Minggu, April 18, 2021

Sikapi Polemik, MUI Akan Keluarkan Fatwa Terkait Mi Instan Paling Enak

Tommy Soeharto dan Partai Berkarya Dukung Jokowi 7 Periode

Meski belum jelas apakah Jusuf Kalla (JK) dan Partai Perindo akan memenangkan gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) soal masa jabatan wakil presiden, Hutomo Mandala...

Tertawalah Selagi Bisa!

Tertawa dan menangis terkadang dipertentangkan. Padahal dua hal tersebut baik untuk kesehatan mental. Orang waras pasti melakukan itu. Dalam kondisi tertentu, penyebab tawa dan tangis...

Wawancara Eksklusif Teroris Anggota ISIS

Pagi tadi, seorang anggota ISIS menepati janjinya. Ia datang ke kamar kos saya dengan hanya membawa pisau—ini lebih baik ketimbang perjanjian sebelumnya. Kami duduk...

Paleo-Proksemik Soya

“Ruang” adalah salah satu konsep utama dalam antropologi. Relasi antara “budaya” dan “ruang” nampaknya bisa digambarkan sebagai variabel sentral yang mempengaruhi perilaku manusia dan...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Ma’ruf Ridhoi, ketua Majelis Umatmi Indonesia, mengaku prihatin atas polemik mie instan paling enak yang saat ini sedang terjadi. Seperti diketahui, polemik mi instan ini mulai merebak dan meresahkan warga setelah Kaesang, salah seorang putra Presiden Joko Widodo, mengaku lebih suka Mie Sedap daripada Indomie.

“Ya, kami sudah pantau. Kami menyayangkan Kaesang bikin statemen gegabah seperti itu. Terutama saat masyarakat sedang ribut tentang kerukunan antar umat. Kami akan segera keluarkan fatwa,” kata Ma’ruf.

Ma’ruf sendiri mengaku akan membicarakan ini dengan MUI agar umat Indomie tidak lagi terpecah-pecah. Dari penelusuran reporter kami Teguh Jambu, MANDHANINEWS menemukan bahwa saat ini masyarakat Indonesia sedang bingung terkait keyakinan antara mie Instan mana yang paling enak. Sebagai negara agama, mayoritas warga negara Indonesia memang dikenal sebagai pemeluk Indomie Goreng yang taat, tak Hanya itu populasi tertinggi penikmat Indomie sedunia ada di Indonesia.

Sebelumnya, di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), MUI pernah mendorong pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKb) 3 Menteri yang berisi antara lain: pembatasan kepada kelompok minoritas di ruang publik, larangan mie instan lain untuk mengklaim cita rasa Indomie, dan beberapa aturan diskriminatif lainnya. Banyak pegiat Hak Asasi Mi Indoneisa mengecam keluarnya SKB 3 Menteri ini. Pasalnya, surat itu digunakan untuk mempersekusi pecinta mi instan minoritas di Indonesia.

“Sudah banyak Warung Makan Mi Instan yang dipaksa ganti jadi Warung Makan Indomie (Warmindo), ini kan pelanggaran hak, what about ibu-ibu Mie Sedap? Sarimie? Atau Mie ABC Selera Pedas?” Bhagapunk SID, juru bicara Lembaga Bantuan Mie Indonesia.

Sejak dikeluarkannya SKB 3 Menteri, Front Pembela Indomie (FPI) merajalela di banyak kota, melakukan pawai-pawai dan aksi pengrusakan atas nama jihad akbar pemurnian Indomie. Namun, sejak rezim berganti, FPI tidak bisa lagi leluasa melakukan aksi-aksinya.

Habib Erenn Bakunin, salah seorang juru bicara FPI, merasa rezim saat ini gemar mengkriminalisasi pemuka Indomie. Ini terlihat dari banyaknya larangan makan Indomie dengan dalih tak baik buat kesehatan.

“Kenapa mi instan pribumi dilarang? Sementara mi aseng asal Cina dan mi miyabi asal Jepang boleh? Rezim ini sudah jelas sedang ingin menjauhkan umat dari keyakinan dan warisan nenek-moyang kita,” kata Habib Erren.

Menurut Rocky Grunge, pakar filsafat dari Universitas Indie, negara semestinya memang tak usah mengatur soal mie instan di ruang publik, dan tidak ikut menentukan selera warga. “Hak Asasi Mi itu hasil debat filsafat dunia. Keras dan tajam. Dokumennya juga jernih dan lengkap. Bacalah, supaya negara tidak dungu,” kata Rocky.

Rocky menilai pemerintahan Jokowi saat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari rezim Susilo Bambang Yudhoyono yang mengeluarkan SKB 3 Menteri. “Keduanya cuma beda di bungkus saja itu,” kata Rocky sengit. “SBY mengatur-atur mi instan mana yang boleh dan tidak boleh. Sementara Jokowi, memang tidak mengatur, tapi mendiktekan selera.”

Akibatnya, kekerasan verbal dan visual terhadap penikmat mi instan minoritas kerap terjadi. Kerusuhan di Samping, misalnya, penganut mi instan mayoritas mengusir paksa penganut Mi Syedap dari rumahnya. “Mereka ini (penganut Mie Syedap) dituduh menista ajaran Indomie, sampai-sampai diusir dari Samping,” kata Bhagapunk SID.

Menurut data dari Amienesti International, persekusi penikmat mi minoritas di Indonesia sangat tinggi. Penutupan warung-warung mi yang tak menjual mie mayoritas, juga pelarangan pembangunan warung mi yang tak sesuai dengan penganut mie mayoritas adalah beberapa contoh kekerasan yang mengatasnamakan mi mayoritas. “Sudah saatnya umat Indomie bicara tentang Indomie yang ramah, bukan yang marah. Indomie yang rahmatan lil ‘alamin. jangan sampai nama Indomie rusak karena ulah sebagian penikmatnya yang fanatik,” kata Bhagapunk.

Agama Indomie, melalui akun resminya di Twitter, menyadari potensi kekerasan dari tafsir yang salah. Dalam salah satu kicauannya, ia merespons pertanyaan netizen yang menganggap bahwa terlalu banyak penikmat Indomie Intoleran.

You don’t have to if you don’t want to. It’s your choice. But keep in mind that we’re not behind that idea. Like men, all noodles are created equal. We support each other in order to maintain peace. If you don’t feel the same way, I’m sorry to say your path doesn’t match ours,” tulis Agama Indomie.

Ivan Aulia Wahid, Ketua Umum Gerakan Pemuda Asar, dalam kesempatan wawancara dengan Teguh Jambu mengaku siap menjaga Keberagaman mi instan di Indonesia. “Siapa pun yang nekat mau mengganti Pancasila atau memaksakan tafsir mi instan kepada yang lain, akan berhadapan dengan saya,” katanya.

Ivan mengaku telah memerintahkan seluruh kader dan anggotanya untuk menjaga warung-warung mi minoritas. “Di Bogor ada Soto Mie, di Jogja ada Mi Jawa, di Jakarta ada Mi Tek-tek. Itu semua adalah Mi Nusantara. Jangan memaksakan paham mi anda di Indonesia,” kata Ivan.

Akun resmi Agama Indomie di Twitter secara konsisten mempromosikan toleransi dan keberagaman antar umat. Mereka bahkan tak segan menyapa dan menganjurkan masyarakat Indonesia untuk memilih mi yang nyaman sesuai keyakinannya. Seperti saat memberikan ucapan kepada Mie Sedap dan Mie Gelas. Tidak hanya itu, meski Indomie kerap dianggap jelek karena jihad ISIS (Indomie Selalu Indomie Sesuatu), akun resmi Agama Indomie mengingatkan untuk tetap hidup sehat.

“Ibadah tetap ibadah, tapi jangan terbutakan oleh keimanan dan melupakan kebutuhan jasmani lainnya. Betul Indomie selalu ada untukmu, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa kamu dapatkan dari Indomie.”

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.