Selasa, Juli 23, 2024

Siswa yang Main di Kampus

Lamzi Kaidar
Lamzi Kaidar
Alumni Fakultas Hukum. Pemerhati Dinamika Politik Indonesia

Setiap manusia terlahir di dunia ini mempunyai peranannya masing-masing sebagai status dalam hidupnya. Peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pemain. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto peran diartikan sebagai aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa peran adalah pelaksanaan hak dan kewajiban yang ada pada seseorang sesuai dengan kedudukannya (status). Dengan demikian peran menentukan apa yang harus diperbuat oleh seseorang dan kesempatan apa yang diperolehnya.

Apabila seseorang paham akan peranan dalam mengisi posisi atau kedudukan, dan melaksanakan hak dan kewajibannya maka ia menjalankan peranannya dengan baik atau ideal.

Sebagai contoh klub sepak bola yang akan bertanding dengan lawannya, pasti sudah menyusun formasi dengan rapih dan sudah ditentukan siapa yang menjadi penyerang, menjaga pertahanan, dan penjaga gawang.

Setelah peluit tanda dimulainya pertandingan berbunyi mereka sudah menempatkan diri pada peran atau posisinya masing-masing, siapa yang menjadi penyerang, menjaga pertahanan, dan penjaga gawang. Apabila peran sudah diisi dan dijalankan sampai pertandingan selesai maka masing-masing sudah paham peranannya dalam bermain sepak bola.

Namun akan rancu jika masing-masing pemain tidak tahu posisi dan peranannya, pertandingan akan berjalan tidak lancar bahkan akan menemukan masalah. Seorang penjaga gawang yang seharusnya stand by menjaga gawang tetapi malah ikut menyerang pertahanan lawan, maka ini bukan malah membantu tapi akan membahayakan pertahanan klubnya sendiri. Begitupun sebaliknya seorang penyerang tidak bisa ikut menjadi penjaga gawang yang dapat menangkap bola karena akan sama membahayakan klubnya sendiri.

Jadi yang dibutuhkan dalam pertandingan sepak bola adalah saling memahami posisi atau peranannya yang telah ditetapkan sehingga akan terjalin kerja sama tim yang baik, karena pembagian peran ini merupakan bagian dari strategi bertanding.

Begitu pun dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai seorang mahasiswa, tentunya ada beban yang harus ditanggung atas peran atau statusnya sebagai mahasiswa. Peran ini yang mesti disadari dari awal oleh mahasiswa agar dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat.

Penyadaran peran dari awal ini dimaksudkan agar proses peralihan dari kebiasaan-kebiasaan sewaktu menjadi siswa (yang tidak sesuai dengan peran mahasiswa) tidak lama membekas dan dibawa dalam dunia mahasiswa, maka dari itu mulailah menyesuaikan diri sedari awal, sehingga dapat secepat mungkin menjiwai peranannya.

Lalu apa sebenarnya peranan dari seorang mahasiswa? Disamping memiliki tugas untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah yang disampaikan oleh dosen dikelas, seorang mahasiswa punya tugas lain sebagai manifestasi peran seorang mahasiswa, yaitu:

Agent Of Chang (Agen Perubahan)

Sebagai agent of chang mahasiswa harus bertindak sebagai pemicu perubahan-perubahan yang berdampak positif untuk masyarakat. Mahasiswa dikatakan sebagai manusia terdidik dituntut untuk melakukan perubahan terhadap permasalahan yang ada dihadapannya. Sehingga sebagai seorang “agen” dimanapun seorang mahasiswa berada harapannya dapat membawa perubahan yang lebih baik.

Social Control (Kontrol Sosial)

Mahasiswa sebagai social control harus bisa mengamati dan mengkritisi apa yang terjadi di masyarakat, baik masyarakat di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. Mahasiswa mempunyai kontrol terhadap permasalahan yang ada di masyarakat. dengan demikian mahasiswa harus melatih kepekaan terhadap lingkungan beserta permasalahannya.

Iron Stock (Cadangan Masa Depan)

Seorang mahasiswa sebagai kaum terpelajar yang notabene memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan lebih diharapkan juga memiliki akhlak atau perilaku yang baik, karena mahasiswa akan menjadi generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus, maka bagaimana kondisi mahasiswa sekarang menjadi penentu generasi mendatang. Jadi mahasiswa harus memiliki kemampuan intelektual dan juga akhlak atau perilaku yang baik untuk stok masa depan bangsa.

Moral Force (Kekuatan Moral)

Mahasiswa sebagai seorang intelektual, dianggap sebagai seorang yang memiliki moral yang baik, oleh karenanya moral mahasiswa dalam kehidupan disejajarkan dengan tingkat intelektualnya, jadi dapat dikatakan bahwa jika intelektual mahasiswa tinggi maka baik pula moralnya, begitu kira-kira. Dengan demikian mahasiswa dituntut memiliki moral yang baik disamping intelektualnya yang tinggi dan menjadi motor penggerak perbaikan moral di masyarakat.

Guardian Of Value (Penjaga Nilai)

Banyak nilai-nilai luhur yang sudah luntur dan merusak tatanan di negara kita, diantaranya nilai kejujuran, keadilan, empati, gotong-royong dan lain sebagainya. Jika kondisi mahasiswa sekarang menjadi penentu bangsa Indonesia ke depan, maka mahasiswa saat ini mesti menjaga nilai-nilai diatas kembali luhur supaya generasi pemimpin bangsa ke depan dapat memperbaiki kerusakan bangsa kita.

Setidaknya disamping belajar, kelima peranan diatas menjadi kewajiban yang harus dipikul mahasiswa sebagai konsekuensi logis atas statusnya sebagai mahasiswa.

Namun bagaimana jika selama menjadi mahasiswa tidak menyadari atau bahkan tidak tahu peranannya sebagai mahasiswa? Tentu hampir sama yang terjadi dengan contoh sepak bola diatas. Akan rancu jadinya manakala mahasiswa tidak menjalankan peranannya.

Yang mestinya mahasiswa bergerak ketika kebijakan pemerintah atau kampus merugikan banyak orang, tetapi malah acuh dan cenderung apatis. Yang mestinya mahasiswa mencari tau permasalahan suatu desa dan memberi solusi, tetapi malah di sibukkan dengan gawai dan game onlinenya. Jika yang terjadi demikian maka apakah mahasiswa menjalankan perannya? Of course you know the answer.

Seorang mahasiswa yang tidak menjalankan peranannya dapat dikatakan sebagai “siswa yang main di kampus” (kalimat ini saya dapatkan ketika berbincang santai dengan seorang teman bersama secangkir kopi dan rokok). Kalimat yang sangat menggugah dan membuka kesadaran menjadi seorang mahasiswa.

Lalu mengapa disamakan dengan “siswa yang main di kampus?”. Mudah saja, apakah peranan tersebut (Agent of Change, Sosial Control, Iron Stock, Moral Force, dan Guardian of Value) dibebankan kepada siswa? Tentu saja jawabannya “TIDAK”, karena memang bukan tempatnya. Jika siswa bukan tempatnya menanggung peranan tersebut, maka tentu mahasiswa yang menanggungnya. Jadi kalimat “siswa yang main di kampus” disematkan bagi mahasiswa yang belum mengerti dan belum menjalankan peranannya tersebut.

Hal yang menjadikan mahasiswa belum menjalankan peranannya yaitu karena tidak merubah kebiasaan-kebiasaan sewaktu menjadi siswa seperti malas belajar, nge-game seharian, main-main tidak jelas yang hanya membuang waktu, dan lain sebagainya dibawa ke dalam dunia kampus. Oleh karenanya mahasiswa harus bisa merubah kebiasaan buruk tersebut dan segera beradaptasi dengan culture atau dunia perkuliahan.

Mahasiswa yang telah menyadari peranannya dan mampu beradaptasi dengan dunia perkuliahan dengan cepat harapannya bisa menjadi mahasiswa yang benar-benar mahasiswa, mahasiswa yang sanggup memikul tanggungjawab terhadap diri, masyarakat, dan negara.

Status sebagai mahasiswa merupakan posisi yang didambakan banyak sekali orang di luaran sana. Mereka tak bisa merasakan berkuliah karena berbagai kendala, bisa karena faktor ekonomi, kendala keluarga, dan lain-lain. Jadi kita yang diberi kesempatan berkuliah jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini, gunakan peran kita dengan sebaik-baiknya.

Memang terlihat sulit menjadi mahasiswa dengan berbagai peranannya, namun bukan berarti tidak bisa diwujudkan. Dengan sadar peran dari awal, mahasiswa seharusnya dapat lebih semangat belajar, aktif di kampus dan mengikuti organisasi, karena hal ini akan lebih memudahkan kita dalam menjalani peranan kita sebagai mahasiswa, jangan sampai peranan tersebut hanya menjadi hiasan indah tanpa makna.

Dan terakhir, tulisan ini sejatinya sebagai kritik dan refleksi serta untuk bahan muhasabah diri saya sebagai mahasiswa yang masih main-main saja di kampus, belum sepenuhnya menjalankan esensi tanggung jawabnya.

Melalui tulisan ini juga, saya mengajak teman-teman khususnya mahasiswa agar segera merenungi peranan dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan negara, karena permasalahan di depan sedang menunggu kita untuk segera menyelesaikan. Bangunlah dan rebut perubahan.

Lamzi Kaidar
Lamzi Kaidar
Alumni Fakultas Hukum. Pemerhati Dinamika Politik Indonesia
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.