Rabu, Maret 11, 2026

Zikir dan “Being”: Sebuah Refleksi Pengalaman Spiritual

Kanz Luzman Ibrahim
Kanz Luzman Ibrahim
Saya adalah seorang alumni dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, program studi Hukum Keluarga. Saya sangat senang membaca, mempelajari hal baru, dan untuk saat ini ingin berfokus pada peningkatan writing skill
- Advertisement -

Segala sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tiada membutuhkan pencipta. Dunia ini termasuk di dalamnya. Maka, dunia ini membutuhkan pencipta. Tulisan ini dimulai dari sebuah silogisme sederhana yang ingin membuktikan keberadaan Tuhan melalui jalan logika. Sebab, kebenaran dapat ditempuh melalui dua jalan: korespondensi dan koherensi.

Metode pertama, korespondensi, menuntut kesesuaian antara proposisi dengan fakta empiris. Namun, jalan ini tak memadai ketika berbicara tentang Tuhan, sebab Tuhan tidak termasuk dalam wilayah yang bisa diindera. Ia berada di wilayah metafisis, sedangkan yang dapat diindra hanyalah fisik. Maka satu-satunya jalan yang tersisa adalah koherensi, yaitu kebenaran yang berdiri karena konsistensi premis-premisnya. Dalam matematika, kita menerima bahwa 2 + 2 = 4 tanpa perlu melihatnya secara empiris. Dalam teologi, kita pun menerima keberadaan Tuhan sebagai kebenaran aksiomatik; benar dari sananya.

Hakikat manusia adalah makhluk yang butuh sandaran. Ia selalu mencari tempat berlabuh, sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya, agar merasa aman. Dalam pandangan Islam, manusia disebut ‘abdun, hamba. Sebab ia diciptakan bukan untuk berkuasa, melainkan untuk menyembah. Pertanyaannya, bagaimana mungkin makhluk yang bersifat fisik dapat berhubungan dengan Sang Pencipta yang bersifat metafisik? Jalan itu bernama zikir.

Zikir bukan sekadar pelafalan kalimat-kalimat suci, tetapi sebuah cara untuk mengingat dan menghadirkan Tuhan dalam kesadaran. Melalui zikir, manusia menyeberangi batas dunia yang tampak menuju realitas yang lebih dalam. Tuhan sendiri berfirman, “Alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub”Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat-kalimat zikir terbaik: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar. Kalimat-kalimat ini bukan sekadar rangkaian bunyi, melainkan gerbang menuju ketenangan batin. Betapa banyak manusia hari ini yang tampak bahagia secara jasmani, tetapi hatinya kosong. Mereka berjalan dari pagi hingga malam mengejar dunia, namun tak pernah merasa cukup. Ada yang bergelimang harta tetapi tak kunjung tenang. Ada pula yang sibuk mengajar dunia, tetapi lupa kepada yang menciptakan dunia. Zikir, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar ritual, tetapi terapi eksistensial bagi manusia yang kehilangan makna.

Dalam zikir, manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Ia melepaskan diri dari laju waktu yang begitu cepat. Di tengah keletihan modernitas, zikir menjadi jeda yang menenangkan. Pertanyaan yang muncul kemudian: apa sebenarnya yang kita cari? Kebahagiaan, atau ketenangan? Kebahagiaan sering kali datang dan pergi, tetapi ketenangan adalah keadaan yang menetap. Dan ketenangan sejati hanya bisa ditemukan dalam mengingat Tuhan.

Zikir menghadirkan pengalaman eksistensial yang khas. Dalam pandangan Jean-Paul Sartre, manusia adalah makhluk yang “condemned to be free”, dikutuk untuk bebas. Kebebasan yang tanpa batas justru menghadirkan kecemasan. Manusia bebas menentukan dirinya, tetapi kebebasan itu menimbulkan kekosongan, sebab tidak ada orientasi absolut yang menjadi pijakan. Di titik ini, zikir hadir sebagai penawar. Ia bukan meniadakan kebebasan, melainkan mengarahkannya. Dalam zikir, manusia menyerahkan kebebasannya kepada Yang Mutlak. Penyerahan itu bukan kelemahan, melainkan penemuan makna. Di sana, kebebasan berubah menjadi keikhlasan.

Martin Heidegger berbicara tentang Dasein sebagai makhluk yang sadar akan keberadaannya. Hanya manusia yang bertanya tentang Ada. Namun, manusia modern sering terlempar ke dalam keadaan das Man, hidup dalam arus tanpa keotentikan, menjadi bagian dari “mereka” tanpa menyadari dirinya sendiri. Zikir memanggil manusia keluar dari arus itu. Dalam zikir, manusia menjadi hadir dan sadar. Ia bukan lagi sekadar bagian dari kerumunan, tetapi individu yang berjumpa dengan Ada yang sejati.

Jika Heidegger menyebut Gelassenheit sebagai sikap membiarkan Ada menyingkap dirinya, maka dalam Islam, sikap ini sepadan dengan tawakkul dan taslim. Dalam zikir, manusia melepaskan segala kepemilikan dan membiarkan dirinya dihadirkan oleh Tuhan. Ia tidak lagi berpikir tentang Tuhan sebagai objek, melainkan mengalami kehadiran Tuhan sebagai subjek yang menyapa.

Saya mengalami hal ini secara pribadi. Awalnya, saya ikut berzikir dengan keraguan. Sebagai orang yang lama terbiasa dengan pola pikir Barat, saya menimbang semuanya dengan skeptis. Namun, perlahan, sesuatu berubah. Ada kehangatan yang menjalar dari dada, lalu menenangkan seluruh tubuh. Pikiran saya menjadi jernih, hati saya lapang. Pengalaman itu tidak dapat dijelaskan dengan ukuran objektif, tetapi ia nyata. Di sana, saya memahami bahwa zikir bukan sekadar tindakan religius, melainkan pengalaman ontologis. Manusia yang fisikal berjumpa dengan Yang Metafisikal.

- Advertisement -

Di titik itu, saya memahami Heidegger dengan cara yang baru. Bahwa Being bukanlah konsep abstrak, melainkan realitas yang bisa dihadirkan. Being bukan sekadar “ada”, tetapi “Ada yang menyapa”. Melalui zikir, manusia menemukan dirinya sebagai makhluk yang sadar akan keberadaannya, dan dalam kesadaran itu, ia menemukan Tuhan.

Maka, zikir adalah jalan kembali. Jalan untuk mengenali diri, mengenali Ada. Saya menjadi “Hadir dan Sadar” sepenuhnya sebagai manusia lewat metode zikir tadi. Sampai akhirnya saya kembali mengamini kodrat saya sebagai hamba yang mengabdi pada Tu(h)annya.

Kanz Luzman Ibrahim
Kanz Luzman Ibrahim
Saya adalah seorang alumni dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, program studi Hukum Keluarga. Saya sangat senang membaca, mempelajari hal baru, dan untuk saat ini ingin berfokus pada peningkatan writing skill
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.