Pasca Hari Santri, Tradisi Pesantren Harus Menjadi Wajah Indonesia

Ahmad Umam Aufi
Ahmad Umam Aufi
Dosen agama Islam Politeknik Maritim Negeri Indonesia
- Advertisement -

Tanggal 22 Oktober yang lalu kita telah usai merayakan peringatan hari santri nasional. Banyak dari masyarakat muslim di Indonesia melaksanakan upacara, karnaval, dan agenda-agenda seremonial lainnya. Banyak juga instansi pemerintah yang menganjurkan para pegawainya untuk datang ke kantor dengan menggunakan peci, baju koko, dan sarung yang sering diidentikkan dengan para santri. Bahkan, perayaan ini tidak hanya dinikmati oleh umat Islam saja, melainkan umat non muslim yang merasa nyaman dengan kehadiran para santri di sekitarnya.

Meskipun begitu, perayaaan seremonial semacam itu tentu bukan yang diharapkan oleh para ulama yang dahulu berjuang mati-matian untuk tanah air. Resolusi jihad KH Hasyim Asy’ari tidak hanya sekedar membuat masyarakat Indonesia melakukan parade atau karnaval. Lebih dari itu, ia adalah panggilan jihad untuk siap mati demi tegaknya negara Indonesia dari cengkraman penjajah. Panggilan ini direspon para santri dengan gagap gempita di seluruh penjuru negeri.

Kita sebaga santri yang hidup setelah 74 tahun dikeluarkannya resolusi jihad, harus terus menjaga apa yang telah diperjuangkan para kiai dan santri saat itu. Upaya untuk merebut kedaulatan dan mewujudkan negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur tanpa memandang perbedaan suku, ras dan agama. Perbedaan ini disingkirkan jauh-jauh dalam rangka bersatu melawan kezaliman.

Oleh karena itu, Indonesia sebagai rumah warisan para kiai sudah semestinya kita jaga. Sebagai generasi yang dititipi tentu kita harus bersikap amanah dan berusaha semaksimal mungkin dalam menjaganya. Bahkan Islam memiliki konsep hifdhul mal (menjaga harta). Sudah semestinya Indonesia ini adalah harta yang harus dijaga bersama dengan segenap keberagaman dan pernak-perniknya.

Akhir-akhir ini, banyak dari sebagian kecil kelompok Islam mempermasalahkan perbedaan yang jauh sejak dahulu sudah ada di negeri ini. Sebagai kelompok mayoritas, mereka merasa superior dan berhak mendiskriminasi kelompok yang berbeda di luar mereka. Kasus seperti dipenjarakannya Meilina yang mengeluhkan volume pengeras suara masjid adalah sedikit contoh yang bisa kita ajukan.

Bahkan data yang dilansir Setara Institut menyebutkan bahwa pelanggaran atau kekerasan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia pada 2018 meningkat dibanidngkan tahun sebelumnya. Ada 109 tindakan intoleransi dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan (Tempo; Agustus 2018).

Islam kemudian nampak di dalam kehidupan berbangsa sebagai agama yang menakutkan bagi pemeluk agama lain. Indonesia sebagai rumah bersama yang dahulu telah diperjuangkan para ulama dan santri-santri secara sepihak diakuisisi  oleh superioritas umat Islam yang tentu tidak memiliki latar belakang kehidupan santri. Sehingga, Islam sebagai agama mayoritas yang semestinya hadir sebagai rahmat yang menyejukkan bagi yang lain menjadi hilang.

Meskipun secara kuantitas kecil, kelompok-kelompok seperti ini tidak bisa dibiarkan untuk mengklaim diri mereka sebagai representasi umat Islam Indonesia. Karena pada dasarnya, akar sejarah Islam di Indonesia yang damai, menerima perbedaan, tercermin dari bagaimana dakwah para wali melalui pendekatan kebudayaan.Persahabatan dengan budaya dan saling tegur sapa dengan yang lain, justru yang membuat Islam menyebar di seluruh Nusantara. Islam yang disebar di negeri ini tidak melalui kontak kekerasan apalagi peperangan.

Karena pada dasarnya, Islam di Indonesia yang disebar dan diajarkan oleh para wali adalah Islam yang telah terlembagakan di pesantren-pesantren (Abdurrahman MAs’ud; Intelektual Pesantren, 2004). Para kiai dengan kebijaksanaannya selalu mengedepankan akhlak dalam kehidupan para santri. Akhlak dengan demikian jauh berada di atas ilmu, meskipun dikotomi ini sebenarnya tidak terjadi pada tradisi santri. Karena ilmu, dalam kultur santri, selalu menumbuhkan akhlak yang baik. Semakin tinggi ilmu seorang santri, akan semakin baik akhlaknya.

Setelah perayaan hari santri, para santri harus memulai babakan baru dalam tantangannya menghadapi kelompok yang intoleran. Sudah tidak saatnya lagi wajah Islam di Indonesia “dicuri” oleh sebagian kecil umat Islam yang alergi terhadap perbedaan. Para santri harus mulai berani tampil di panggung publik Indonesia dan menunjukan wajah damai Islam.

- Advertisement -

Tradisi pesantren yang mengedepankan akhlak kepada sesama santri, kepada kiai-kiai dan masyarakat sekitar harus menjadi identitas keberislaman muslim di Indonesia. Ini adalah tantangan yang nyata bagi para santri sebelum euforia perayaan santri menguap dan menghilang dari persoalan-persoalan di muka bumi. Sudah saatnya, mengembalikan tradisi pesantren yang damai sebagai wajah Indonesia. Wallahu a’lam bis showab.

Ahmad Umam Aufi
Ahmad Umam Aufi
Dosen agama Islam Politeknik Maritim Negeri Indonesia
Facebook Comment
- Advertisement -