Jumat, April 23, 2021

PTS Perlu Benahi Sistem

Spirit Marhaen, dari Purwakarta untuk Jawa Barat

Sosok Ki Marhaen adalah orang yang mempengaruhi pemikiran Soekarno muda agar menjadi masyarakat berdikari dan berdaulat. Dari Ki Marhanen tersebut lahirlah pemikiran tentang ‘Marhaenisme’,...

Kaya Mendadak, Pembebasan Tanah Untung Apa Rugi?

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan mengenai warga desa yang kaya mendadak atau menjadi seorang jutawan usai menjual tanahnya. Adapun di daerah Tuban, Jawa Tengah terdapat...

Anak-Anak Rantau dan Kesenjangan Daerah

"Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemudi yang tak kenal waktu, yang selalu berjuang dengan penuh semangat, walaupun jiwa dan raga menjadi taruhannya. Sumpah Pemuda menjadi...

BPJS Kesehatan, Apa Tantangannya?

Pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 82/2018 perubahan Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan Nasional. Salah satu isinya yang menarik adalah dicantumkannya...
Dayat Salam
Mahasiswa akhir UIN Jakarta

Perguruan Tinggi Swasta (PTS) saat ini dipandang sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang terbilang mahal biaya masuknya. Namun kualitas pendidikan yang mahal tersebut tidak menentukan baiknya kualitas dari perguruaan tinggi swasta. Bahkan dalam beberapa kasus perguruan tinggi swasta lebih longgar dalam paraktik jual beli ijazah di banding perguruan tinggi negeri.

Dalam hal ini, mungkin bisa kita lihat dari banyaknya penutupan perguruan tinggi swasta yang dilakukan pemerintah beberapa waktu lalu. Sebagaimana dikutip di Harian Kompas Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah menutup 25 perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia. Tulisan dengan judul Pemerintah Cabut 25 PTS Masyarakat Diminta Cermat Memilih Perguruan Tinggi lagi-lagi menambah daftar PTS yang telah ditutup oleh pemerintah.

Dalam pencabutan iazin ini pemerintah berdalih dengan pencabutan izin PTS yang bermasalah tersebut menjadi langkah tepat yang diambil oleh pemerintah guna memperbaiki kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Sistem pendidikan PTS pun perlu diperbaiki dan diawasi. Bahkan sering kali PTS yang bermasalah terlibat kasus fatal lantaran kurangnya pengawasan dari pemerintah.

Selama dua tahun terakhir (2016-2017) setidaknya ada 192 PTS yang sudah ditutup oleh pemerintah. Persoalan pun muncul kepermukaan, alasan pencabutan izin PTS pun dinilai lantaran tidak memenuhi standar perguruan tinggi yang sudah ditetapkan oleh Kemenristekdikti.

Dalam standar tersebut harus menjalankan segala aspek termasuk tri dharma perguruan tinggi yang mana itu merupakan tujuan yang dicapai oleh semua perguruan tinggi di Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya ternyata tidak semua perguruan tinggi dapat melaksakan tri dharma.

Untuk menjalankan tri dharma perguruan tinggi, salah satunya setiap PTS dapat memberikan pendidikan yang sesuai standar perguruan tinggi seperti halnya jumlah rasio dosen dan mahasiswa yang baiknya satu dosen mengajar maksimal 30 mahasiswa. Selain itu dengan memiliki fasilitas yang sesuai standar tersebut digadapat menyelenggarakan sistem pendidikan secara baik dan optimal.

Biaya yang mahal yang ditetapkan oleh PTS tidak dapat tersentuh oleh masyakarat kelas bawah yang ada di Indonesia. PTS yang seharusnya bersifat untuk tidak mengutamakan keuntungan namun nyatanya masih banyak PTS yang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini berdasarkan atas sistem kelola pendidikan yang buruk.

Bahkan di PTS sering kali terjadi praktik jual beli ijazah yang merupakan pelanggaran dalam pendidikan di Indonesia. Sebagaimana dilansir dari laman www.kompas.com pada 2015 terdapat beberapa PTS yang dibekukan karena terlibat dengan jual beli ijazah. Kasus jual beli ijazah yang terjadi di PTS sudah masuk dalam ranah kriminalitas. Ini perlu tindak tegas dari pemerintah kepada PTS yang terlibat kasus tersebut.

Memang di PTS sendiri harus diakui perlu mempunyai biaya yang banyak guna memenuhi semua fasilitas yaang disediakan serta untuk membayar gaji dosen. Namun biaya yang banyak itu tidak menjamin adanya sistem pendidikan yang baik, ini dibuktikan dengan terjadinya pencabutan izin. Bahwa masih banyak PTS yang lebih mementingkan unsur tertentu daripada sistem pendidikan yang dijalankannya.

Lebih lanjut ketika pencabutan izin PTS diberlakukan sering kali banyak yang mendapat dampak kerugian tak terkecuali mahasiswa dan dosen. Tidak diakuinya ijazah oleh negara lantaran izin PTS dicabut pun menghambat karir mahasiswa lulusan PTS tersebut. Terlebih mahasiswa yang ingin menempuh karir di pemerintahan seperti yang ingin mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Harus Ada Solusi Bijak

Pemerintah pun dalam melakukan pencabutan izin sebaiknya juga mempunyai solusi yang tepat agar tidak menimbulkan masalah lainnya. Saat pencabutan status izin PTS tentu akan menimbulkan dampaknya dan ini perlu dipikirkan oleh pemerintah. Nasib mahasiswa ataupun dosen harus diperhatikan sebaik mungkin oleh pemerintah selaku pemilik kewenangan.

PTS yang bermasalah dapat segera diselesaikan lebih duhulu dengan baik dan dengan memperhatikan semua yang terkena dampaknya. Namun nyatanya pemerintah di samping telah menutup PTS yang bermasalah juga telah memberikan izin baru kepada perguruan tinggi baru tanpa ada pertimbangan untuk menyelesaikan semua masalah secara optimal.

Apalagi ketika pemerintah telah mengeluarkan keputusan yang justru malah menyebabkan kesengsaraan bagi masyarakatnya sendiri. Niat pemerintah yang semula ingin memperbaiki kualitas perguruan tinggi di Indonesia tidak dibarengi dengan memberikan solusi yang bijak pada PTS yang bermasalah.

Dayat Salam
Mahasiswa akhir UIN Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.