Minggu, Juli 14, 2024

The Death of Expertise

Ayub Wahyudin
Ayub Wahyudin
Penulis, Corresponding Author, Mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Dosen Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon

Pergulatan era digital memasuki babak baru di mana media sosial tidak hanya memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik terhadap berbagai isu sosial, termasuk kinerja kepolisian, tetapi juga mampu menggiring opini publik serta menjadi alat untuk mendorong penyelesaian kasus. Namun, media sosial juga bisa menjadi distorsi dalam pengambilan keputusan hukum, sebuah fenomena yang disebut “The Death of Expertise” atau matinya kepakaran (Marune, 2023).

Buku “The Death of Expertise” karya Tom Nichols mengupas tuntas fenomena yang sangat relevan dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini, yaitu runtuhnya pengaruh (otoritas) tradisional para ahli dalam masyarakat. Dalam konteks ini, kasus pembunuhan Vina dan Eki dapat dijadikan contoh bagaimana “matinya kepakaran” terefleksi dalam realitas sosial.

Kasus pembunuhan Vina dan Eki menarik perhatian publik secara luas, terutama di media sosial. Banyak orang memberikan pendapat dan analisis mereka, sering kali tanpa dasar pengetahuan atau keahlian yang memadai. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial telah memberikan platform bagi siapa saja untuk berbicara, terlepas dari apakah mereka benar-benar memiliki pemahaman yang mendalam tentang subjek yang mereka bahas.

Banyak orang memberi komentar bahkan secara brutal membabi buta mempertahankan pendapatnya, seperti seorang ahli. Cocoklogi dengan orang-orang yang dituduh sebagai tersangka (DPO). Misalnya pada kasus pembunuhan Vina dan Eki, narasi brutal mengarah pada akun-akun yang diduga milik tiga tersangka dalam kasus pembunuhan Vina, yaitu Egi, Dani, dan Andi yang masih berstatus DPO. Kecurigaan publik semakin kuat bahwa pembunuhnya adalah individu dari kalangan elite dengan pengaruh besar.

Maka, ketika satu tersangka yang ditangkap bukan yang digadang-gadang sebagai tersangka bernama egi ripra, tetapi Pegi Kurniawan. Serbuan terhadap kepolisian dan ketidakpercayaan publik terhadap penanganan kasus semakin menguat. Sebaliknya, pengakuan Saka Tatal, seorang korban dibawah umur yang telah bebas menyatakan sebagai korban salah tangkap dan mengaku dipaksa sebagai pelaku pembunuhan Vina, dengan intimidasi kepolisian.

Dalam beberapa kesempatan menjelaskan terdapat tekanan dari kepolisian didampingi pengacaranya. Pendapat para Netijen tidak mempercayai pengacara Saka Tatal serta Kuasa Hukumnya. Mereka berargumentasi dari wajah pembohong seorang tersangka Saka Tatal atau Kuasa Hukum yang disebut sebagai “nenek kampung” dan seterusnya, narasi emosional lebih menguasai pendapat serta keterangan yang digulirkan.

Dalam kasus ini, opini publik yang dibentuk di media sosial bisa saja mempengaruhi proses penyelidikan dan pengadilan. Masyarakat sering kali lebih percaya pada narasi yang disampaikan oleh akun-akun populer di media sosial daripada pada penjelasan resmi dari pihak berwenang atau para ahli hukum. Hal ini mengakibatkan terjadinya bias dan potensi distorsi dalam pemahaman kasus yang sebenarnya.

Tom Nichols dalam bukunya berargumen bahwa efek dari fenomena ini adalah penurunan kepercayaan terhadap institusi dan para ahli yang sebenarnya memiliki kualifikasi untuk menangani isu-isu kompleks. Dalam kasus pembunuhan Vina dan Eki, kita bisa melihat bagaimana opini yang terbentuk di media sosial bisa jadi lebih berpengaruh daripada fakta dan bukti yang dikumpulkan melalui proses investigasi yang sah.

Matinya kepakaran, seperti yang dijelaskan Nichols, juga berimplikasi pada kualitas keputusan yang diambil. Ketika masyarakat lebih mempercayai opini yang tidak berdasar daripada analisis dari para ahli, keputusan yang dihasilkan bisa jadi tidak objektif dan tidak berdasarkan fakta. Hal ini sangat berbahaya dalam konteks hukum, di mana keadilan harus ditegakkan berdasarkan bukti dan prosedur yang benar

“The Death of Expertise” memberikan kita lensa kritis untuk melihat bagaimana media sosial dan kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara kita memandang otoritas dan kepakaran. Kasus pembunuhan Vina dan Eki adalah contoh nyata bagaimana pemikiran Nichols dapat diterapkan untuk memahami dinamika sosial saat ini. Kita perlu mengingat pentingnya mendengarkan dan mempercayai para ahli, terutama dalam kasus-kasus yang memerlukan pengetahuan mendalam dan analisis yang cermat, agar keadilan dan kebenaran tetap terjaga.

Meskipun media sosial telah memberikan banyak manfaat dengan mendemokratisasi platform untuk berbagi informasi dan berita, media sosial juga memungkinkan hampir semua orang untuk berbagi pandangan mereka tentang berbagai topik. Masalahnya terletak pada apa yang kita anggap sebagai kebenaran dasar dan suara mana yang benar-benar “ahli.” Meskipun media sosial telah memberikan suara kepada banyak orang yang sebelumnya tidak memilikinya (hal yang baik), media sosial juga membuat kita bingung untuk memahami siapa sebenarnya yang ahli (hal yang tidak baik).

Layak atau tidaknya Pakar

Apa itu “ahli” atau pakar dan apa itu “keahlian”? Secara tradisional, ini adalah penghargaan berbasis waktu, yang logis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, yang berarti memiliki lebih banyak pengetahuan tentang suatu topik dibandingkan dengan mayoritas orang lain.

Ahli atau pakar merupakan seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang mendalam dalam suatu bidang tertentu. Mereka diakui oleh orang lain sebagai otoritas atau sumber yang dapat dipercaya dalam bidang tersebut karena pemahaman dan keahlian yang mendalam. Contoh ahli atau pakar dapat ditemukan dalam berbagai bidang seperti politik, kedokteran, hukum, teknik, ilmu pengetahuan, seni, dan banyak lagi.

Keahlian adalah kemampuan atau kompetensi khusus yang dimiliki oleh seorang ahli atau pakar dalam suatu bidang. Keahlian mencakup pengetahuan mendalam, keterampilan teknis, dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik.

Biasanya keahlian ini biasanya diperoleh melalui pendidikan formal, pelatihan, dan pengalaman bertahun-tahun. Keahlian memungkinkan seseorang untuk memberikan analisis yang akurat, solusi yang efektif, dan saran yang bermanfaat dalam bidang keahliannya. Secara singkat adalah Ahli/Pakar: Orang yang sangat berpengalaman dan berpengetahuan dalam suatu bidang. Keahlian: Kemampuan khusus dan mendalam yang dimiliki oleh seorang ahli dalam bidang tersebut.

Mengukur Kepakaran Netizen

Netizen memiliki latar belakang, minat, dan pemahaman yang beragam tentang topik tertentu. Beberapa netizen mungkin memiliki pengetahuan mendalam dan pengalaman praktis dalam bidang tertentu, sementara yang lain mungkin hanya memiliki pemahaman permukaan atau bahkan kurang dari itu.

Kepakaran netizen dapat dikenali melalui kualitas konten yang mereka hasilkan atau kontribusikan di dunia maya. Jika netizen secara konsisten menghasilkan konten informatif, relevan, dan terbukti akurat dalam bidang tertentu, maka itu bisa menjadi indikasi kepakaran mereka dalam topik tersebut.

Namun, popularitas atau jumlah pengikut tidak selalu mencerminkan tingkat kepakaran seseorang. Bahkan banyak juga yang meluapkan pendapatnya secara emosional. Oleh Karenanya, waspadai narasi yang tidak berdasarkan pada fakta dan kenali narasi yang penuh emosional. Apakah netizen termasuk pakar?. Bisa iya, bisa tidak.

Ayub Wahyudin
Ayub Wahyudin
Penulis, Corresponding Author, Mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Dosen Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.