Selasa, April 16, 2024

Wawasan Kebangsaan, Bela Negara dan Terorisme

Nabilla Ardiani
Nabilla Ardiani
Mahasiswi di Politeknik Keuangan Negara STAN

Pengetahuan akan sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia merupakan bagian dari wawasan kebangsaan yang penting untuk dipelajari oleh masyarakat Indonesia. Fakta-fakta sejarah dapat dijadikan pembelajaran bahwa Kebangsaan Indonesia terbangun dari serangkaian proses panjang yang didasarkan pada kesepakatan dan pengakuan terhadap keberagaman dan bukan keseragaman serta mencapai puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Wawasan Kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia dalam rangka mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara yang dilandasi oleh jati diri bangsa (nation character) dan kesadaran terhadap sistem nasional (national system) yang bersumber dari Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, guna memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa dan negara demi mencapai masyarakat yang aman, adil, makmur, dan sejahtera.

Terdapat empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara, di antaranya adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Empat hal ini sangat penting bagi tegaknya negara republik Indonesia.

Bela Negara adalah tekad, sikap, ataupun tindakan warga negara dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan Negara dari berbagai Ancaman.

Nilai-nilai bela negara di antaranya adalah cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara dan memiliki kemampuan awal Bela Negara. Sudah seharusnya kita sebagai  warga negara memiliki sikap yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia dalam hal membentengi diri dari ancaman bermasyarakat dan bernegara.

Salah satu ancaman dalam bernegara adalah terorisme. Terorisme adalah tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan tujuan menciptakan ketakutan atau kecemasan di kalangan masyarakat.

Tujuan utama teroris adalah mempengaruhi kebijakan pemerintah atau mencapai tujuan politik, agama, atau ideologis lainnya. Tindakan terorisme dapat mencakup serangan bom, penyanderaan, pembunuhan massal, atau sabotase.

Teroris sering kali memilih target yang bertujuan untuk menciptakan kerugian maksimum dan menimbulkan dampak psikologis yang besar pada masyarakat. Upaya untuk mengatasi terorisme melibatkan pendekatan yang terkoordinasi antara negara-negara yang terkena dampak, upaya pencegahan melalui penghapusan faktor-faktor yang menyebabkan terorisme, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakstabilan politik, serta pendekatan keamanan yang berfokus pada pengawasan dan penangkapan pelaku terorisme serta pemusnahan jaringan teroris.

Di berbagai belahan dunia terdapat varian kelompok radikal yang mengatasnamakan agama-agama semisal Kristen, Yahudi, Sikh, Hindu, Budha, dan Islam. Keberadaan kelompok dan individu yang menganut paham radikal terutama yang berafiliasi dengan kelompok radikal jaringan international cukup mengganggu stabilitas nasional, sebut saja bagaimana dampak yang dirasakan bangsa Indonesia Pasca Bom Bali yang merenggut ratusan orang tidak berdosa.

Ancaman terbesar terorisme bukan hanya terletak pada aspek serangan fisik yang mengerikan, tetapi serangan propaganda yang secara massif menyasar pola pikir dan pandangan masyarakat itulah yang merupakan ancaman yang lebih berbahaya. Pola penyebaran radikalisme dapat dilakukan melalui berbagai saluran, seperti media massa, komunikasi langsung dengan bentuk dakwah, diskusi, dan pertemanan, hubungan kekeluargaan, dan melalui lembaga pendidikan.

Terorisme dan radikalisme sangat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Sebagai masyarakat yang mengerti wawasan kebangsaan dan memiliki sikap bela negara pasti tidak akan terpengaruh oleh radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara patut untuk terus menjaga sikap bela negara dan berwawasan kebangsaan yang teguh agar selalu terhindar dari serangan psikis maupun mental atas ajakan terorisme maupun radikalisme. Upaya menjaga diri dengan sikap bela negara akan sangat membantu pemerintah dalam melawan ancaman terorisme dan radikalisme di Indonesia.

Nabilla Ardiani
Nabilla Ardiani
Mahasiswi di Politeknik Keuangan Negara STAN
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.