Selasa, Juli 16, 2024

Pemilu 2024, Generasi Muda, dan “Kingmaker” Sesungguhnya

Muhammad Syariffuddin
Muhammad Syariffuddin
Magister Ilmu Agama Islam di UIN Walisongo Semarang

Komisi Pemilihan Umum (KPU) hampir menyelesaikan tugasnya dalam tahapan penyusunan daftar pemilih Pemilu 2024.  Pada 21 Juni 2023 nanti, kita akan sama-sama mengetahui jumlah warga negara yang bisa menyalurkan hak pilihnya dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.

Kendati belum ada jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT), KPU telah merilis Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang jumlahnya tidak akan jauh berbeda dari DPT. Berdasarkan DPS Pemilu 2024, ada sekitar 205,8 juta pemilih  yang dibagi dalam beberapa generasi.

Generasi paling sedikit pemilihnya, yakni Pre-Boomer yang lahir sebelum 1945 (1,77%), lalu Baby Boomer lahir 1946-1964 (13,79%), Gen X lahir 1965-1980 (28,05%), Milenial lahir 1981-1996 (33,55%), dan Gen Z  lahir 1997-2012 (22,84%).

Populasi generasi Milenial dan Z di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, rata-rata cukup dominan karena banyak yang memiliki piramida penduduk muda. Kelompok ini juga disebut-sebut sebagai generasi emas 2045, tepat saat RI berusia 100 tahun. Tak heran kemudian, suara dari generasi muda (Milenial+Z) yang jumlahnya diperkirakan mencapai 116 juta atau 56% dari total pemilih akan sangat diperhitungan dan diperebutkan dalam kontestasi Pemilu 2024 nanti.

Kabar dominannya suara anak muda dalam pemilu mendatang diikuti dengan tren baik partisipasi politik pemilih muda dalam satu dekade terakhir. Survei dari Studi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada September 2022 memperlihatkan adanya peningkatan persentase partisipasi politik pemilih muda dari Pemilu 2014 ke Pemilu 2019

Pada Pemilu 2014, partisipasi pemilih muda sebanyak 85,9%, sedangkan sisanya 11,8% mengaku tidak memilih atau golput, dan 2,3% lainnya tidak menjawab. Angka itu lalu  naik kembali pada Pemilu 2019 di mana 91,3%  partisipasi pemilih muda, sedangkan 8% tidak memilih, dan 0,7%  tidak menjawab.

Temuan CSIS ini seralas dengan data nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam “Statistik Politik” tahun 2014 dan 2019.  Secara umum, pada Pemilu 2014 presentase partisipasi masyarakat hanya 75,11%, sedangkan pada pemilu 2019 meningkat jadi 81,69%.

Menurut Sukendar (2017), pemilih muda memiliki ciri tersendiri di antaranya kritis, mandiri, visioner, independen, anti status quo, dan berkemajuan. Pemuda selalu identik dengan kemampuan adaptasi yang cepat dengan media sosial dan bisa dipandang sebagai kekuatan baru dalam dinamika politik di Indonesia.

Ya, karakter yang dominan dalam diri pemilih muda adalah keinginan akan perubahan, bahkan berharap bisa jadi agen perubahan itu sendiri (agent of change). Hal tersebut sangat berbeda dengan generasi tua yang lebih menginginkan stabilitas, kedamaian, dan cenderung tidak menyukai kejutan-kejutan dalam pemilu.

Generasi Muda Jadi “Kingmaker”

Percakapan publik kita hari ini diarahkan untuk memperhatian segelintir “orang kuat” di belakang bakal calon presiden. Sebut saja Presiden Joko Widodo yang dianggap  sebagai “kingmaker” Ganjar Pranowo, lalu Surya Paloh dan Jusuf Kallah sebagai kingmaker Anies Baswedan.

Fakta bahwa generasi muda adalah kingmaker sesunggunya seolah dipinggirkan. Generasi muda hanya dianggap sebagai objek suara yang diperebutkan, bukan sebagai subjek yang menentukan. Paradigma tersebut tentu harus diubah. Kuasa partai politik dalam menentukan siapa yang diusung sebagai calon presiden memang mutlak, tetapi itu selalu berdasarkan tingkat elektabilitas yang sumbernya dari kehendak rakyat.

Dalam beberapa tahun ke belakang, kita menyaksikan sendiri bagaimana kekuatan generasi muda berhasil membuat perubahan ke arah yang lebih baik di berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa suara dari satu pemuda, yakni Bima Yudho Saputro melalui kontennya di media sosial dapat mengubah insfrastuktur jalan di Provinsi Lampung. Kritikan dari Bima terbukti membuat gubernur dan pejabat di lingkungan Provinsi Lampung berbenah, bahkan gelombang kritikan tajam dari publik juga membuat Presiden Jokowi turun tangan untuk melakukan pembenahan.

Di bidang lingkungan, kita menyaksikan sendiri bagaimana kelompok anak muda yang tergabung dalam Pandawara Group mampu menggerakkan masyarakat untuk membersihkan Pantai Teluk Labuan, Pandeglang, Banten, yang jadi pantai terburuk di Indonesia. Hasilnya, gerakkan tersebut mampu membersihkan 200 ton sampah dan berhasil mendorong pemkab setempat untuk menjadikan pantai tersebut sebagai objek wisata.

Siapa pun calon presiden yang mampu menangkap suara generasi muda berpeluang besar memenangkan kontestasi Pilpres 2024. Pun sebaliknya, setiap calon presiden yang tidak menunjukkan keberpihakannya kepada generasi muda akan berpeluang lebih besar untuk kalah.

Pengaruh suara dari generasi muda ini sendiri terlihat dalam survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dirilis Mei 2023. Elektabilitas Ganjar Pranowo yang sebelumnya perkasa diurutan pertama harus turun ke posisi kedua. Salah satu penyebab hal itu bisa terjadi lantaran Ganjar dianggap sebagai sosok yang bertanggung jawab atas gagalnya pergelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia. Elektabilitas bakal calon presiden 2024 akan terus dinamis mengikuti watak dari pemilih muda itu sendiri.

Muhammad Syariffuddin
Muhammad Syariffuddin
Magister Ilmu Agama Islam di UIN Walisongo Semarang
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.