Proxy War Yaman antara Saudi-Iran yang Mengguncang Timur Tengah

Muhammad Raffi Rasya
Muhammad Raffi Rasya
saya adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Sriwijaya
- Advertisement -

Konflik di Yaman bukan sekadar perang saudara melainkan seperti permainan catur berdarah di mana dua kekuatan besar Timur Tengah yakni Arab Saudi dan Iran, memainkan strategi hegemoni mereka. Sejak pecah pada 2015, Yaman telah bertransformasi menjadi arena proxy war yang paling mematikan di abad ini. Di satu sisi, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk menopang pemerintah Yaman melalui operasi udara masif dan blokade laut. Di sisi lain, Iran dituduh memberikan dukungan logistik, persenjataan, dan pendanaan kepada pemberontak Houthi. Keterlibatan kedua aktor negara ini tidak hanya memperpanjang penderitaan rakyat Yaman, tetapi juga mempertegas narasi rivalitas regional yang telah lama mengakar.

Untuk memahami mengapa Yaman menjadi begitu vital bagi kedua negara, kasus ini perlu dibedah menggunakan Regional Security Complex Theory (RSCT) yang digagas oleh Barry Buzan dan Ole Wæver. Teori ini menawarkan kerangka analisis yang menjelaskan bagaimana negara-negara dalam satu kawasan (seperti Timur Tengah) terikat dalam sebuah “kompleks keamanan” di mana rasa aman atau ancaman yang dirasakan satu negara tidak dapat dipisahkan dari negara lain. Dalam konteks Yaman, tesis utamanya jelas yakni proxy war ini adalah manifestasi dari interdependensi keamanan yang negatif, di mana upaya Saudi dan Iran untuk memaksimalkan keamanan nasional mereka justru memperlemah stabilitas seluruh kawasan.

Bagi Arab Saudi, Yaman bukan sekadar negara tetangga, melainkan “halaman belakang” yang menentukan hidup-mati keamanan nasional mereka. Dalam perspektif dimensi militer RSCT, Saudi memandang kebangkitan Houthi bukan sebagai gerakan lokal semata, melainkan sebagai perpanjangan tangan Iran yang mengancam kedalaman strategis (strategic depth) mereka. Serangan rudal balistik Houthi yang menargetkan infrastruktur minyak Saudi dan kota-kota perbatasan membuktikan bahwa ancaman tersebut nyata dan berada tepat di depan pintu Riyadh.

Intervensi Saudi didorong oleh ketakutan akan “pengepungan” oleh kekuatan pro-Iran (Hezbollah di utara, milisi Syiah di Irak, dan kini Houthi di selatan). Secara geopolitik, membiarkan Yaman jatuh ke dalam orbit pengaruh Iran sama dengan membiarkan musuh ideologis dan politik memegang kendali atas perbatasan selatan Saudi. Namun, ironisnya, respons militer agresif Saudi termasuk blokade laut yang memicu kelaparan massal justru menciptakan kerentanan baru. Krisis kemanusiaan yang terjadi telah merusak reputasi internasional Saudi dan menciptakan vakum kekuasaan yang dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis lain, memperumit kompleks keamanan yang ingin mereka stabilkan.

Di sisi lain Teluk, Iran memainkan kartu yang berbeda. Menggunakan analisis RSCT, dukungan Iran kepada Houthi dapat dilihat sebagai strategi “biaya rendah, dampak tinggi” (low cost, high impact) untuk membentuk koalisi anti-Saudi. Bagi Iran, Yaman adalah peluang emas untuk menekan rival utamanya tanpa harus terlibat konfrontasi militer langsung. Dengan memberdayakan Houthi, Iran berhasil mengalihkan sumber daya militer dan ekonomi Saudi yang sangat besar ke dalam perang yang berlarut-larut, melemahkan dominasi Riyadh di Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Kepentingan keamanan nasional Iran di sini bersifat ekspansif dan revisionis. Pasca-sanksi internasional, Iran berusaha menantang isolasi regional dengan memperluas “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance) hingga ke Semenanjung Arab. Selain dimensi ideologis untuk memperluas pengaruh Syiah, terdapat dimensi ekonomi strategis: Houthi mengontrol wilayah yang dekat dengan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia. Kontrol atau setidaknya pengaruh di titik ini memberikan Iran leverage geopolitik yang signifikan terhadap keamanan energi global, menciptakan siklus ketergantungan keamanan di mana setiap langkah Iran di Yaman langsung mengguncang kalkulasi keamanan Saudi.

Jika diterapkan secara keseluruhan, RSCT menunjukkan bagaimana Yaman telah menjadi mikrokosmos dari kompleks keamanan Timur Tengah yang disfungsional. Intervensi Saudi dan Iran menciptakan dinamika di mana ancaman eksternal (dari negara rival) menjadi prioritas domestik tertinggi. Hal ini mendorong eskalasi konflik tanpa perlu adanya deklarasi perang resmi antara Riyadh dan Teheran.

Terjadi benturan kepentingan yang tajam: Saudi bertindak sebagai kekuatan status quo yang fokus pada pertahanan perbatasan dan pemeliharaan hegemoni tradisional Sunni, sementara Iran bertindak sebagai kekuatan revisionis yang menggunakan instrumen asimetris untuk mengubah keseimbangan kekuatan. Hasilnya adalah security dilemma (dilema keamanan) yang akut. Langkah defensif Saudi (serangan udara) dilihat Iran sebagai agresi yang harus dibalas dengan peningkatan bantuan ke Houthi, dan sebaliknya. Akibatnya, stabilitas kawasan dikorbankan. PBB sendiri menyebutkan Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia adalah bukti nyata bahwa dalam proxy war ini ambisi geopolitik dibayar dengan nyawa warga sipil.

Saat kasus ini dilihat menggunakan Regional Security Complex Theory, sangat jelas terlihat bahwa perang Yaman adalah gejala dari penyakit yang lebih besar yakni persaingan zero-sum game antara Arab Saudi dan Iran. Konflik ini bukan sekadar masalah sektarian Sunni-Syiah, melainkan pertarungan kekuasaan dalam sebuah kompleks keamanan yang saling bergantung. Selama Riyadh dan Teheran melihat keamanan satu sama lain sebagai ancaman eksistensial, Yaman akan terus membara.

Penyelesaian konflik ini menuntut lebih dari sekadar gencatan senjata lokal, justru konflik ini memerlukan diplomasi multilateral tingkat tinggi. Dialog langsung antara GCC dan Iran harus diinstitusionalkan untuk meredam ketegangan dalam kompleks keamanan regional. Aktor global harus mendorong mekanisme confidence-building measures (CBMs) yang menjamin keamanan perbatasan Saudi sekaligus mengakui peran politik sah faksi-faksi di Yaman tanpa campur tangan militer asing. Tanpa rekonsiliasi di level regional, Yaman akan tetap menjadi luka menganga di tubuh Timur Tengah.

Muhammad Raffi Rasya
Muhammad Raffi Rasya
saya adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Sriwijaya
Facebook Comment
- Advertisement -