Senin, April 19, 2021

Saatnya, Presiden Evaluasi Panglima TNI

Di Balik Meme Celana Cingkrang

Meme, menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji. Terlebih meme yang memuat konten celana cingkrang. Artikel dari Miski yang dimuat di Harmoni Jurnal Multikultural dan...

Peradilan Adat, Kemana Mau Melangkah ?

(Studi Kasus Peradilan Adat Nagari di Sumatera Barat) “Peran adat sudah lama dicabut oleh negara, akibatnya keputusan yang dihasilkan oleh ninik mamak selalu kalah oleh...

Spiritualitas, Kritik Modernisme yang Dangkal

Realitas berjalan begitu cepat, bergulir terus menerus menggilas semuanya yan lambat dan tidak mau bergerak. Modernisme yang menjanjikan kehidupan lebih baik, malah berjalan tanpa...

Pertemuan IMF, Hari Tani, dan Logika pasar

Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan IMF (International Monetary Fund) dan World Bank (Bank Dunia) yang rencananya akan digelar pada 8-14 oktober di bali. Pendanaanpun...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Kerusuhan yang terjadi hingga di Wamena, Jayawijaya, Papua, sebenarnya bukan hal yang sulit untuk diantisipasi bahkan diredakan. Namun pertanyaannya, mengapa kerusuhan itu tidak mampu direda?

Bahkan tidak menutup kemungkinan, hal yang sama akan terjadi di daerah lain. Semoga tidak. Cukup hingga sampai disini saja.

Tentu saja harus ada penanganan yang komperhensif yang dibutuhkan. Bukan penanganan yang sporadis. Yaitu menanti saat kejadian berlangsung.

Inter-koneksitas pola kerusuhan mulai kerusuhan Mei usai sidang MK, kerusuhan Papua di bulan Agustus dan terahkir kerusuhaan Wamena. Sudahlah cukup ini sebuah rangkaian yang sama.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto adalah yang paling bertangung jawab atas kondisi ini. Kondusifitas harus terjaga hingga pelantikan presiden 20 Oktober mendatang. Semua berharap keamanan terus terjaga hingga pelantikan.

Presiden Harus Segera Panggil Petinggi TNI

Tiga kasus besar yang terjadi harus ditanggapi serius oleh Presiden Joko Widodo. Presiden sebagai Panglima Tertinggi TNI, memanggil seluruh Kepala Kesatuan Darat, Laut, dan Udara. Tidak kalah penting para komandan satuan strategis.

Ya, itulah jalan komperhensif untuk menciptakan kondisi keamanaan. Tidak lagi parsial. Tiga kali rangkaian kasus ini sudah cukup membuktikan lemahnya koordinasi di tubuh TNI.

Situasi nasional dalam transisi pergeseran sangat syarat dengan kompleksitas motif. Apalagi pemilu 2019 ini. Yang oleh beberapa khalayak pemilu paling fenomenal setelah reformasi.

Pemilu 2019, tidak bisa dipandang mekanisme suksesi belaka. Tapi pergeseran tata nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak bisa dipandang partial oleh aparat keamanaan.

Sementara itu, para pelaku kerusuhan harus segera diproses hukum. Jangan dibiarkan mereka berkeliaraan.

Sebenarnya, para pelaku kerusuhan kerusuhan 22 Mei lalu, sudah terindintifikasi.  Sudah pula dalam proses penyidikan.

Dari rangkain kasus Mei,  sebenarnya sudah diketahui motifnya. Tidak jauh dengan hasil Pilpres. Meski dalam kacamata awan proses demokratis sudah rampung. Hingga proses rekonsiliasi mereka yang berkompetisi duduk satu meja.

Tapi bagi para petinggi TNI pasti memahami, motif-motif lain dalam proses demokrasi. Sehingga bisa menarik benang merah. Kalau rangkaian kerusuhaan ini motifnya penggagalan pelantikan presiden.

“Para perusuh harus segera ditangkap,” begitu pernyataan mantan Kepala BIN Jenderal Purnawirawan AM. Hendropriyono saat menghadiri uparacara peringatan HUT TNI 5 Oktober lalu.

Tentu saja itu bukan isapan jempol belaka. Ini sebuah early warning situasi nasional menjelang pelantikan.

Apakah aparat keamanaan tidak mampu?

Oh, tidak. TNI kita sangat bisa diandalkan. Dan masyarakat masih bisa berharap kepada TNI. Misalnya: Kopassus yang punya Sandi Yudha yang punya kemampuan kerja intelejen. Sehingga mampu mengantisipasi terjadinya kerusuhan.

Eksperimental dalam situasi kritis sangat besar resikonya. Kesatuan-kesatuan yang sudah siap dan berpengalamanlah yang saat ini dibutuhkan.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.