Minggu, Mei 16, 2021

Ramadan dalam Perspektif Kasta Modern

Mas Pur dan Pesan Cinta yang Postif

Dunia pertelevisian Nasional dan media Informasi Nasional tampak goncang pasca tragedi Cinta Mas Pur yang tak kesampaian menghiasi tayangan utama di layar beritanya. Terpampang...

Impor Beras yang (Tak) Waras

Beras adalah kebutuhan primer manusia. Dari beras tersebut banyak olahan makanan yang dapat dibuat sebagai makanan pokok. Beras (nasi) terus diupayakan agar dapat dikonsumsi...

Asimilasi Napi, Kesalahan Terbesar Yasona

Pada Tanggal 1 April 2020 kemarin, Kementerian Hukum dan HAM mengeluarkan Permenkumham No. 10/2020 dan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. M.HH-19 PK.01.04.04...

Merebut Spirit Perdamaian dari Istilah Hijrah

Perkembangan dunia digital dan teknologi`bersamaan dengan tingkat kecepatan popularitas atau trending sebuah pembahasan. Topik tertentu akan dengan mudah dan cepat menjadi pokok pembicaraan warga...
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Di hari-hari akhir Ramadan, rumah makan berani buka secara terang-terangan. Tidak sekadar sedikit membuka pintu atau menutupinya dengan kerai bambu. Orang yang tidak puasa, tidak malu-malu makan, minum dan yang perokok menghisap rokok di tempat-tempat ramai. Tak ada lagi berita – berita tentang penggerebekan warung.

Seperti itulah seharusnya. Dari awal Ramadan pun warung makan memang harus buka terang-terangan. Tak perlu dibuka sedikit pintunya. Juga tak perlu pakai tirai. Orang yang tidak puasa tidak usah malu-malu.

Kita terlalu banyak basa-basi. Mengapa orang, atau siapa pun saja tidak boleh tampil apa adanya. Kalau memang tidak puasa ya tidak puasa saja. Yang puasa biarlah berpuasa.

Puasa Ramadan memang sebuah ibadah wajib bagi orang Islam. Tetapi, orang Islam sendiri diberi kedaulatan apakah mau menjalankan puasa, atau tidak. Toh, apa pun resikonya ditanggung sendiri-sendiri.

Kalau ada yang tidak puasa kita tidak berhak menghardiknya. Bahkan dalam hati sekalipun. Apakah kita tahu motif dari seseorang yang tidak puasa tersebut?

Ada bermacam-macam motif orang tidak puasa. Ada yang sedang haid, nifas, hamil, sakit, bekerja sangat berat, beragama bukan islam. Dan jika kita melihat orang yang tidak kita kenal dan dia tidak puasa apakah secara etika kita pantas bertanya, mengapa kamu tidak puasa?

Barangkali basa-basi berlebihan itulah yang membuat kita sebagai bangsa mengalami banyak kesulitan untuk maju. Orang-orang menjadi terlalu terobsesi tampil baik di depan seseorang. Tampil baik pun bukan baik dalam artian obyektif, tetapi sangat subyektif. Takut terhadap apa yang diomongkan orang tentang diri kita.

Maka, kita jadi sulit membedakan mana orang yang benar – benar baik dan mana yang tidak. Asal orang berpangkat tinggi dan beruang banyak langsung kita anggap sebagai manusia setengah dewa. Kita sikapi dengan wah. Tetapi kalau orang kecil, pakaiannya biasa cenderung tidak layak, kita sikapi seenaknya saja. Bahkan di obrolan sehari-hari tidak jarang kita menghinanya.

Penyikapan sosial semacam itu menyebabkan pola perhubungan sosial menjadi tidak sehat. Kita jadi terjebak pada lingkaran setan kasta modern. Pemilik pangkat dan uang yang melimpah yang teratas. Seberapa pun baiknya, jika tak punya uang seseorang derajatnya rendah.

Jika kita menengok sejarah kita, kasta tidak berlaku semacam itu. Kita salah sangka bahwa tingkat kasta dari Sudra, Waisya, Ksatria dan Brahmana didasarkan atas sebuah profesi. Di dalam pelajaran – pelajaran sekolah, kita diberitahu bahwa Sudra adalah kuli, Waisya adalah pedagang, Ksatria adalah prajurit, Brahmana adalah pendeta. Cara berpikir semacam itu hulunya adalah cara pandang modern yang matrialisme sentris.

Padahal kita tahu, beda zaman beda cara pandang. Apakah dahulu masyarakat kita bercara pandang materialisme sentris? Kalau seperti itu mengapa ketika islam dibawa pedagang tidak banyak masyarakat yang memeluknya, tetapi saat islam dibawa oleh para wali banyak sekali yang memeluk. Prosesnya pun lebih aman, damai, tentram tanpa perpecahan yang berarti sebagaimana yang terjadi di Makkah.

Dari sejarah tersebut kita bisa mengambil hipotesa bahwa dulu cara pandang masyarakat kita tidak materialisme sentris. Budaya nusantara yang tidak materialisme sentris yang bertemu dengan islam seperti tumbu ketemu tutup (kendi yang bertemu tutupnya). Menjadi begitu pas. Oleh karenanya saat wali menyebarkan agama islam masyarakat kita bisa menerimanya dengan baik.

Jika tidak materialisme sentris sangat mungkin cara pandang dalam kasta tidak seperti yang kita pahami. Bisa jadi perbedaan kasta itu didasarkan pada akhlak dan spiritualitas. Tidak masalah, kuli, pedagang, prajurit, asalkan akhlaknya baik dan spiritualitasnya bagus bisa berkasta brahmana.

Di zaman sekarang koruptor bisa berkasta Brahmana asalkan tidak dibenci elite terpengaruh, sehingga tidak tertangkap dan tidak disebar di media berita tentangnya. Sekarang, yang yang tidak pernah berjuang apa – apa bisa menjadi ksatria, asalkan punya uang cukup untuk bikin baliho besar – besar dan bagi – bagi uang menjelang pemilu. Itulah jika kita terlalu sering basa-basi. Yang serius menjadi tidak serius karena dianggap sudah basi

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.