OUR NETWORK
Selasa, Oktober 4, 2022

Religiusitas dalam Karya Sastra

Annisa Dwi Ayuningrum
Annisa Dwi Ayuningrum. Lahir di Tegal dan besar di Jakarta Utara. Man jadda wa jadda moto hidupnya. Tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Religiusitas pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan sastra. Pendapat ini sejalan dengan banyaknya karya sastra yang memuat nilai-nilai agama. Sastra dengan agama saling berkaitan. Pernyataan tersebut diperkuat oleh pendapat Atmosuwito dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Anwar Syi’aruddin, yang mengatakan bahwa sastra juga merupakan bagian dari agama.

Pernyataan Atmosuwito tersebut semakin menegaskan bahwa dalam karya sastra terkandung adat dan istiadat, serta kepercayaan. Kandungan tersebut timbul karena seorang penulis karya sastra merupakan makhluk sosial dan dari pengalamannya akan mempengaruhi karya-karya yang dihasilkan.

Karya sastra dalam unsur agama hingga saat ini tidak pernah surut. Hal tersebut malah menumbuhkembangkan pemikiran-pemikiran baik yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap Tuhan maupun tradisi yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini karya sastra berperan penting dalam mengajarkan nilai-nilai religius yang menekankan pada nilai-nilai ajaran agama dan norma-norma yang ditulis oleh penulis dalam karyanya.

Pernyataan tersebut selaras dengan yang diungkapkan oleh Mangunwijaya (1982) dalam penelitian Transformasi Nilai-Nilai Ajaran Islam dalam Karya Sastra oleh Mohammad Anwar Syi’aruddin yang mengatakan bahwa setiap karya sastra yang berkualitas selalu berjiwa religius. Pendapat tersebut semakin memperkuat bahwa karya sastra didalamnya terkandung nilai, agama, dan norma.

Ketika membicarakan sastra dengan agama, maka adanya keterkaitan antara pengaruh agama dengan penulisnya yang tidak lepas dari nilai-nilai dan norma-norma dari sumber ajaran agama yang dianutnya. Ciri-ciri karya sastra yang berkaitan dengan agama yaitu, isinya berhubungan dengan agama dan yang paling penting adalah penulisnya ahli dalam beragama.

Pengaruh agama dalam karya sastra dapat dilihat dari peran dan fungsinya di dalam masyarakat. Fungsi sosial dan agama dapat dilihat dari seberapa banyak penulis menggunakan kalimat dan kata dalam agama islam, serta isi yang berkaitan dengan ajaran islam. Fungsi tersebut sangat besar manfaatnya bagi masyarakat dan bagi pembacanya.

Sastra yang memiliki konsep islam banyak ditulis oleh penulis-penulis di Indonesia. Sastra islam memiliki hubungan antara budaya dan nilai-nilai agama yang didalamnya terdapat unsur-unsur moralitas.

Keberadaan sastra islam berbeda dengan sastra Timur, sastra Amerika, sastra Arab, dan sastra Barat. Keberadaan tersebut menjelaskan bahwa adanya batasan geografis dan kecenderungan bahasa. Di Indonesia sastra islam sudah ada sejak abad ke-14, bersamaan dengan meluasnya pengaruh islam di Nusantara, pendapat tersebut dikemukakan oleh Abdul hadi W.M. Pada mulanya Indonesia saat itu adalah melayu sehingga dikenal dengan sebutan Kesusastraan Melayu Islam.

Unsur moralitas dalam karya sastra mampu memberikan pengetahuan yang bersifat mendidik yang didalamnya islam dijadikan sebagai sumber pedoman hidup manusia. Sumber penulisan karya sastra merupakan realitas kehidupan masyarakat di Indonesia yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist. Oleh karenanya prinsip-prinsip moralitas sangat ditekankan pada kehidupan masyarakat yang dijadikan sebagai pelindungnya.

Nilai-nilai moral melingkupi nilai moral ketuhanan, individual, dan sosial. Hal tersebut senada dengan pernyataan Poespoprojo yang menjelaskan bahwa moral adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang bersifat normatif, yang dapat dikatakan bahwa perbuatan itu baik atau buruk.  Nilai moral ketuhanan merupakan nilai moral yang menyangkut antara manusia dengan Tuhan. Sedangkan Nilai individual merupakan nilai moral yang menyangkut antara manusia dengan kehidupan pribadinya.

Lahirnya karya sastra dalam islam merupakan penyebaran karya sastra yang menjadi bagian penting dalam upaya pencerahan nuraninya masyarakat. Nilai-nilai ajaran islam yang dimuat dapat berupa suatu perilaku yang baik, pantas, dan berharga yang terkonsep dari rukun islam dan rukun iman yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist nabi. Selain dalam karya sastra novel, nilai-nilai ajaran islam juga termuat dalam karya sastra syair yang kemudian dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu ajaran ibadah, ajaran akidah, dan ajaran akhlak.

Ajaran tentang ibadah yaitu mengajarkan tentang keesaan Allah, ajaran tentang akidah yaitu mengajarkan tentang ibadah yang didasarkan hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah, dan ajaran akhlak yaitu mengajarkan manusia tentang berperilaku dan bersikap baik sesuai dengan normanya.

Berikut nama-nama sastrawan yang menjadi penggiat kelahiran religiusitas dalam karya sastra yang cukup terkenal beserta karyanya, antara lain: Hamzah Fansuri (Syair perahu), Bukhari al-Jauhari (Taj al-Salatin), Syamsudin Sumatrani (Jawhar al-Haqa’ig, Syarah Sya’ir Ikan Tongkol, dan Thariq al-Salikin), Nuruddin al-Raniri (Bustan al-Salati, dan Shiratul Mustaqim), Hamka (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah), Habiburrahman El Shirazy (Ayat-Ayat Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Berbuah Surga, Ketika Cinta Bertasbih, dan Dalam Mihrab Cinta), Asma Nadia (Emak Ingin Naik Haji, Assalamualaikum Beijing, dan Surga yang Tak Dirindukan), Helvy Tiana Rosa (Ketika Mas Gagah Pergi, Jejak-Jejak Mas Gagah 2, dan Ketika Mas Gaga Pergi dan Kembali), dan Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara, Anak Rantau, Rantau 3 Warna, dan Rantau 1 Muara).

Sastrawan tadi hanya sedikit dari banyaknya kalangan sastrawan yang menjadi penulis karya sastra yang bertemakan agama. Dari nama-nama sastrawan tadi dapat diketahui bahwa religiusitas dalam karya sastra mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dan dengan eksistensinya dapat menarik banyak peminat dan pembacanya, sehingga banyak bermunculan karya sastra dengan penulis-penulis baru dalam menghasilkan karya sastra yang bertemakan religius.

Tinjauan Pustaka

Syi’aruddin, M. A. (2018)

Annisa Dwi Ayuningrum
Annisa Dwi Ayuningrum. Lahir di Tegal dan besar di Jakarta Utara. Man jadda wa jadda moto hidupnya. Tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.