Jumat, April 16, 2021

Siraman rohani yang membengkokkan

Rendahnya Tradisi Tulis-menulis di Pesantren

Di pesantren, ada suatu kecacatan intelektual yang sudah menjadi rahasia umum, yaitu rendahnya tradisi tulis-menulis. Para santri kebanyakan dipaksa untuk menghapal -baik itu yang...

Sapardi, Karyamu Menginspirasi Kami

Saya belum begitu mengenal terlalu dalam sosok dan karya Sapardi Djoko Damono. Karya-karya yang ditulisnya pun Saya belum baca secara utuh, hanya melalui postingan...

Ilmu Mahar dan Pilkada

Calon kepala daerah itu laksana pria yang hendak meminang wanita, butuh mahar. Agar sang belahan jiwa dan atau konstituen tertarik, agar tujuan tercapai, maka...

Ketika Urang Banjar Bertemu Wong Jowo

Indonesia dianugerahi kekayaan budaya yang tak terbendung, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan budaya ini juga melahirkan kekayaan bahasa yang sangat berharga. Hal ini...
Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis

Beberapa hari yang lalu, kita dihadapkan sebuah peristiwa yang mungkin bisa dikatakan kurang sopan bagi sebagian orang. Yaitu tindakan walk out yang telah dilakukan oleh beberapa peserta kolase Kanisius. Tindakan serupa memang tak sepatutnya dilakukan apalagi dalam acara yang sakral seperti itu. Namun, sebagai umat beragama tak sebaiknya kita menilai tindakan tersebut secepat membolak-balikkan sebuah koin. Alasannya sangat sederhana karena tindakan sembrono atau penilaian singkat bisa membawa malapetaka bagi kita umat beragama, dan juga tindakan menghargai sepatutnya kita lakukan.

Dalam tulisan ini, kali ini penulis akan membahas ketika agama disalahgunakan sebagai alat politik. Mungkin kata membengkokkan agak sedikit disederhanakan sebagai cara agar para pembaca mudah menangkap maksud dari tulisan ini.

Di dalam agama tentunya kita sudah tahu bahwa agama memiliki sebuah sarana yang di mana semua merasakan hal yang sama. Itu dirasakan tentunya pada saat kita melaksanakan ibadah. Ibadah pun tentu beragam bentuknya. Ada ceramah, ada juga sembahyang. Namun, adakah siraman rohani yang membengkokkan?

Di dalam agama juga mengajarkan kita bagaimana kita menyingkirkan sifat-sifat hewani kita. Misalnya nafsu, itu tak pernah lepas dalam kajian agama. Nafsu di mata agama pastilah buruk atau mungkin baik tergantung di mana kita menempatkannya. Itulah fungsi agama membuat kita lebih manusiawi dan juga sebagai pembeda identitas kita dari hewan.

Siraman-siraman rohani pada dasarnya berfungsi seperti itu, yaitu memanusiakan diri kita. Tapi perlu dipertanyakan bagaimanakah ‘memanusiakan’ itu. Memanusiakan tentunya berkaitan dengan arahan kita kepada kebaikan. Kebaikan itu sendiri juga beragam bentuknya tapi pada dasarnya bersifat rasional atau masuk akal agar kita setuju dan mau melaksanakan kebaikan tersebut itu.

Agama tidak lain berfungsi sebagai alat untuk menjinakkan nafsu-nafsu liar kita. Jadi sebagai alat penjinak, siraman rohani pun bisa memberikan kita kepada arahan-arahan positif dibandingkan negatif. Misalnya saja waktu saat penulis mengalami suatu kejadian unik. Waktu saat itu penulis berada di masjid besar yang memang notabenenya markas “jamaah tablig”. Sewaktu itu penulis terkejut saat mengetahui seseorang yang sangat rajin beribadah tapi sebenarnya dia baru tobat bahkan tato-tatonya masih kentara di lehernya.

Di sinilah menariknya agama. Agama betul-betul merupakan alat untuk menjinakkan nafsu hewani kita dan lebih mensyaratkan kita kepada kemanusiaan. Jika ada yang masih merasa dirinya memiliki perasaan-perasaan yang liar seperti galau, kesepian, dan segala bentuk macam bentuknya, solusinya tentu terletak pada agama. Nafsu atau gairah-gairah liar itu bisa dijinakkan.

Ada lagi yang lebih menarik dari saat prosesi penjinakan nafsu atau gairah-gairah liar itu. Itu tak lain perubahan dari gairah yang dirasionalisasikan. Sesuatu yang tersembunyi pada prosesi itu tidak lain adalah sebuah kepentingan. Jika kita masih mengalami gairah atau nafsu seperti merasakan kesepian maka itu juga tak lain sebuah kepentingan. Dan ketika agama menjadi solusinya, kepentingan itu pun menjadi kabur.

Siraman-siraman rohani itu pada dasarnya memang sangat baik dalam pembentukan manusia. Namun, ada juga yang menggunakan ini sebagai alat politik. Gairah yang dirasionalkan sudah menjadi alat mendasar bagi mereka yang mau mengadukan kita sebagai umat beragama. Ada yang bahkan menggunakannya sebagai alat bisnis. Misalnya ada umat beragama lain yang ingin menjual usaha atau jasanya, maka umat beragama yang satu malah menjelek-jelekkan karena tak sama agamanya.

Mungkin siraman rohani inilah yang patut kita pisahkan. Dan kebanyakan pesan-pesan rohani tersebut tak lepas dari teknologi. Teknologi sebagai medianya seperti internet tak mengharuskan pembicara dan pendengar harus berada di lokasi yang sama. Sehingga pesannya pun terkesan tak komunikatif. Kita pun gampang diaduk-aduk karena kita tak ketemu langsung. Bahkan ada sesuatu kata yang sangat mendasar memicu gairah kita.

Agama tak seharusnya bersifat ini. Sejak kapan agama yang merasionalkan gairah-gairah kita kepada yang lebih baik justru menjadi perusak kemanusiaan? Apakah ini agama yang merunut pada istilahnya sebagai a (tak) gama (kacau)? Apakah mereka mungkin takut menyebarkan agama yang berbau politis ini ke dalam sesuatu yang real dan lebih merujuk ke teknologi yang sifatnya non-real?

Pertanyaan-pertanyaan itu patut kita jadikan bahan refleksi jika kita menganggap agama bukan alat politik maupun bisnis. Jangan sampai ketika kita mengatakan agama itu tak politis maka kita dengan naifnya menjadikan agama sebagai alat politik secara tak sadar? Apakah kita harus menyalahkan kenaifan itu atau diri kita sebagai pelaku atau korban? Gairah yang berbau kepentingan ini selayaknya dijadikan tempat beradu iman kita kepada kebaikan bukan kepada keburukan.

Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.