mencatat semua urusan.
Kini bulan yang tinggal segaris itu akan segera pergi. Banyak orang berharap dapat bertemu kembali di Ramadhan tahun depan, namun jika amal badah yang dilakukan tak menghasilkan banyak perubahan selain tarawih yang kepayahan dan tilawah yang hanya sekedarkejar setoran, maka hanya mendapatkan kesia-siaan. Sementara para sahabat Nabi yang sudah dijamin surga pun menangis tersedu ketika ditinggalkan Ramadhan.
Banyak orang menampakkan kesedihan ketika Ramadahan akan berakhir. Walaupun dilubuk hati, diri ini merasa lega terlepas dari beban sebulan penuh untuk menahan banyak keinginan yang menjadi kebiasaan. Mulut masih senang bergunjing, melontarkan kata-kata yang menyakitkan orang lain dan perbuatan tercela lainnya. Apakah diri ini sudah merasa baik dan cukup dengan amal-amal yang dikerjakan?ibadah masih terasa konstan dan tak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Keinginan untuk melakukan perubahan hanya sebatas wacana.
Di penghujung Ramadhan, jiwa raga kembali mendekati dunia. Lalu, dimanakah iman dan ketaqwaan itu jika kenikmatan dunia belum cukup puas diraih. Selama Ramadhan, daftar bukber justru memenuhi agenda. Memburu kenikmatan dunia yang tak ada habisnya. Niat untuk melakukan banyak kebaikan hanya sebatas angan yang menguap begitu saja seiring dengan hilangnya Ramadhan.
Semoga di penghujung Ramadhan ini amal ibadah yang kita lakukan tak sia-sia dan kita tergolong umat Nabi Muhammad Saw yang bisa menjalankan ibadah Ramadhan agar mendapatkan kemuliaan dari Allah azza wa jalla dengan banyak membaca “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu annii.” Wallahu a’lamu bish-shawab.
