Senin, Mei 17, 2021

Tan Malaka Membangun Peradaban

Freeport Di Mata Rocky Gerung, Profesor Ahli Kedunguan

Gambar di atas mungkin bagi sebagian orang dianggap lucu. Bagi saya, bila Rocky Gerung berpendapat begini, saya menyatakan bahwa Rocky Gerung benar-benar merupakan seorang...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

Youtuber Bikin Prank Ojol untuk AdSense?

Youtube menjadi situs yang populer, karena semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi content creator atau pembuat konten yang kreatif kemudian di-upload di...

Puisi Sukmawati: Sastra sebagai Media Penghinaan?

Sastra sampai saat ini masih dijadikan media paling tepat dalam mengungkapkan ekspresi penulisnya. Menjadi media paling halus untuk berkomunikasi, mengkritik, dan menyampaikan hikmah-hikmah terhadap...
Arsi Kurniawan
Minat kajian demokrasi dan civil society

Bisa dibilang sosok Tan Malaka dalam lanskap politik Indonesia mulai meredup bahkan menghilang sama sekali. Tidak seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Syhjarir dan para founding father yang lain, Tan Malaka hampir-hampir terlupakan. Lanskap politik kita jarang menyentil nama Tan Malaka dalam arus politik dan demokrasi.

Sementara jika kita kembali ke gagasan awal pembentukan negara, Tan Malaka merupakan orang yang sudah memperkenalkan konsep Republik. Artinya, konstruksi berpikir Tan Malaka dalam khazanah ilmu politik sudah mengemuka dan santer. Namun seolah semuanya buyar dan terpinggirkan dari ingatan bangsa.

Kontribusi Tan Malaka bagi kemerdekaan Indonesia sangat besar nilainya. Dengan perjuangan bawah tanah, Tan Malaka turut serta memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Meskipun dirinya berkali-kali di buang di luar negeri, tetapi semangat untuk membela kemerdekaan tetap menjadi prioritas seorang Tan Malaka.

Di dalam negerinya sendiri, Tan Malaka harus rela di penjara berkali-kali. Tetapi semangat patriotisme dan nasionalisme tetap menjadi basis keutamaan dalam garis perjuangannya. Seolah semua perjuangannya betul-betul dilakukan atas rasa kecintaan pada Indonesia. Ini dilakukan tidak skedar mencari sensasi untuk meraup kekuasaan, tetapi dilakukan atas kesadaran dirinya bahwa bangsa Indonesia harus merdeka.

Dari sanalah Tan Malaka mendobrak segala penindasan hak kemanusiaan bangsa yang baginya sangat merusak peradaban kemanusiaan. Menurutnya, peradaban bangsa Indonesia harus kita perjuangkan meskipun disana-sini tantangan kian besar bahkan menghancurkan hidupnya sendiri.

Sampai wafatnya pun, Tan Malaka tetap hidup seorang diri sebagai pejuang yang dengan tabah dan berani berjuang bagi kemerdekaan. Baginya berjuang untuk bangsa tidak boleh dibebankan oleh apapun, bahkan harus meninggalkan keluarga, teman dan orang-orang yang dicintainya. Itulah mengapa seluruh hidup Tan Malaka dititahkan demi bangsa Indonesia.

Sampai di sini saya bisa memahami (meskipun sebagian) perjuangan Tan Malaka bagi kemajuan dan peradaban. Bahkan saya belum mampu menelaah dan mengkritisi lebih jauh intisari berpikir Tan Malaka. Melalui karyanya kita dapat mengetahui bahwa khazanah pengetahuan Tan Malaka begitu luas dan sulit dijangkar oleh pembaca masa kini.

Meskipun dengan luasnya pengetahun itu, Tan Malaka tetap menjadi seorang yang rendah hati. Dengan kalimat yang dilontarkannya, padi tumbuh tidak berisik, merupakan kalimat yang mewakili kerendahan hatinya. Di sini saya mulai bertanya, apakah saya dan masyarakat Indonesia sudah dengan setia meneladani sosok Tan Malaka dalam kehidupan bangsa dan kemajuan peradaban?

Ketidakseriusan Bangsa

Melalui keputusan Presiden No. 53 Tahun 1963, pemerintah telah mengangkat sosok Tan Malaka sebagai pahlawan Nasional. Namun keputusan tersebut seolah hanya ingin menyenangkan hati sebagian orang yang betul-betul memahami garis perjuangan Tan Malaka. Karena dalam perjalanan bangsa hingga hari ini, nama Tan Malaka tidak secara serius diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia.

Bahkan buku-buku pelajaran di tingkat sekolah tidak menyentil ataupun memperkenalkan nama Tan Malaka sebagai seorang pahlawan Nasional kepada para siswa. Justeru nama Tan Malaka dibiarkan tanpa ada keseriusan untuk mengenalkannya. Yang ada malah nama itu dijadikan sebagai sumber masalah sehingga tidak pantas diperkenalkan.

Ada anggapan yang muncul di ruang publik, nama Tan Malaka selalu di identikan dengan komunis. Anggapan lain mengatakan, Tan Malaka belum sepenuhnya berjuang bagi kemerdekaan Indonesia tetapi justeru seringkali menjadi penentang terhadap Soekarno dan Mohammad Hatta dalam perjuangan kemerdekaan.

Tetapi terlepas dari kedua asumsi tersebut yang telah membanjiri logika publik, saya pikir kita sebagai bangsa Indonesia belum mampu memahami kualitas berpikir Tan Malaka. Bagi saya meskipun dirinya komunis, tetapi garis perjuangan Tan Malaka tetap membara bagi peradaban Indonesia menjadi bangsa yang mulia dan bermartabat. Garis perjuangan itulah yang menghantarkan bangsa mengkumandangkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Sebetulnya logika publik selama ini terhadap Tan Malaka terjebak pada sikap ketidakpastian untuk mencari dan memahami dengan utuh pemikiran dan perjuangan Tan Malaka. Malah justeru yang ada kita mudah dijejal oleh logika yang menempatkan Tan Malaka sebagai seorang musuh. Ketika logika ini membanjiri ruang publik, kita malah ikut-ikutan untuk mendukungnya tanpa mengakaji, menganalisis kebenaran logika tersebut.

Di sini semakin mempertegas bahwa kita tidak serius menjadikan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Seolah hanya beberapa nama yang pantas untuk mendapatkannya, sementara Tan Malaka sama sekali kita robohkan dengan menempatkan dirinya sebagai musuh yang harus dijauhi.

Saya pikir logika seperti ini tidak akan membuat kita menjadi bangsa yang besar. Karena bangsa yang besar merupakan bangsa yang tidak akan melupakan para pahlawan. Di titik seperti ini, nama Tan Malaka harus tetap menjadi basis bagi bangsa dan utamanya peradaban.

Meskipun kita tahu bersama, Tan Malaka ‘mungkin’ tidak mengharapkan bahwa bangsa yang diperjuangkannya menempatkan namanya dalam satu dari sekian pahlawan nasional, tetapi merupakan tugas kita untuk merawat pemikiran dan meneladani kerendahan hati yang tetap di junjung oleh Tan Malaka.

Tan Malaka dan Peradaban

Telah saya kemukakan bahwa sosok Tan Malaka selain sebagai pemikir dan pejuang bagi kemerdekaan, namun merupakan sosok yang berusaha memperjuangkan peradaban Indonesia. Menurutnya (dalam buku Madilog dan Autobiografi dari penjara-ke penjara) peradaban bangsa merupakan hal utama yang harus senantiasa diusahakan.

Karena baginya, meskipun kemerdekaan Indonesia telah kita raih, tetapi selama peradaban kita masih dikekang, selama itu pula kemerdekaan hanya akan sia-sia. Untuk itu, membangun peradaban bangsa merupakan satu tugas berat yang tidak mudah dilakukan. Karena di sana akan ada beragam pertaruhan untuk memperjuangkan martabat bangsa dari segala penindasan.

Tetapi jika kita hanya berdiam dan terlelap dalam sikap kesenangan diri, peradaban bangsa justeru mudah dihancurkan tanpa kita sadari. Tan Malaka telah menunjukan bahwa geliat untuk berjuang membangun dan mengusahakan peradaban harus dimulai dari sikap kesadaran diri bangsa. Karena dengan itu bangsa di masa depan tidak mudah diombang-ambing dan dicabik-cabik oleh siapapun, karena bangsa itu sendiri telah membangun basis yang paling kuat yaitu peradabannya sendiri.

Peradaban itulah yang harus kita usahakan dan perjuangkan kepada generasi bangsa. Kita harus bisa mewariskan sebuah peradaban yang maju bagi kemajuan bangsa dan generasi Indonesia. Karena dengan corak tantangan yang semakin kompetitif, peradaban yang sudah mapan akan dengan mudah berdaya saing dalam arus global.

Dari sini muara pemikiran dan perjuangan Tan Malaka betul-betul digariskan bagi bangsa Indonesia. Dengan cara itu kemajuan bangsa bisa kita raih tanpa menghilangkan peradaban asli bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, Tan Malaka merupakan sosok yang telah menyumbang bukan hanya perjuangan tetapi pemikiran yang sangat bernas bagi kemajuan bangsa dan eksistensi bangsa.

Arsi Kurniawan
Minat kajian demokrasi dan civil society
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.