Perkembangan teknologi komputer dan sistem informasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Hampir setiap aktivitas sehari-hari mulai dari bekerja, belajar, berbelanja, hingga berinteraksi sosial bergantung pada sistem digital yang mengolah data secara cepat dan masif. Di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang patut direnungkan bersama: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari kemajuan teknologi komputer dan sistem informasi ini?
Dalam praktiknya, sistem informasi dirancang untuk mengelola data agar menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan. Perusahaan, institusi pendidikan, lembaga keuangan, hingga pemerintah memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kecepatan layanan. Bagi sebagian masyarakat, kehadiran sistem informasi memberikan peluang besar untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup. Namun, bagi kelompok lain, kemajuan ini justru terasa menjauhkan dan sulit diakses.
Di sektor ekonomi, teknologi komputer dan sistem informasi menjadi tulang punggung berbagai inovasi digital. Pelaku usaha dapat memantau perilaku konsumen, mengelola stok barang, serta merancang strategi pemasaran berbasis data. Keputusan bisnis yang sebelumnya bergantung pada intuisi kini dapat dibuat secara lebih terukur. Konsumen pun diuntungkan melalui kemudahan transaksi, pilihan produk yang beragam, serta layanan yang semakin personal. Akan tetapi, keuntungan ini umumnya lebih dirasakan oleh pihak yang memiliki akses teknologi dan literasi digital yang memadai.
Sementara itu, dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, sistem informasi turut membentuk pola perilaku baru. Aplikasi navigasi menentukan rute perjalanan, platform digital memengaruhi pilihan konsumsi, dan media sosial membentuk arus informasi yang dikonsumsi publik. Tanpa disadari, keputusan individu semakin sering dipengaruhi oleh sistem yang bekerja di balik layar. Kondisi ini menempatkan masyarakat pada posisi yang tidak selalu setara, terutama ketika logika algoritma tidak sepenuhnya dipahami oleh penggunanya.
Masalah mulai muncul ketika akses terhadap teknologi komputer dan sistem informasi tidak merata. Kesenjangan digital masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur dan ekonomi. Kelompok masyarakat yang tertinggal aksesnya berisiko semakin terpinggirkan karena banyak layanan publik dan peluang ekonomi kini bergeser ke ruang digital. Dalam situasi ini, teknologi yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru berpotensi memperlebar jurang sosial.
Selain soal akses, isu literasi informasi juga patut mendapat perhatian. Tidak semua pengguna memahami bagaimana data mereka dikumpulkan, diolah, dan dimanfaatkan. Ketergantungan pada sistem informasi tanpa pemahaman kritis dapat membuat masyarakat rentan terhadap manipulasi data, penyalahgunaan informasi pribadi, hingga penyebaran informasi yang menyesatkan. Keuntungan teknologi akhirnya lebih banyak dinikmati oleh pengelola sistem, sementara pengguna berada pada posisi yang kurang berdaya.
Di sisi lain, pemerintah dan institusi publik semakin mengandalkan sistem informasi dalam pengambilan kebijakan. Data kependudukan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi menjadi dasar perencanaan pembangunan. Jika dikelola dengan baik, sistem ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik. Namun, tanpa transparansi dan akuntabilitas, keputusan berbasis data berisiko mengabaikan konteks sosial dan kebutuhan kelompok rentan.
Melihat kondisi tersebut, penting untuk menempatkan teknologi komputer dan sistem informasi dalam kerangka kepentingan masyarakat secara luas. Literasi digital dan literasi data perlu diperkuat agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi mampu memahami dan mengkritisi sistem yang memengaruhi kehidupan mereka. Di saat yang sama, pengembang dan pengelola sistem informasi memiliki tanggung jawab etis untuk memastikan teknologi digunakan secara adil dan inklusif.
Pada akhirnya, teknologi komputer dan sistem informasi bukanlah entitas netral yang secara otomatis membawa manfaat bagi semua pihak. Keuntungan dari kemajuan teknologi sangat bergantung pada siapa yang memiliki akses, kendali, dan pemahaman atasnya. Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana mengembangkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan pun menjadi refleksi penting agar transformasi digital tidak kehilangan arah sosialnya.
