Ramadan, datang setiap tahun membawa kewajiban yang sama. Semua dimulai seusai magrib, terbenamnya matahari menjadi penanda akan kesiapan esok hari: menahan haus dan lapar, mengontrol emosi, dan yang terpenting menambah pahala karena lipat gandanya. Buat beberapa orang layaknya rutinitas tahunan dan dijalankan demi menggugurkan kewajiban.
Jika ditelisik lebih dalam, ternyata adanya ketentuan akan regulasi seluruh badan, dari nutrisi, tidur sampai emosi. Kewajiban Sang Ilahi ini, jika dilakukan dengan pemahaman benar berpotensi menjadi toolkit manusia meregulasi diri, tapi justru menjadi efek buruk dalam kurun waktu instan (setelah 1 bulan) jika keliru regulasinya.
Ranah Regulasi
Kala Ramadhan disebutkan dalam sebuah studi penurunan BB: pria -1,5 kg, wanita -0,9 kg selama Ramadhan justru kembali dalam 2 minggu pasca-Ramadhan. Meskipun dalam Studi Hacettepe menyatakan orang yang tetap rutin melakukan olahraga 150 menit/hari tidak mengalami ini. kebanyakan terjadi karena sikap impulsif saat waktu berbuka datang dan cenderung makan serta minum manis dengan dalih self-reward dan pengembalian mood. Penumpukan lemak yang terjadi akibat konsumsi gula yang tidak terpakai membuat rantai keburukan baru dalam fase yang berkepanjangan. Pentingnya regulasi makanan seperti kurma saat berbuka, tidak berlebihan saat makan malam hari justru dari sunnah menjadi ajaran nutrisi yang presisi.
56,6% melaporkan tidur baik, pada studi menunjukkan 43,4% melaporkan sebalinya. Dalam bahasa yang mudah mereka yang revenge bedtime procrastination (begadang untuk hal tidak produktif) membuat studi ini semakin relevan kenapa kualitas tidur saat Ramadhan memburuk. Dan tentunya pada sisi mereka yang dapat meregulasi tidur contoh dengan napping atau Qoilullah (tidur sebentar) sekitar 20 menit dan tidak melakukan begadang secara sia-sia menunjukan kualitas tidur membaik.
Dampaknya jika regulasi kualitas tidur dan nutrisi yang buruk, berimbas pada siklus emosi yang rentan. Dalam studi, emosi yang meledak-ledak sampai mental health yang terganggu dapat terjadi dengan sangat mudah. Ironi bahwa di bulan suci, justru banyak orang mudah tersinggung, emosi tidak stabil, konflik sosial meningkat menjadi masuk akal sekarang. Latihan neuroplastisitas untuk mengendalikan impuls terjadi disini sebagaimana hadits “Jika seseorang mencacimu, katakanlah Aku sedang puasa” : puasa sebagai ruang latihan pengendalian diri yang sesungguhnya bukan sekedar afirmasi.
Harmoni Syariat dan Sains
Islam: sebagai user manual manusia tak hanya datang dengan kewajiban tanpa tanggung jawab. Adanya toolkit (solusi) yang selaras dengan manusia seperti contoh larangan begadang dapat merusak sistem sirkadian (jam tidur biologis) disertai sunnah qailulah; perintah menahan lapar disertai anjuran menyegerakan berbuka dengan yang manis; perintah menahan amarah disertai panduan respons berbicara yang baik atau lebih baik diam. Ini membuktikan bahwa syariat adalah sistem regulasi yang holistik, bukan sekadar aturan langit yang jauh dari realitas manusia.
Mini Effect: Akibat Gagal Regulasi
Berharap mendapatkan berat badan yang menurun justru semakin naik; bukan menjadi sehat malah justru maag semakin parah. Tidak berhenti pada makanan dilanjut ke tidur, begadang demi kesenangan semu; bukanya gembira malah semakin lesu; bukan menjadi fokus malahan pikiran kemana-mana. Saat matahari terik datang satu bulan penuh dengan emosi tak terkendali, memang setan dibelenggu tapi hawa nafsu kita lebih buas darinya.
Berharap tanpa aksi regulasi hanya pengulangan dosa tahunan tanpa henti. Kegagalan regulasi ini membuktikan bahwa kewajiban puasa bukan sekadar ritual vertikal, tetapi sistem yang jika diabaikan, efeknya langsung terasa di tubuh dan kehidupan sosial kita. Ini adalah bukti empiris bahwa agama hadir untuk kemaslahatan manusia.
Menjemput Berkah dengan Regulasi Sadar
Makan, tidur, emosi, adalah cuilan kecil regulasi diri yang coba sama-sama kita fahami. Satu sama lain saling bersinggungan, satu kesalahan tidak bisa dianggap kecil, adanya Ramadhan memaksa kita untuk lebih memperhatikan regulasi diri. Ramadhan adalah training camp tahunan untuk melatih ketiga ranah ini.
Jika kita menjalani kewajiban Ilahi ini dengan kesadaran penuh (bukan sekadar rutinitas), kita tidak hanya mendapat pahala, tetapi juga tubuh yang lebih sehat, pikiran yang lebih jernih, dan hati yang lebih tenang. Kewajiban Sang Ilahi, pada akhirnya, adalah kasih sayang-Nya yang tak terhingga sebuah sistem operasi yang dirancang khusus untuk membuat manusia berfungsi optimal, sebagai hamba sekaligus pemimpin di muka bumi.
