OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Regenerasi Petani

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Tyas Arumsari
Penulis lepas yang memiliki minat di pertanian dan isu sosial. Alumni Magister Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB.

Musim panen memang telah berlalu. Tapi ingatan itu masih ada. Menipisnya stok tenaga panen, terutama pada tanaman padi, padahal waktu panen hampir semuanya serentak. Daripada bulir padi menua, tak sedikit yang akhirnya dengan berat hati menyerahkan padi-padi mereka kepada tengkulak. Mau bagaimana lagi, minta tolong tetangga pun juga sibuk mengurus lahan masing-masing. Sedangkan panen tak cukup sehari selesai, kadang bisa 3-4 hari tergantung jumlah tenaga yang bekerja dan luas lahan.

Lalu bagaimana dengan harga jual gabah ke tengkulak? Jelas lebih murah ketika dijual gabah basah di lahan atau yang sering disebut ‘tebasan’. Belum lagi kalau kualitas gabah tak terlalu baik karena serangan wereng misalnya, harga Rp 3.200 per kg gabah basah saja sudah cukup laku. Ya walaupun kalau dibandingkan dengan biaya produksinya, mungkin hanya kembali modal. Tapi mau bagaimana lagi, mereka tak punya pilihan lain.

Dari sini kita jadi tahu, betapa sulitnya hidup jadi petani. Gaji kecil, tak ada jaminan panen pula, modal kembali saja sudah bagus. Tempat kerja kotor dan panas. Masa depan suram. Dan berbagai cerita sedih lainnya. Pantas saja tak banyak anak muda yang mau jadi petani. Mereka lebih memilih belajar komputer atau teknologi informasi dengan harapan dapat kerja di tempat dingin ber-AC dan gaji terjamin.

Mirisnya lagi, anak-anak petani itu pun tak banyak yang mau turun ke sawah. Membantu orang tuanya saja kadang harus disuruh puluhan kali. Mereka lebih memilih pegang gadget dan bermain game dengan alasan hiburan dari lelahnya belajar di sekolah. Mungkin orang tuanya juga yang memberi fasilitas itu, bahkan berbangga jikalau anaknya cuma duduk ‘ongkang-ongkang’ kaki sambil pegang gagdet merk terbaru. Atau orang tua jugalah yang menyuruh mereka untuk tidak meneruskan jejak menjadi petani, cari saja penghidupan yang layak di ibukota sana.

Begitulah yang terjadi, wajar saja hal ini berpengaruh terhadap rendahnya jumlah tenaga pemanen karena memang hampir tidak ada regenerasi. Padahal kebutuhan tenaga kerja di sistem pertanian Indonesia masih cukup tinggi, mengingat masih sulitnya memasukkan alat berat ke lahan karena beberapa kondisi. Memasukkan traktor saja butuh puluhan tahun untuk meyakinkan para petani, apalagi alat berat yang dilengkapi sistem komputer.

Akan tetapi, regenerasi petani tetap membutuhkan solusi cepat, mengingat usia para petani kita rata-rata 50-60 tahun, maka sekali lagi, mungkinkah alat berat menjadi solusi? Beberapa ‘planter‘ atau alat bantu pindah tanam, terutama untuk padi, sudah mulai masuk ke wilayah pantai utara, misalnya di Kab. Karawang atau Kab. Subang. Begitupun dengan ‘combine harvester’ atau alat bantu panen. Tapi untuk lahan sawah di Indonesia yang cenderung sempit, kepemilikan hanya sekitar 0.5 ha per orang, banyak ‘galengan’ atau pembatas antar lahan, sepertinya ‘combine harvester‘ yang ada saat ini kurang adaptif. Mengapa?

Karena kebanyakan alat ini dirancang untuk lahan dengan luas belasan hektar seperti di Eropa atau Amerika sana. Belum lagi sulitnya masuk ke lahan dengan kontur yang tidak rata. Lalu mungkinkah ‘hand combine harvester‘ yang dioperasikan dengan tangan layaknya traktor yang ada saat ini akan lebih adaptif? Mungkin saja jika ada kemauan dan juga pengkajian yang valid, bukan hanya sebagai proyek pengadaan barang.

Namun, tetap saja masih ada masalah lain lagi. Apakah itu? Modal. Minimnya modal petani juga memperkecil kemungkinan kepemilikan alat ini, kecuali jika dimiliki oleh kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Tapi lagi-lagi apakah kelompok tani yang ada saat ini memang hadir sesuai fungsinya? Atau hanya hadir ketika akan turun bantuan? Mari refleksi diri, inilah kondisi pertanian Indonesia.

Dan pertanyaan terakhir, kita bisa apa?

Berhentilah mengutuk kegelapan, mari nyalakan lentera penerangan.

Tyas Arumsari
Penulis lepas yang memiliki minat di pertanian dan isu sosial. Alumni Magister Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.