OUR NETWORK
Selasa, Januari 31, 2023

Puritanisme, Pandangan Eskatologis dan Agama yang Membumi

John L Hobamatan
Direktur Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) HANDAL Kupang, Penulis Lepas
From Korea With Love Concert

Tidak sampai sebulan dua kasus berkaitan dengan tuduhan penistaan agama bergulir ke depan hukum. Pertama kasus Ferdinand Hutahaean atas postingan: Allahmu lemah sedangkan Allahku begitu perkasa. Ferdinand akhirnya ditahan dan sedang menjalani proses hukum. Menyusul kemudian pelaporan KASAD Jenderal TNI Dudung Abdullrahman dalam pernyataannya yang diviralkan di media social, Tuhan bukan orang Arab”.

Dua kasus ini menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat supersensitive dalam hal-hal yang bersentuhan dengan keagamaan. Perspektif agama dalam konteks theosentris  begitu dominan melampaui perspektif agama dalam konteks sosiologis dan kosmologis. Orang berpandangan bahwa agama adalah hubungan trasendental manusia dengan sang pencipta. Oleh karena itu, harus dijaga dengan pengorbanan diri, melampaui hubungan dengan sesama ataupun hubungan manusia dengan alam (kosmologis).

Memposisikan diri untuk membela agama dalam konteks theosentris menjadi pembelaan terhadap Tuhan. Posisi ini menyibak misteri eskatologis yang dijanjikan agama. Kematian adalah sebuah kepastian, hanya waktu dan caranya adalah sebuah misteri. Dan ketika kematian itu kita jemput  karena membela agama, maka keselamatan kekal bukan lagi sebagai sebuah misteri.

Sikap dan pandangan demikian menemui ekologi yang relative layak untuk bertumbuh di tengah kebebasan beragama yang dijamin Negara. Masyarakat semakin hari semakin terjebak atau bahkan dijebak untuk berkubang dalam polarisasi hubungan social yang kusut, penuh dengki dan dendam. Terjadi komplikasi psikologis untuk menyikapi setiap tindakan, atas nama  agama yang intinya bukan memberi pencerahan tetapi sebaliknya menjadi instrumen provokasi yang mempertajam perbedaan.

Pandangan Eskatologis

Secara terminologi, eskatologis adalah harapan yang diberikan semua agama  samawi, akan kebahagian di akhir saman (kebahagiaan setelah kematian). Walaupun secara eskatologis pula kebahagiaan akhirat itu diperoleh dengan memuliakan kehidupan di hari ini, namun konsep eskatologis yang cair ini mudah dibelokkan. Agama sering dihadirkan di lingkungan social kita dengan dua wajah biner yang saling bertolak belakang.

Prinsip “mati hari ini sama dengan besok” pelan tetapi pasti menggerogoti cara pandang kita pada nilai-nilai kehidupan. Agama yang dalam konteks historis-profetis sebagai jalan memerangi ketidakadilan dan ketimpangan sosial. mudah terabaikan. Agama sebaliknya jadi sumber ketidak-adilan itu sendiri yang mewartakan perpecahan dan kedengkian. Begitu juga secara sosiologis, agama yang intinya mewartakan kasih melampaui batas-batas primordialisme, kehilangan kegayutannya. Para pemeluk agama bahkan terjebak dalam sektarianisme sebagai tafsir atas totalitas manusia di jalan kebenaran agamanya.

Padahal, agama sebagai sumber kebajikan, terkandung di dalamnya nilai-nilai kemanusiaan universal, yang tidak hanya menjadi property sah salah satu agama. Dakwah keagamaan, terlepas dari apapun agamanya, ia harus menjadi media pewarta kebajikan yang mencerahkan setiap insan ciptaan Tuhan dan bukan sebaliknya mengotak-otakkan manusia berdasarkan aliran kepercayaan.

Dimensi ini hampir selalu terlupakan. Ia luput dicermati melalui sikap wisdom para pemegang otoritas kekuasaaan negara dan elite keagamaan. Sikap lunak terhadap para  penghujat ini mengubah dunia social yang penuh kemajemukan menjadi ekologi bagi berkembangnya intoleransi.

Sikap mendua terhadap agitasi sosial, tindakan provokatif yang ditunjukkan aparat negara dan pemuika agama berakibat berbagai upaya untuk pencegahan radikalisme, dan terorisme melalui perang siber yang masif tidak banyak memberi kontribusi.

Puritanisme Agama

Secara kuantitatif, selama hamper 20 tahun terakhir sejak peristiwa Bom Bali I tahun 2002 hingga saat ini, Densus 88 Anti Teror telah menangkap 2.914 teroris dari semua jaringan. Angka ini berdasarkan keterangan Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri Komisaris Besar MD Shodiq dalam diskusi daring bertajuk ”Al Jamaah Al Islamiyah Dahulu, Kini, dan di Masa Mendatang”, Selasa (12/10/2021).

Jumlah ini tidak bisa sekedar alasan kemiskinan, tetapi sangat mungkin tumbuh dan memiliki akar ideologis. Salah satu akar ideologis yang selalu dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme adalah puritanisme.

Puritan secara terminologis dapat diartikan sebagai aliran yang diusung sekelompok orang yang ingin memperjuangkan kemurnian doktrin dan tatacara peribadatan, begitu juga kesalehan perseorangan dan kesalehan social (jemaat).

Interpretasi tentang kesalehan perseorangan dan kesalehan sosial menganggap kesenangan dan kemewahan sebagai dosa (Soegono, 2014). Islam murni adalah Islam yang belum tercampur ijtihad atau unsur pengaruh sosiologis (Abdullah, 2002). Itulah sebabnya puritanisme agama tidak sedikit memproduksi tegangan sosial antara berbagai elemen masyarakat bahkan kelompok agama dengan rezim yang berkuasa.

Dengan mengusung puritanisme maka sepak terjangnya pada tataran permukaan menjadi legal. Negara memberi sikap permisif karena negara melindungi kebebasan beragama para warganya. Namun sikap permisif ini memberi keleluasaan tersendiri bagi organisasi radikal untuk secara bebas menumbuhkan ideologi radikalisme yang menjadi cikal bakal terorisme.

Puritanisme di Indonesia tidak hanya diusung oleh ormas-ormas radikal tetapi juga merasuk masuk dalam kampus dan  menguasai cara pandang dan sikap intelektual masyarakat kampus. Hasil riset Setara Institute maupun Ade Armando dari Universitas Indonesia, menyingkapkan dua bentuk gerakan radikalisme agama di perguruan tinggi, yakni bentuk puritanisme agama dan bentuk ideologi-politik.

Pada bentuk puritanisme agama, gerakan radikalisme agama menekankan cara beragama yang lebih ketat sesuai dengan doktrin-doktrin agama. Puritanisme agama juga tampak dalam cara pandang dan cara bersikap terhadap ilmu pengetahuan ilmiah. Bagi kaum puritan, ilmu pengetahuan harus dibangun di atas dasar dan dikembangkan dalam kerangka doktrin-doktrin agama. (Alex Aur, Media Indonesia, 3 September 2019).

Gerakan ini dengan sendirinya membawa dua sikap ekstrem sekaligus. Pertama adalah pemutlakan cara pandang dalam hal apapun karena Tuhan adalah sumber dari segala hal yang ada di muka bumi. Kedua penyeragaman atas sikap dan perilaku baik dalam tatacara peribadatan maupun aturan dan larangan.

Kedua ekstrem ini akan bersinggungan bahkan berbenturan dengan pluralisme sebagai sebuah kenyataan sosial. Benturan ini mungkin saja melahirkan sikap fobia – ada bayangan ketakutan dan ketidakberdayaan, yang berbuntut pada terorisme yang membunuh manusia dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dalam lingkungan kemiskinan yang akut, kehidupan sosial yang timpang dan memancarkan aroma ketidakadilan, konsep-konsep cair ini mudah menggerus rasionalitas dan menggelembungkan kesesatan. Orang berpikir mati hari ini sama saja dengan  besok. Tetapi mati dengan dijemput oleh bidadari itulah yang membedakan. Dan kebahagiaan ini tergantung cara mati yang dipilih. Diperlukan kontra narasi yang membebaskan cara pandang yang sesat.

John L Hobamatan
Direktur Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) HANDAL Kupang, Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.