Minggu, Mei 16, 2021

Puasa dan Kultur Paradoksal Kita

Sepi dan Tekanan Hidup

Bagi Alexandra, pekerjaannya sebagai Relationship Manager di Border Bank, salah satu bank multinasional di Jakarta sudah sangat menjanjikan kehidupan yang baik. Gaji yang besar,...

Perempuan dalam Kemelut Sejarah: Tribute to Nawal El Saadawi

Sejarah perempuan adalah sejarah kelam yang diliputi diskriminasi dan eksploitasi. Penuh kepedihan dan penderitaan. Peran mereka di ruang publik dibatasi, bahkan dipinggirkan. Begitu juga...

Antara Jokowi, Tol Laut dan Poros Maritim Dunia

Program tol laut menjadi jargon Jokowi ketika melakukan kampanye pemilihan presiden (pilpres) pada tahun 2014 lalu. Di penghujung akhir 2015, salah satu program utama...

Azwar Anas, Please Deh Tidak Usah Baper!

Siapa yang tak kenal Azwar Anas, orang nomor wahid di Banyuwangi terkenal karena program pembangunan dan kepeduliannya akan kondisi wong cilik. Kala itu, berkat...
Aditya Budi
Peminat isu-isu pemberdayaan sosial

Jauhkanlah dari makanan tubuh karena hidangan ruhani telah tersedia”, begitulah ucap Rumi sebagai sikap yang harus dihayati selama ramadan. Dengan berpuasa Allah secara tidak langsung tengah meminta manusia untuk menundukkan nafsu, memadamkan egoisme diri, dan memukul naluri keserakahan dari budaya hedonistik dan konsumtif masif dalam diri manusia.

Hadirnya “paksaan” itu semua pada sisi yang lain sekaligus membuat jiwa manusia menjadi menyala dan bercahaya. Yaitu jiwa ruhaniah yang selama sebelas bulan sebelumnya mungkin banyak yang berpotensi menggelap tertutup “jelaga”. Memutus mata rantai dari awalnya sibuk berburu dunia menjadi berburu pahala.

Meredupnya nafsu dalam berpuasa akan memantik nyalanya hati dan akal pikiran manusia untuk lebih mampu memilih mana yang baik dan mana yang patut ditinggalkan. Padamnya sifat egoisme individualistik – dengan laku merasakan rasa lapar – akan sekaligus dibarengi dengan menyalanya jiwa kepedulian, emansipasi kemanusiaan dan rasa empati untuk berbagi dengan golongan masyarakat yang serba kekurangan. Dan berpuasa seharusnya juga menjadi timing kita semua untuk mengikis kultur konsumerisme yang menggejala.

Namun untuk yang disebutkan belakangan itu nampaknya yang terjadi malah sebaliknya. Dengan berpuasa secara rasional artinya membatasi segala macam bentuk konsumsi tubuh. Namun ramadan kita seringnya justru mencerminkan budaya peningkatan laku konsumtif kita. Bukankah seharusnya tidak demikian.

Hal yang paling sederhana dapat dilihat pada realitas di masyarakat. Bagaimana orang berbondong-bondong membeli sesuatu yang di hari biasa jarang atau bahkan tak pernah dibeli. Entah itu berupa makanan ataupun berupa barang konsumtif lainnya. Hal itu disambut pula dengan seabrek para penjual dadakan dari pedagang kecil hingga besar. Ilusi diskon di pasar-pasar kapitalis pun dilantangkan.

Anomali laku ruhani tersebut dibuktikan dengan pernyataan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) bahwa trend harga pangan selama sepuluh tahun terakhir jelang Bulan Ramadan selalu meningkat (Idxchanel, 4/2021). Tak lain lumrahnya hukum ekonomi, hal tersebut sebagai akibat dari meningkatnya permintaan pasar. Pun termasuk di kota besar seperti Jakarta yang mengalami peningkatan permintaan komoditas pangan pada kisaran 10 hingga 15 persen selama ramadan (Antaranews, 3/2021).

Apakah salah ? Bukankah dengan demikian justru akan memutar roda perekonomian di masyarakat. Tidak salah jika perputaran ekonomi yang besar dan tinggi yang diharapkan. Namun bukan itu titik tekannya, perputaran roda ekonomi yang semakin tinggi saat ramadan adalah persoalan lain. Sedangkan disini terjadi semacam fenomena paradoksal sisi substansial nilai-nilai puasa. Menjadi ironi, ketika kita semua diharuskan menggenapkan laku prihatin dengan membatasi kebutuhan biologis malah realitanya banyak tirakat kita yang mewujud dalam bentuk puasa formalitas dzahir semata.

Jean Baudrillard memaknai konsumsi bukan hanya sekedar membeli berbagai komoditas melainkan juga cermin suatu fungsi kenikmatan, pembebasan diri terhadap kebutuhan, pemuasan diri maupun kekayaan. Hal tersebut nampaknya berkesuaian dengan fenomena khas konsumerisme di masyarakat saat ramadan. Budaya konsumerisme timbul dengan adanya dorongan atas hasrat keinginan bukan kebutuhan. Padahal puasa justru meminta untuk membatasi kebutuhan apalagi keinginan.

Puasa ingin mengembalikan manusia agar tidak terlalu jauh terperangkap kedalam gejala terdistorsinya suatu objek konsumsi. Yaitu beralihnya masyarakat dalam hal membeli atau memiliki sesuatu dari yang awal menjadikannya sebagai pemenuhan nilai fungsi menjadi ke pemenuhan simbol, prestise atau nilai status sosial.

Gejala konsumerisme itu nampak menjadi-jadi dengan semakin mendekatinya hari raya lebaran. Mal atau pusat perbelanjaan lainnya – yang identik sebagai episentrum budaya konsumtif – menjadi gegap gempita, ramai sesak penuh dengan kesibukan orang memborong belanjaan yang sekali lagi jauh dari ruh yang dibangun dalam ibadah puasa.

Trafik belanja online meningkat sedemikian rupa. Semuanya dilakukan demi menyambut sebuah hari kemenangan. Tapi apakah benar yang seperti itu adalah kemenangan atau mereka yang kembali tenggelam dalam pemenuhan kenikmatan yang nisbi dan temporal itu sejatinya telah tertipu dengan amalnya.

Padahal makna-makna seperti itulah yang hendak dipukul mundur oleh laku puasa yang kita jalani.  Termasuk mengikis ketimpangan sosial yang melanggeng di tengah-tengah masyarakat kita. Atau jangan-jangan ini semua justru menjadi celah yang menarik bagi hegemoni konstruk alam pikir kapitalisme. Yaitu berubahnya logika kebutuhan menjadi logika hasrat (nafsu). Jika benar demikian maka selayaknya patut dicurigai bahwa itu bagian dari Islam yang dikapitalisasi

Mereka yang terjebak ke dalam meningkatnya budaya konsumtif sejatinya tengah mengalami glorifikasi palsu. Menjadikan ramadan hanya sebagai perayaan formalitas. Perayaan yang hakikinya membuat semakin jauh dari sebuah nilai yang dikehendaki dari puasa dan ramadan itu sendiri.

Jangan sampai puasa kita hanya sebagai perayaan simbolistik semata dan gagal menangkap pesan-pesan substansial di dalamnya. Seakan-akan kewajiban puasa itu nihil kepada seruan keshalian sosial. Maksudnya simpati dan empati atas kaum miskin hanya bermekaran sebulan saja, setelah itu lupa.

Puasa ramadan merupakan sebuah esensi untuk menyadarkan manusia. Yaitu dari kesadaran serba keakuan dan orientasi nafsu keduniaan menjadi manusia ruhani dan penuh keshalihan sosial. Alangkah istimewanya jika itu berlaku selama-lamanya, termasuk di luar bulan puasa.

Selama nafsu dan keserakahan yang berkamuflase – termasuk atas nama perayaan hari kemenanganmasih – masih nampak, maka selama itu pula realita kultur paradoksal puasa di masyarakat itu ada. Semua hanya sekedar seremonial amal yang berlalu tanpa pesan dan kesan yang tertinggal dalam diri. Jika demikian maka menjadi manusia yang takwa hanya akan menjadi sekedar cita-cita, semoga saja itu salah.

Aditya Budi
Peminat isu-isu pemberdayaan sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.