Laporan terbaru menunjukkan lonjakan signifikan pesanan industri pertahanan Amerika Serikat (AS) seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik global, mulai dari Timur Tengah, Ukraina, hingga ketegangan di Asia Timur. Perusahaan seperti RTX, Northrop Grumman, dan GE Aerospace mencatat peningkatan permintaan, didorong oleh negara-negara yang mempercepat belanja militer dan pengisian ulang stok senjata mereka.
Fenomena ini menghadirkan paradoks klasik dalam ekonomi-politik global: perang secara moral ditolak, tetapi secara ekonomi justru menjadi katalis pertumbuhan bagi sektor tertentu. Di titik inilah muncul pertanyaan fundamental: apakah ekonomi global secara struktural telah “menginternalisasi” perang sebagai variabel pertumbuhan?
Uniknya, konflik bersenjata, dari perspektif filosofi perdamaian, dipandang sebagai sebuah anomali, bahkan dibenci dan dihindari. Namun, pandangan ini akan berubah menjadi sebuah “keharusan” saat bersentuhan dengan paradigma pertumbuhan ekonomi-industri. Benturan perspektif ini berangkat dari beberapa asumsi: pertama, bahwa pertumbuhan ekonomi dipersepsikan dengan kondisi naiknya tingkat kesejahteraan. Lonjakan produksi senjata sering dibaca sebagai indikator pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan ini tidak selalu menciptakan kesejahteraan luas, dan output berupa senjata bersifat destruktif, bukan produktif.
Kedua, keamanan membutuhkan militerisasi. Terdapat asumsi bahwa stabilitas hanya bisa dicapai melalui kekuatan militer. Padahal, keamanan juga bisa dibangun melalui diplomasi, integrasi ekonomi, dan institusi internasional. Bahkan, pendekatan militerisasi justru dapat memicu security dilemma (perlombaan senjata).
Ketiga, industri pertahanan “harus” tetap hidup. Asumsi ini berangkat dari fakta bahwa industri persenjataan menyerap tenaga kerja yang tinggi dan mendorong terciptanya spillover jaringan rantai pasok sektor lain. Namun, kata “harus” perlu dikaji dan direnungkan kembali, apakah tidak ada alternatif struktur ekonomi yang lebih produktif dan damai?
Perspektif Multi-Dimensi
Secara ekonomi, industri pertahanan memiliki karakteristik unik. Pada dimensi ekonomi, permintaan alat pertahanan di masa damai dalam fase fluktuatif, namun melonjak drastis dalam masa konflik. Di abad ke-21, sektor ini banyak melibatkan inovasi iptek dan perangkat AI. Kontradiksinya, efek pengganda ekonominya justru bersifat opportunity cost. Artinya, anggaran militer cenderung mengurangi investasi pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Dan, berpotensi menciptakan inefisiensi: belanja militer sering tidak menghasilkan nilai tambah jangka panjang.
Dalam dimensi politik, lonjakan industri senjata memperkuat lobi dan industri pertahanan dalam kebijakan publik serta insentif bagi negara untuk mempertahankan ketegangan (low-intensity conflict). Ini menciptakan apa yang disebut sebagai perverse incentive, yaitu perdamaian tidak selalu menjadi pilihan paling “menguntungkan” secara politik-ekonomi.
Pada dimensi sosial, dampak ekonomi dari perang relatif ambivalen. Aspek positifnya, lapangan kerja di sektor industri melonjak dan pengembangan teknologi tinggi memacu keterlibatan dunia pendidikan di bidang iptek. Aspek negatifnya: terjadi normalisasi kekerasan,
Muncul polarisasi sosial, dan trauma kolektif di wilayah konflik. Dengan kata lain, manfaat ekonomi sering kali tidak sebanding dengan biaya sosial yang harus ditanggung masyarakat. Pada dimensi damai, seakan dunia dihadapkan pada sebuah paradoks bahwa industri senjata berkembang karena perang dan perdamaian justru mengurangi permintaan industri tersebut, yang pada gilirannya akan mendorong kontraksi ekonomi. Akibatnya, sistem global menghadapi dilema struktural, apakah mungkin mempertahankan industri pertahanan yang kuat tanpa bergantung pada konflik?
Ironisnya, lonjakan permintaan industri senjata global tercermin secara jelas dalam tren belanja militer dunia. Data terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa total pengeluaran militer global mencapai sekitar USD 2,7 triliun pada 2024, meningkat sekitar 9,4% secara riil dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang merupakan kenaikan tahunan tertinggi sejak akhir Perang Dingin. Kenaikan ini tidak hanya terjadi pada negara yang terlibat konflik langsung, tetapi juga pada negara maju yang merasa perlu meningkatkan kapasitas pertahanan sebagai respons terhadap ketidakpastian geopolitik. Artinya, bahkan dalam konteks “masa tenang relatif”, ekspektasi terhadap potensi konflik sudah cukup untuk mendorong permintaan industri pertahanan.
Di kawasan negara maju, terutama Eropa, tren peningkatan ini sangat signifikan. Pengeluaran pertahanan negara-negara Uni Eropa meningkat sekitar 30% dalam periode 2021–2024, dengan rata-rata mencapai hampir 1,9% dari PDB, dan diproyeksikan terus naik seiring komitmen NATO untuk memenuhi bahkan melampaui ambang 2% PDB. Lebih jauh, kesepakatan NATO terbaru bahkan mendorong target ambisius hingga 3,5%–5% PDB pada 2035, yang secara implisit menjamin keberlanjutan permintaan jangka panjang bagi industri senjata. Ini menunjukkan bahwa permintaan industri pertahanan tidak lagi bersifat siklikal mengikuti perang, melainkan telah menjadi bagian dari perencanaan fiskal struktural negara maju di masa damai pun.
AS sebagai aktor utama menunjukkan pola serupa. Anggaran militer AS mencapai sekitar USD 962 miliar pada 2025, menjadikannya yang terbesar di dunia dan terus mengalami tren kenaikan dalam satu dekade terakhir. Secara industri, perusahaan-perusahaan besar seperti Lockheed Martin, RTX, dan Northrop Grumman mencatat pendapatan puluhan miliar dolar dari sektor persenjataan saja, dengan proporsi yang sangat dominan terhadap total bisnis mereka. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan tanpa perang langsung di wilayah domestik, permintaan tetap tinggi karena ekspor senjata, kontrak jangka panjang pemerintah, dan kebutuhan modernisasi militer.
Sementara itu, dalam konteks konflik aktif, peningkatan produksi menjadi jauh lebih agresif. Rusia, misalnya, meningkatkan produksi amunisi hingga sekitar 3 juta peluru artileri per tahun, bahkan melampaui gabungan produksi AS dan Eropa, serta melipatgandakan produksi tank dan meningkatkan produksi sistem artileri sejak meletusnya perang melawan Ukraina. Fenomena ini mengindikasikan bahwa dalam situasi konflik terbuka, industri senjata tidak hanya mengalami peningkatan permintaan, tetapi juga transformasi kapasitas produksi menuju ekonomi perang (war economy mode), yang mempercepat industrialisasi militer secara drastis.
Kita tidak hidup dalam dunia ideal tanpa konflik. Namun, membiarkan ekonomi bergantung pada perang adalah pilihan yang berisiko secara moral dan etis. Tantangan utama abad ke-21 bukanlah menghapus industri pertahanan, melainkan mengeluarkannya dari ketergantungan terhadap konflik sebagai sumber pertumbuhan. Jika tidak, dunia akan terus berada dalam siklus berbahaya: perang menciptakan keuntungan, dan keuntungan menciptakan insentif untuk perang berikutnya.
