Kamis, Juni 20, 2024

Watak Masyarakat Karesidenan Pekalongan, Penting Dipahami Calon Kepala Daerah

Malik Ibnu Zaman
Malik Ibnu Zaman
Penulis Lepas

Pemilihan kepala daerah atau pilkada tahun 2024 akan diselenggarakan secara serentak pada 27 November 2024. Meskipun masih beberapa bulan lagi, tetapi dinamika politik sudah menggeliat, mulai dari bursa nama-nama calon, bahkan baliho-baliho pun sudah bertebaran di mana-mana.

Nah, penting untuk diingat bahwa keinginan para calon untuk menjadi kepala daerah harus diimbangi dengan pemahaman mereka terkait karakteristik atau watak masyarakat daerah tersebut. Jika tidak, maka yang terjadi adalah kekalahan dalam kontestasi politik. Kalaupun menang akan terjadi gejolak di pemerintahannya. Tak terkecuali di daerah eks Karesidenan Pekalongan.

Karesidenan Pekalongan atau bekas Karesidenan Pekalongan merupakan wilayah administratif zaman Hindia Belanda yang meliputi lima daerah kabupaten dan dua kota yaitu Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Brebes, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal.

Dalam sastra lisan Tegal ada ungkapan yang menggambarkan watak masyarakat di daerah-daerah yang saya sebutkan di atas. Ini penjelasannya:

Pekalongan

Pada masa awal kemerdekaan daerah Pekalongan belum ada kota administratif, hanya ada kabupaten Pekalongan, dan Batang pun masih menjadi bagian dari Kabupaten Pekalongan. Saya sedikit jelaskan bahwa Batang sebelum tahun 1931 merupakan kabupaten tersendiri, namun karena jumlah penduduknya yang rendah dan untuk menghemat pengeluaran daerah ini digabungkan dengan Kabupaten Pekalongan. Barulah pada tahun 1966 Batang kembali menjadi kabupaten.

Bisa dikatakan Pekalongan ini paling kaya dibandingkan dengan tetangga-tetangganya, seperti Brebes, Tegal, Pemalang, karena Pekalongan ini merupakan sentra batik yang masyhur. Sementara Batang sejak zaman Belanda merupakan penghasil utama tanaman seperti gula, teh, kopi, kina, karet, dan kakao (cokelat).

Sehingga dalam ungkapan orang Tegal, Pekalongan ini digambarkan dengan merak ngigel sinonderan, artinya seekor merak menari-menari memamerkan hiasannya, tetapi tidak berani berkelahi.

Brebes

Dari dulu hingga sekarang Brebes itu hanya ada Kabupaten Brebes. Wilayah Brebes ini secara geografis terletak di antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sehingga secara budaya dalam hal ini ditarik ke dua arah, di mana wilaya Brebes bagian barat secara budaya adalah Sunda dan wilayah Brebes bagian timur secara budaya adalah Jawa.

Berdasarkan hal tersebut, maka dalam ungkapan (sastra lisan) Tegal, Brebes diibaratkan sebagai sebuah kenong (alat gamelan) yang bebas tergantung, kalau retak sukar ditambal, dengan kata lain kenong sigar ing gantungan.

Tegal

Sementara Tegal sekarang ada dua daerah yaitu Kota Tegal dan Kabupaten Tegal. Nah, masyarakat Tegal ini digambarkan sebagai banteng atau kerbau liar yaitu berani dan sukar untuk dikendalikan, namun dapat dikendalikan oleh bocah angon yaitu orang yang yang lemah lembut dan ramah-tamah serta tidak mempunyai maksud buruk. Hal ini tergambarkan dalam falsafah lokal berupa sastra lisan yaitu Banteng Loreng Binoncengan.

Banteng Loreng Binoncengan ini digambarkan dengan seorang anak laki-laki penggembala atau bocah angon yang sedang menunggangi banteng, yang mengerti betul perwatakannya, Diceritakan anak laki-laki penggembala atau bocah angon tersebut menjaga dan merawat bantengnya dengan penuh kasih sayang. Pada suatu waktu harimau hendak menerkam si bocah angon, nah banteng tersebut melindungi dan menyelamatkan si bocah angon. Meski akhirnya banteng menderita luka parah di sekujur tubuhnya.

Pemalang

Pemalang ini secara geografis terletak di antara Tegal dan Pekalongan, wilayahnya didominasi oleh dataran rendah, berupa pantai. Dalam ungkapan orang Tegal, Pemalang diibaratkan dengan watang putung ing ayunan yaitu sebuah perahu yang mulus, bila dayung pengemudinya yang panjang itu mendadak patah, dengan mudah diombang-ambingkan gelombang ke sana ke mari. Maksudnya kadangkala dipengaruhi oleh Tegal, kadangkala oleh Pekalongan.

Akan tetapi jika Pemalang dipimpin oleh orang yang tegas, maka Pemalang bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Sehingga, kemudian timbul ungkapan kedua, bende munggeng tawang yaitu sebuah gong kecil suaranya menggema di langit.

Penting untuk Dipahami Calon Kepala Daerah

Mengapa watak masyarakat yang saya jelaskan di atas penting untuk dipahami, agar kepala daerah ini dalam memimpin visi-misi mereka terimplementasi dengan benar di masyarakat yang mereka pimpin. Kemudian dengan memahami watak masyarakatnya pula kepala daerah ini bisa menemukan solusi untuk kemajuan daerahnya.

Misalnya dengan watak orang Tegal yang diibaratkan seperti Banteng Loreng Binoncengan, maka pemimpin Tegal nggak akan main-main dalam memimpin Tegal. Selain itu harus sabar, pengertian, penuh kasih sayang, dan punya sifat mengayomi. Kalau tidak, siap-siap saja digulingkan, sama seperti halnya yang terjadi dalam Peristiwa Tiga Daerah.

Lalu Brebes yang masyarakatnya digambarkan dengan kenong sigar ing gantungan, dengan pemimpinnya memahami hal tersebut, maka bagaimana caranya dalam memimpin tidak terjadi ketimpangan sosial, menganaktirikan daerah lain. Lagu Pekalongan ini digambarkan dengan merak ngigel sinonderan, maka dengan memahami ini pemimpin akan berpikir bagaimana nama Pekalongan ini dikenal ke mana-mana.

Selanjutnya dengan mengetahui watak masyarakat Pemalang yang digambarkan dalam ungkapan watang putung ing ayunan dan bende munggeng tawang, maka pemimpin daerah tersebut akan memikirkan bagaimana caranya agar bisa Pemalang bisa maju dan tidak bergantung dengan daerah lain, serta menjadi contoh yang baik bagi daerah-darah yang lain.

Malik Ibnu Zaman
Malik Ibnu Zaman
Penulis Lepas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.