Selasa, April 20, 2021

Surat Terbuka Untuk Sandiaga Uno: Pengibaran Bendera NU Raport Kecil Untukmu

Mau Mengutuk Perayaan Tahun Baru?

Barang pasti, saat mendengar kalimat “Selamat Tahun Baru!” Pikiran orang-orang theisme itu menganggap “Itu bukan perayaan kaumku!”. Bijaknya, kita menghilangkan sensitivitas theisme dulu. Lalu,...

Sejarah Diplomasi dalam Bernegara

Politik adalah alat mengemudi untuk mencapai kekuasaan, untuk mencapai suatu arah yang akan ditempuh. Maka, seorang politisi harus memakan dan mempunyai cara tersendiri untuk...

Saracen, Literasi, dan Distorsi Informasi

Lautan informasi di jagat maya menjadi media strategis sindikat Saracen dalam mencampur-adukan “yang fakta” dan “yang hoaks”. Kenyataan itu merupakan konsekuensi logis atas literasi...

Cara Dunia Hiburan Mencipta Mitos

Masih ingat ketika Iwan Fals bertransformasi di tahun 2012 lalu? Setelah lama tak ada kabar, tiba-tiba muncul sebagai pengiklan sebuah merk baru kopi instan. Pastinya...
Asyari Attangkeli
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen Studi Agama & Kearifan Lokal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri

Halo Pak Sandi, perkenalkan nama saya Asyari, lahir di Pamekasan dan menikah dengan gadis cantik, baik hati alias sholehah Jember. Bapak Sandiaga Uno yang saya hormati tapi maaf saya tidak bisa ta’dhim pada anda.

Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa saya bukan sosok yang lebih warga negara dari warga negara, bukan pula sosok yang lebih NU (Nahdlatul Ulama) dari NU, saya hanya warga negara biasa dan juga semoga diakui sebagai warga NU karena secara, saya tidak punya kartanu (kartu anggota NU) sebagaimana anda.

Sebagai warga negara, saya pun sebenarnya bukan sosok yang nasionalis, karena saya tidak seperti pasangan anda, pasangan capres anda maksudnya, bukan pasangan yang lain, ketua partai anda yang punya lahan hak guna seluas kurang lebih 340.000 Ha., tidak usah terlalu dipikirin tentang lahan, karena pasangan ana sendiri yang mengatakan bahwa beliau nasionalis ketika menjelaskan tentang lahan itu. Saya sampai detik ini, sampai saya menikah, saya ngampung ke mertua saya.

Sebagai warga NU, insyaAllah, saya sebenarnya hanya sok-sokan saja bilang warga NU, lha, bagaimana mungkin saya NU wong nyantri saja tidak pernah, baca kitab kuning pernah tahu tapi sekarang sudah lupa, anggap saja sudah tidak tahu apalagi memahaminya, tashrifan hanya tahu 1-3 baris, makanya saya tidak mungkin lebih NU dari NU bahkan saya sendiri tidak tahu saya NU apa bukan.

Saya menulis surat terbuka ini, anggap saja saya sebagai orang yang ngaku warga NU karena pernah ikut diklat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia 2009 tahun silam, yang disana diperkenalkan tentang apa NU dan kebetulan saya mengenal sedikit banya mengenal NU.

Secara singkat mungkin itu saja narasi muqaddimah dari saya tentang saya kenapa saya harus menulis surat terbuka ini kepada anda yang katanya anda mempunyai Kartanu sehingga merasa punya hak untuk mengibarkan bendera NU pada acara kampanye anda di Lumajang beberapa hari yang lalu (06/04).

Kenapa anda tidak mengibarkan bendera NU Garis Lurus saja, atau bendera Nahdlatul Umat, kan sama-sama NU, sama-sama menggunakan simbol dan nuasa keNUan, atau sebagai masukan dari saya, kenapa anda tidak mengibarkan bendera liwa dan ar royah saja, bendera hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid, yang secara tegas dan terbuka memberikan dukungan pada anda?, bukankan bendera-bendera itu lebih keren dan istimewa bagi para pendukung anda.

Begini pak Sandi, saya baca di media, pengibaran bendera NU yang anda lakukan tidak ada dalam rencana panitia, lantas itu rencana siapa?, saya hanya menemukan jawaban melalui berkomentar anda di video detik.com “kami banyak sekali bertemu dengan elemen masyarakat rapat umum, diminta-minta untuk memegang bendera NU dan saya sendiri adalah anggota NU, saya memegang Karta NU dan saya kan “Uno”, Uno kan singkatan Untuk Nahdlatul Ulama,…..” dan diakhir statement anda, anda mengatakan “NU untuk semua golongan, masak seorang anggota NU tidak boleh membawa bendera NU”.

Saya ingin memberikan rapor kepada anda terkait komentar anda, elemen masyarakat yang anda maksud di rapat umum itu siapa, karena menurut hemat saya, waktu rapat umum entah kepanitiaan atau rapat apapun terkait kemenangan anda, tidak ada pengurus NU, lantas elemen masyarakat mana, siapa yang meminta anda memegang bendera NU di atas penggung itu? Apa mereka yang selama ini ngaku NU tapi sering menggembosi NU, atau mereka yang selama ini mengaku NUnya mbah Hasyim, bukan NU yang sekarang dan seterusnya?

Selanjutnya tentang kartanu anda, meskipun saya ragu anda punya kartanu, tapi tak apalah saya husnuzzhan saja, oke anda punya, saya hanya ingin komentar, “berarti ada gunanya kartu ya bukan karena ingin main kartu, berarti deal, kartu ada gunanya, maka jangan banyak nyinyir dengan program yang dikartukan”

Terkait NU untuk semua golongan, saya sebagai warga yang sok NU, saya belum pernah lihat jangankan bendera NU, orang yang beneran NUnya, tidak akan ada di acara kelompok yang mengusung ideologi khilafah, mencatut NU untuk kepentingan pribadi dan golongan. Jika narasi NU untuk semua golongan, apakah anda sebagai warga yang punya Kartanu juga akan membawanya ke acara yang saya sebutkan di atas?

Yang terakhir, masak seorang anggota NU tidak boleh membawa bendera NU kayaknya merupakan statement yang bisa dikatakan konyol. Setahu saya, anda juga anggota partai gerindra, coba anda bawa ke sekolah-sekolah, lembaga pendidikan, atau bawa bendera partai ke rumah sakit, atau, karena sekarang sedang musim pemilu, coba bawa bendera partai anda ke tempat kampanye 01.

Jika boleh, berarti setiap anggota NU boleh membawa bendera NU kemana saja, tapi jika tidak boleh bawa bendera ke tempat-tempat itu meskipun anda anggota partai, berarti sama memang tidak semua anggota organisasi, organisasi apapun untuk membawa benderanya semaunya sendiri.

Asyari Attangkeli
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen Studi Agama & Kearifan Lokal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.