OUR NETWORK
Minggu, September 19, 2021

Tak Ada Rasa Aman Mengantre Vaksinasi

Avatar
Khosy Mawar Sani
Lulusan Sarjana Sosiologi yang belajar menulis dan mempublikasinya. Tertarik dengan isu-isu gender, media dan suka sekali nonton film.

Tepat pada tanggal 17 agustus saya bersama keluarga mendaftarkan diri untuk vaksin dosis pertama di kecamatan tempat kami tinggal. Pendaftar dibatasi hanya 100 orang per desa dengan jumlah warganya lebih dari 1000 warga. Pembatasan tersebut disinyalir karena minimnya kuota vaksin di kabupaten kami, madiun. Ketika teman-teman saya sudah selesai vaksin dosis kedua, saya baru berangkat untuk vaksin dosis pertama.

Tak hanya sampai di situ saja, pada hari vaksin dilaksanakan terjadi penumpukan sehingga menimbulkan kerumunan di kantor desa tersebut. Berhasil divaksin yang harusnya menciptakan ketenangan justru berbuah ketakutan karena antrean warga yang berdesak-desakan.

Apakah fenomena tersebut hanya terjadi di kawasan tempat tinggal saya? Tentu saja tidak.

Dilansir dari surabayapagi.com (https://m.surabayapagi.com/read/antrian-vaksinasi-di-polres-tanjung-perak-berujung-kerumunan) hal serupa juga terjadi. Tepatnya di polres tanjung perak antrean vaksi dengan sistem drive thru menimbulkan kerumunan yang justru berpotensi menambah kluster baru di surabaya.

Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah terkait pendistribusian vaksin agaknya kurang maksimal. Selebihnya antusiasme warga, rasa aman dan kepercayaan warga harus runtuh ketika datang ke tempat vaksin dan khawatir akan terpapar covid-19 karena kerumunan yang ditimbulkan.

Padahal sebetulnya perasaan aman dan nyaman diperlukan untuk menciptakan perasaan tenang pada masyarakat. Karena esensi dari pelayanan publik adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga mencapai titik rasa puas. Walaupun warga berasal dari latar belakang yang berbeda, tapi mereka harus sampai pada rasa “cukup” atas pelayanan yang diberikan (Defrika, 2015). Sehingga dibutuhkan birokrasi yang kompeten dalam pendistribusian vaksin covid-19 ditiap lini masyarakat.

Ditakutkan jika rasa tidak aman apabila terpapar virus covid tidak sebanding dengan rasa aman setelah bervaksin. Terlebih diskursus di media terkait efek vaksinasi begitu banyak dan menjadi alasan beberapa warga memilih anti vaksin. Bagaimana tidak jika berita hoax bertebaran di media menimbulkan gelombang ketakutan bagi warga yang minim edukasi vaksinasi covid 19.

Sudah khawatir dengan berita bohong tentang efek vaksinasi covid malah ditambah takut terpapar covid ketika vaksinasi di lapangan.

Sepertinya selain menyiapkan pelayanan publik yang maksimal, pemerintah perlu menyiapkan atribut lain sebagai langkah preventif pencegahan covid 19. Maksimalisasi penyaringan data penduduk yang berhak mendapat vaksin dari skala prioritas hingga mayoritas, memberi tindak tegas bagi oknum yang menyebarkan berita hoax dan memberi edukasi maksimal tentang pendaftaran vaksinasi sampai jenis-jenis vaksin adalah beberapa atribut yang menjadi pelengkap

Sebetulnya pemerintah kita bisa mencontoh sistem distribusi vaksin di Amerika Serikat. Vaksin didistribusikan dengan sistem drive thru, home calling (memanggil petugas medis untuk datang ke rumah) dan datang ke pusat medis seperti klinik atau rumah sakit. Bahkan untuk penyandang disabilitas dapat menguhubungi petugas medis terdekat untuk kemudian dilakukan suntik vaksinasi di rumah masing-masing (https://www.co.fresno.ca.us/departments/public-health/covid-19/covid-19-vaccine-information).

Mungkin terlalu jauh jika kita membandingkan pelayanan publik di indonesia dan amerika serikat. Tapi untuk kasus-kasus darurat seperti vaksinasi covid-19 seharusnya tiap negara maksimal dalam pelayanan pada masyarakat. Meminta pelayanan lebih kepada petugas medis juga menjadi kebimbangan mengingat upaya dan tenaga mereka yang maksimal. Sehingga perlu sinergitas banya pihak untuk mengapresiasi perjuangan dan pengorban para petugas medis covid-19.

Tidak hanya pelayanan dari pegawai pemerintah kepada masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih. Selebihnya pelayanan dari pemerintah (pemangku kebijakan) kepada para pegawai juga perlu dimaksimalkan. Tiap hari para nakes terutama, harus berhadapan dengan warga yang mungkin satu di antaranya terindikasi terpapar virus. Kita tidak pernah tahu mungkin orang yang berjalan beriringan dengan kita di tempat umum adalah carrier virus.

Kesejahteraan pegawai menjadi poin penting sebagai upaya apresiasi kepada para petugas medis. Selebihnya seperti rasa aman dan nyaman sudah disokong dengan penggunaan APD lengkap dan upaya jaga jarak yang dibantu oleh petugas yang berwenang. Kesejahteraan pegawai -terutama tenaga kesehatan- menjadi hal paling penting karena apabila kesejahteraan nakes terjamin, maka unsur pendukung lainnya seperti rasa aman dan nyaman juga pasti terpenuhi. Realisasi kesejahteraan nakes sebetulnya sudah tertulis pada UU Nomor 36 Tahun 2004 pasal 57 bahwa tiap tenaga kesehatan berhak untuk mendapat pelindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai agama.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah petugas kesehatan sudah mendapat perlindungan dan perlakuan yang sesuai dengan etika kemanusiaan? walaupun petugas medis memiliki kewajiban dan tanggung jawab kepada pasien dengan menyelamatkan nyawa mereka, bukan berarti kesejahteraan para nakes dapat dikesampingkan. Menurut catatan Laporcovid-19 pada tahun 2020 ada 509 nakes yang meninggal karena terpapar virus ganas covid-19.

Hal ini tentu menunjukkan bahwa nakes dan masyarakat belum mendapat rasa aman, nyaman, perlindungan dan kesejahteraan atas pelayanan yang diberikan. Selebihnya rasa khawatir, takut dan cemas akan terpapar covid karena proses vaksinasi makin kerap dirasakan oleh masyarakat. Tak hanya masyarakat pada umumnya, nakes pun ikut was-was karena pekerjaan di lapangan yang mengharuskan mereka untuk berkerumun.

Ref:

Defrika, R. Rasa Aman, Profesional dan Kinerja Pelayanan. JIANA (Jurnal Ilmu Administrasi Negara), 13(2), 85-90.

https://m.surabayapagi.com/read/antrian-vaksinasi-di-polres-tanjung-perak-berujung-kerumunan

https://www.co.fresno.ca.us/departments/public-health/covid-19/covid-19-vaccine-information

Avatar
Khosy Mawar Sani
Lulusan Sarjana Sosiologi yang belajar menulis dan mempublikasinya. Tertarik dengan isu-isu gender, media dan suka sekali nonton film.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.