Selasa, Mei 18, 2021

Zonasi: Tidak Rugi Tak Masuk Sekolah Favorit

Covid-19, Drama Korea dan Feminisme

Bagi remaja Indonesia, terutama yang masih jomblo, film Drama Korea atau sering disebut drakor seperti kehidupan surga yang selalu di damba-dambakan. Momen ketika si...

Sayur Genjer Bulan September

adalah sejenis tanaman gulma di sawah atau rawa. Genjer adalah sumber sayuran yang dapat dimakan. Bahasa ilmiah untuk tanaman ini adalah limnocharis flava. ...

Gaduh Soal Tubuh

Warta “itu” sebenarnya tak terlalu mengejutkan publik, warta terbongkarnya jaringan prostitusi daring yang melibatkan artis berinisial VA dan AS. VA seorang artis yang namanya...

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...
Adis Setiawan
Mahasiswa | Penulis Lepas

Dengan berkembangnya dunia pendidikan ada beberapa macam pembaharuan di dunia pendidikan salah satunya sistem pendaftaran berbasis zona di mana sekolahan negeri menerima siswa dari sekitar domisili.

Dengan sistem baru tersebut akan menimbulkan pertentangan dari sekolah yang berlabel favorit dan unggulan biasanya bisa menyaring anak yang punya kemampuan di luar daerah jadi tidak bisa lagi dengan adanya sistem zonasi. Dan dari wali murid yang tidak terima ingin anaknya masuk sekolah yang berlabel favorit unggulan di luar daerah tempat tinggal.

Saya termasuk orang yang tidak peduli dengan label sekolah favorit, nyatanya sekarang senang-senang saja sebagai Aaumni dari sekolah swasta milik ormas Islam Muhammadiyah.

Tidak rugi dan menyesal sudah menjadi aumni sekolah swasta, Saya percaya diri dengan keilmuan saya dan bangga pada diri saya. Yang terpenting saya bisa berubah dan punya kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik.

Banyak wali murid menganggap bahwa anaknya tidak diterima sekolahan Negeri maka akan sia sia tidak favorite malu dengan tetangganya, memang tidak ada sekolah swasta yang bisa mendidik, memang tidak ada sekolah swasta berkualitas. Soal bertambahnya ilmu memang hanya faktor dari sekolahan saja bisa jadi dari individunya masing masing punya kemampuan untuk menjadi lebih baik apa tidak.

Cerita dari saya ini adalah menandakan bahwa saya punya jiwa bodo amat dengan sekolahan berlabel negeri favorit itu. Saya bangga dan percaya diri dengan kemampuan saya walapun hasil dari pendidikan Swasta.

Dari kecil saya memang bersekolah di sekolahan swasta milik ormas Islam Muhammadiyah, tidak tahu kenapa orang tua saya tidak pernah memasukan saya di sekolahan yang punya label negeri milik negara. Saya mau menanyakan takut dikira tidak sopan tidak tau diri sudah disekolahkan tapi sekarang sudah besar sok pengen ngajari orang tua. Dalam benak saya.

Apa karena faktor ekonomi keluarga sehingga saya harus terus sekolah di swasta tapi pada waktu zaman saya sekolah TK, SD dan SMP kayanya belum ada wacana sekolah negeri itu gratis kaya sekarang ini, Memang kalau sekarang sekolah Negri itu gratis dan menurut saya justru sekolah di swasta itu bayar walapun saya jarang bayar hahaha di kasih keringanan oleh pihak sekolahan Alhamdulillahnya. Walapun bayar tapi masih kategori murah kok.

Akhirnya saya mulai sadar sekolah di swasta atau negeri tergantung kemampuan siswanya saja, Pemikiran saya berubah setelah kuliah. Melihat bagaimana cara metode pendidikan misalnya kita tidak diberi pelajaran tapi tiba tiba kita suruh buat tugas dan cuma di kasih referensi saja, mau telat, mau tak hadir ya tak di apa-apakan, Jadi seolah olah kita yang rugi dengan bertambahnya kemampuan kita.

Dari metode seperti itu saya menafsirkan seandainya dulu waktu saya sekolah terus saya belajar sendiri mencari buku referensi sesuai kurikulum sekolahan dan saya membacanya dan bertambah ilmunya mungkin saya kelihatan pintar, tapi sayangnya saya tidak melakukan itu karena kemampuan saya belum sampai disitu.

Justru saya hanya mengandalkan pelajaran dari sekolah saja dan berpikir ini saja sudah cukup yang harus di pelajari, sesuai guru saja, Pada akhirnya yang ilmu saya segitu gitu aja tidak kelihatan pandai.

Jadi kalau menurut saya walapun sekolah diswasta minimal saya mendapatkan pendidikan karakter menjadi pribadi yang lebih baik, Seperti misalnya waktu masih sekolah di MI Al Islam Kauman Sukorejo tiap pagi sebelum mulai pelajaran kita taddarus Qur’an juz amma dulu, maka saya mulai terbiasaan kalau pagi harus membaca Al Qur’an. Walapun sekarang waktunya tidak harus pagi, Bisa tentatif kapan saja dan berusaha perhari membaca Qur’an karena sudah saya instal juga aplikasi Al Quran Di HP.

Waktu sekolah Di SMP Muhammadiyah 4 Sukorejo dari situ saya bisa mendapatakan pendidikan mental. Pada waktu itu setelah sholat dzuhur berjama’ah dimasjid komplek SMP Muhammadiyah ada kegiatan Kultum dan peserta yang mengisi kultum dari siswanya sudah di jadwal. Maka selain saya harus berani maju kemimbar melatih mental, saya juga harus punya ilmu untuk ceramah, ya mau tidak mau saya harus banyak membaca dan mengaji agar mendapatkan ilmu baru dan nantinya saya sampaikan dimimbar.

Kenapa saya harus banyak belajar ceramah karena terkadang siswa yang lain ketika mental dan ilmunya belum siap dan tidak punya materi mereka tidak berani maju kemimbar untuk kultum, akhirnya mereka menemui saya dan meminta bantuan kepada saya untuk kultum ada tawaran seperti itu saya harus siap makanya saya harus menyesuaikan diri kalau begitu saya harus mampu memback up keadaan seperti itu, ya secara otomatis saya harus banyak belajar dan membaca.

Tapi di lain sisi saya juga iri kepada teman teman yang bersekolah di negeri, mereka seperti banyak teman karena sekolahan favorite bisasanya muridnya dari berbagai penjuru desa, kalau sekolahan swasta ditempat saya lumayan ada muridnya tapi tidak semua daerah sekitar ada yang bersekolah di SMP tempat saya bersekolah, jadi seperti terbatas temannya dan tidak semua daerah ada yang bersekolah di SMP Muhammadiyah 04 Sukorejo.

Dulu juga saya berpikir kalau sekolah dinegeri itu gaul, bisa sok-sokan karena kisaran umur masih muda SMP atau SMA itu masa masa mencari jati diri. Jadi berpandangan kalau bersekolah di swasta tidak bisa gaul, misalnya soal fashion pada zaman saya SMP celana street yang pensil itu kaya legingnya cewek mletet gitu lagi populer, kalau ingat saya memakai celana itu agak geli, saya sekolahnya dilembaga islam jadi hal berbusana juga di atur mugkin di negeri juga di atur ada aturan tersendiri.

Tapi pola pikir saya sekarang berubah mau didikan sekolah negeri atau saya didikan sekolah swasta, Karena terinspirasi dengan cara pendidikan dibangku kuliah, jadi kitalah yang bergerak mencari ilmu bukan kita di gerakan sekolahan untuk belajar. Agar kemampuan kita terus bertambah bukan karena faktor di mana sekolah.

Adis Setiawan
Mahasiswa | Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.