OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Ananta Prasetya
Pendiri Komunitas Literasi dan Sosial KANAL. Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Surabaya

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku menonton film Bajrangi Bhaijaan (2015), film India yang diangkat dari kisah nyata. Muara manusia bukan dari eksistensi, salah besar jika itu menjadi pondasi. Muara manusia adalah berusaha berbuat baik.

Muncul perasaan tidak percaya bercampur kagum melihat Pawan (Tokoh utama film ini) yang tanpa pamri menolong anak tersesat untuk bertemu keluarganya kembali. Secara singkat cerita seperti itu nampak seperti  cerita klise. Tapi, jika seorang anak tersesaat di negara orang, dimana negara tersebut masih dalam puncak konflik nasionalisme antar negara, maka akan lain ceritanya.

Bisa dibayangkan apa saja yang dilakukan oleh antar negara jika mengetahui warga negara asing masuk ke wilayahnya, dicekal, ditahan bahkan dibunuh. Itulah resiko yang akan dihadapi seorang Pawan hanya untuk memulangkan anak kecil tersebut—Munni/shahida. Seorang anak kecil muslim bisu dari Pakistan tepatnya dari sebuah desa di puncak gunung bernama Sultanpur, ia tersesat di Delhi India, yang pada waktu itu negara Pakistan dan India sedang bersitegang. Lantas ia ditemukan seorang pegawai Pos, seorang laki-laki penyembah Hanuman yangs setia.

Dari secuplik cerita diatas sudah diketahui banyak sekali kemustahilan-kemustahilan yang dihadapi anak tersebut untuk pulang, atau untuk Pawan yang ingin mengembalikan anak itu kepada keluarganya. Dari Dua orang yang berasal dari negara yang berbeda, bukan hanya berbeda namun juga berkonflik, ditambah identitas agama mereka berbeda yang akan menyulitkan kedepannya, notabene perihal agama menjadi perihal yang masih kerap kali menjelmakan manusia serupa dewa mahabenar, melibatkan manusia untuk melihat pembenaran bukan kebenaran. Apa ada hal lain lagi, yang membuat perjalanan Munni untuk pulang akan semakin terjal?

Tentunnya. Mereka dua individu yang berbeda, punya jalan hidup yang berbeda, punya masalah serta kehidupan yang berbeda pula, sehingga jika untuk melakukan perjalanan pulang satu diantaranya harus melumrahkan kehidupannya untuk ditanggalkan.

Mereka tetap melakukan perjalanan dengan segala kemungkinan yang sebenarnya mereka ketahui. Sebab rasa kemanusiaan tidak mengenal batas negara atau pos-pos penjagaan perbatasan. Manusia terikat satu sama lain, walau tidak diikat oleh ikatan darah, kesamaan ideologi ataupun daerah.

Manusia terikat oleh hati nurani masing-masing untuk senantiasa menolong satu sama lain, selebihnya adalah atribut semacam; agama, ideologi, suku, ras atau budaya, semua hal itu hanya digunakan agar manusia lebih peka untuk tetap senantiasa tolong menolong. Lanats, mengapa ada konflik diantara manusia? Merekalah yang memasang atribut terlalu kuat, menjadikan lupa bahwasannya sebagai atribut berfungsi agar manusia lebih indah sebagai manusia, bukan malah menjadi suatu alasan untuk menyiderai manusia lain yang tidak sama dengan mereka.

Film ini ditutup dengan sebuah peristiwa yang luar biasa. Dari perjalanan yang telah dilalui Pawan dan Munni menginspirasi kedua negara untuk meredam konflik, karena sebelum Munni bertemu dengan keluarganya. Pawan tertangkap, lantas dituduh sebagai mata-mata. Ia disiksa, walaupun telah mengatakan sejujurnya. Mungkin akan seperti itu jika sikap nasionalisme berlebihan tanpa disandingkan kemanusiaan, menganggap hal yang tidak bekepentingan untuk negaranya hanya sebagai bualan.

Terlepas dari Pawan ditangkap, Munni ditolong salah satu teman yang ia kenal diperjalanan, merupakan seorang waratawan lokal yang beritanya selalu tidak membuat tertarik perusahaan media. Ia membantu Munni agar sampai ditempat keluarganya sesuai yang dpesankan oleh Pawan, walaupun rumahnya sudah dekat dari tempat Pawan ditangkap. Munni bertemu dengan keluarganya, tidak dengan Pawan. Ia disisksa sampai mengakau bahwa dirinya adalah mata-mata asing.

Tanpa sengaja teman wartawannya merekam setiap perjalanan yang dilakukan Pawan dan Muuni lantas mengunggahnya ke Youtube. Kisah mereka menjadi sebuah inspirasi untuk melahirkan gerakan merobohkan perbatasan negara atas nama kamnusiaan. Peristiwa Pawan menjadi pemicu gerakan itu terjadi mengantarkan kedua negara gencatan senjata. Gerekan itu merobohkan batas kedua negaranya untuk mengantarkan pulang seorang Pawan.

Di scene terakhir semacam adegan yang akan membuat siapapun meneteskan air mata, dimana Munni seorang anak kecil bisu yang sempat kehilangan jejak Pawan, ikut hadir dalam merobohkan pembatas kedua negara serta mengantar Pawan untuk kembali ke negaranya, Munni sangat  ingin mengucapkan selamat tinggal yang terakhir kali untuk Penyelamatnya. Memaksakan tenggorokannya agar bersuara, sampai akhirnya ia mampu berucap. Tidak ada yang membendung kekuatan kemanusiaan.

Ananta Prasetya
Pendiri Komunitas Literasi dan Sosial KANAL. Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Surabaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.