Sabtu, Mei 8, 2021

Puasa dan Kultur Paradoksal Kita

Indonesia Tanpa Pacaran Bergaun Kapital

Era milenial dimana manusia mudah di doktrin tanpa harus terjun kelapangan membuat sebuah gerakan seperti layak aktivis 98  yang rela berkorban waktu dan tenaga...

Mencegah Korupsi Bencana

Saat ini pemberitaan dalam ruang publik sedang didominasi oleh berita mengenai wabah penyakit virus Corona. World Health Organization (WHO) secara resmi menamai virus Corona...

Budaya Bersaing dan Zonasi

Saya teringat obrolan dengan seorang bapak di bus yang hendak menuju ke Surabaya. Singkat cerita, si bapak mengaku senang saat ini tinggal di desa....

Tunggal Puteri Indonesia Nasibmu Kini

Di zaman sekarang ini, para unggulan bulu tangkis khususnya tunggal puteri sudah menyebar ke beberapa negara. Jika dulu tunggal puteri lebih berkiblat pada kawasan...
Aditya Budi
Peminat isu-isu pemberdayaan sosial

Jauhkanlah dari makanan tubuh karena hidangan ruhani telah tersedia”, begitulah ucap Rumi sebagai sikap yang harus dihayati selama ramadan. Dengan berpuasa Allah secara tidak langsung tengah meminta manusia untuk menundukkan nafsu, memadamkan egoisme diri, dan memukul naluri keserakahan dari budaya hedonistik dan konsumtif masif dalam diri manusia.

Hadirnya “paksaan” itu semua pada sisi yang lain sekaligus membuat jiwa manusia menjadi menyala dan bercahaya. Yaitu jiwa ruhaniah yang selama sebelas bulan sebelumnya mungkin banyak yang berpotensi menggelap tertutup “jelaga”. Memutus mata rantai dari awalnya sibuk berburu dunia menjadi berburu pahala.

Meredupnya nafsu dalam berpuasa akan memantik nyalanya hati dan akal pikiran manusia untuk lebih mampu memilih mana yang baik dan mana yang patut ditinggalkan. Padamnya sifat egoisme individualistik – dengan laku merasakan rasa lapar – akan sekaligus dibarengi dengan menyalanya jiwa kepedulian, emansipasi kemanusiaan dan rasa empati untuk berbagi dengan golongan masyarakat yang serba kekurangan. Dan berpuasa seharusnya juga menjadi timing kita semua untuk mengikis kultur konsumerisme yang menggejala.

Namun untuk yang disebutkan belakangan itu nampaknya yang terjadi malah sebaliknya. Dengan berpuasa secara rasional artinya membatasi segala macam bentuk konsumsi tubuh. Namun ramadan kita seringnya justru mencerminkan budaya peningkatan laku konsumtif kita. Bukankah seharusnya tidak demikian.

Hal yang paling sederhana dapat dilihat pada realitas di masyarakat. Bagaimana orang berbondong-bondong membeli sesuatu yang di hari biasa jarang atau bahkan tak pernah dibeli. Entah itu berupa makanan ataupun berupa barang konsumtif lainnya. Hal itu disambut pula dengan seabrek para penjual dadakan dari pedagang kecil hingga besar. Ilusi diskon di pasar-pasar kapitalis pun dilantangkan.

Anomali laku ruhani tersebut dibuktikan dengan pernyataan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) bahwa trend harga pangan selama sepuluh tahun terakhir jelang Bulan Ramadan selalu meningkat (Idxchanel, 4/2021). Tak lain lumrahnya hukum ekonomi, hal tersebut sebagai akibat dari meningkatnya permintaan pasar. Pun termasuk di kota besar seperti Jakarta yang mengalami peningkatan permintaan komoditas pangan pada kisaran 10 hingga 15 persen selama ramadan (Antaranews, 3/2021).

Apakah salah ? Bukankah dengan demikian justru akan memutar roda perekonomian di masyarakat. Tidak salah jika perputaran ekonomi yang besar dan tinggi yang diharapkan. Namun bukan itu titik tekannya, perputaran roda ekonomi yang semakin tinggi saat ramadan adalah persoalan lain. Sedangkan disini terjadi semacam fenomena paradoksal sisi substansial nilai-nilai puasa. Menjadi ironi, ketika kita semua diharuskan menggenapkan laku prihatin dengan membatasi kebutuhan biologis malah realitanya banyak tirakat kita yang mewujud dalam bentuk puasa formalitas dzahir semata.

Jean Baudrillard memaknai konsumsi bukan hanya sekedar membeli berbagai komoditas melainkan juga cermin suatu fungsi kenikmatan, pembebasan diri terhadap kebutuhan, pemuasan diri maupun kekayaan. Hal tersebut nampaknya berkesuaian dengan fenomena khas konsumerisme di masyarakat saat ramadan. Budaya konsumerisme timbul dengan adanya dorongan atas hasrat keinginan bukan kebutuhan. Padahal puasa justru meminta untuk membatasi kebutuhan apalagi keinginan.

Puasa ingin mengembalikan manusia agar tidak terlalu jauh terperangkap kedalam gejala terdistorsinya suatu objek konsumsi. Yaitu beralihnya masyarakat dalam hal membeli atau memiliki sesuatu dari yang awal menjadikannya sebagai pemenuhan nilai fungsi menjadi ke pemenuhan simbol, prestise atau nilai status sosial.

Gejala konsumerisme itu nampak menjadi-jadi dengan semakin mendekatinya hari raya lebaran. Mal atau pusat perbelanjaan lainnya – yang identik sebagai episentrum budaya konsumtif – menjadi gegap gempita, ramai sesak penuh dengan kesibukan orang memborong belanjaan yang sekali lagi jauh dari ruh yang dibangun dalam ibadah puasa.

Trafik belanja online meningkat sedemikian rupa. Semuanya dilakukan demi menyambut sebuah hari kemenangan. Tapi apakah benar yang seperti itu adalah kemenangan atau mereka yang kembali tenggelam dalam pemenuhan kenikmatan yang nisbi dan temporal itu sejatinya telah tertipu dengan amalnya.

Padahal makna-makna seperti itulah yang hendak dipukul mundur oleh laku puasa yang kita jalani.  Termasuk mengikis ketimpangan sosial yang melanggeng di tengah-tengah masyarakat kita. Atau jangan-jangan ini semua justru menjadi celah yang menarik bagi hegemoni konstruk alam pikir kapitalisme. Yaitu berubahnya logika kebutuhan menjadi logika hasrat (nafsu). Jika benar demikian maka selayaknya patut dicurigai bahwa itu bagian dari Islam yang dikapitalisasi

Mereka yang terjebak ke dalam meningkatnya budaya konsumtif sejatinya tengah mengalami glorifikasi palsu. Menjadikan ramadan hanya sebagai perayaan formalitas. Perayaan yang hakikinya membuat semakin jauh dari sebuah nilai yang dikehendaki dari puasa dan ramadan itu sendiri.

Jangan sampai puasa kita hanya sebagai perayaan simbolistik semata dan gagal menangkap pesan-pesan substansial di dalamnya. Seakan-akan kewajiban puasa itu nihil kepada seruan keshalian sosial. Maksudnya simpati dan empati atas kaum miskin hanya bermekaran sebulan saja, setelah itu lupa.

Puasa ramadan merupakan sebuah esensi untuk menyadarkan manusia. Yaitu dari kesadaran serba keakuan dan orientasi nafsu keduniaan menjadi manusia ruhani dan penuh keshalihan sosial. Alangkah istimewanya jika itu berlaku selama-lamanya, termasuk di luar bulan puasa.

Selama nafsu dan keserakahan yang berkamuflase – termasuk atas nama perayaan hari kemenanganmasih – masih nampak, maka selama itu pula realita kultur paradoksal puasa di masyarakat itu ada. Semua hanya sekedar seremonial amal yang berlalu tanpa pesan dan kesan yang tertinggal dalam diri. Jika demikian maka menjadi manusia yang takwa hanya akan menjadi sekedar cita-cita, semoga saja itu salah.

Aditya Budi
Peminat isu-isu pemberdayaan sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.