Kamis, Mei 30, 2024

Paradigma Teosentrisme sebagai Solusi Permasalah Lingkungan

Muhamad Rizky Tafaul Jahidin
Muhamad Rizky Tafaul Jahidin
Majors student in international relation, University of Mataram

Permasalahan lingkungan menjadi suatu diskursus yang tidak pernah habis untuk dibicarakan baik oleh peneliti, akademisi, pemerintah, dan badan organisasi lokal maupun internasional. Dengan adanya berbagai bencana alam yang terjadi dan jenis pola cuaca yang tidak menentu, manusia seharusnya menyadari permasalahan ini adalah hal nyata yang sedang dihadapi. Oleh karena itu upaya yang harus dilakukan pertama kali ialah dimulai dengan mengubah paradigma berpikir terhadap apa yang ada di dunia ini.

Jika dilihat dari berbagai macam permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini, manusia lebih mengedepankan paradigma berpikir yang disebut dengan Antroposentrisme, yaitu teori etika lingkungan yang memandang bahwa manusia sebagai pusat dari alam semesta ini. Sehingga nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya, bahwa hanya manusia yang menjadi unsur tertinggi dalam kehidupan. Oleh karena itu alam pun hanya dilihat sebagai obyek, alat bagi pemenuhan segala kebutuhan dan kepentingan manusia, dimana alam tidak mempunyai nilainya sendiri.

Paradigma Antroposentrisme ini dikatakan sebagai sumber dari permasalahan lingkungan. Namun dalam beberapa perdebatan paradigma ini mendapat pembelaan dari penganutnya yang mendorong manusia untuk terus melindungi lingkungan, mereka beranggapan bahwa paradigma Antroposentrisme tidak salah, namun dalam pelaksanaan atau implemetasinya dilakukan secara berlebihan dan itulah yang terjadi sekarang sehingga paradigma ini  diasumsikan sebagai sumber dari permasalahan lingkungan saat ini.[1]

Mengikutsertakan Tuhan

Teosentrisme merupakan teori etika lingkungan yang lebih memperhatikan lingkungan secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Pada teori ini, konsep etika dibatasi oleh agama dan kepercayaan dalam mengatur hubungan manusia dengan lingkungan.

Lingkungan merupakan suatu bagian dari entitas kehidupan manusia. Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai sebuah komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dijaga dan tidak disakiti. Ini menjadikan setiap perilaku manusia memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitarnya.

Manusia memiliki tanggung jawab untuk berprilaku baik dengan kehidupan sekitarnya. Dengan mengambil perspektif  ajaran Islam, paradigma teosentrisme mengajarkan bahwa manusia dengan lingkungan memiliki hubungan yang kuat karena Allah Swt menciptakan segala isinya di dunia dengan keseimbangan dan keserasian. Keseimbangan dan keserasian ini harus dijaga agar tidak mengalami kerusakan. Keberlangsungan kehidupan di alam saling berkaitan, jika salah satu komponen mengalami gangguan luar biasa maka akan berpengaruh juga terhadap komponen yang lain.

Baik buruknya suatu lingkungan, tergantung bagaimana manusia sebagi aktor utama dalam kehidupan, di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa kerusakan lingkungan baik darat maupun laut itu disebabkan oleh perilaku manusia karena eksploitasi yang dilakukan tidak sebatas untuk pemenuhan kebutuhan hidup namun didasarkan oleh nafsu, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak ada batasnya.

QS. Al-Baqarah Ayat 30 :

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya : dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada par malaikat “aku hendak menjadikan khalifah di bumi” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedanhkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nam-Mu?” Dia Berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 30 memberikan kewajiban bagi manusia untuk menjadi pemimpin, menjaga lingkungan di muka bumi yang dalam bahasa arab diartikan sebagai wakil Allah di muka bumi. Maka manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagai sebuah amanah yang diberikan. Menurut Quraisy Shihab, kekhalifahan ini mempunyai tiga unsur yang saling terkait, yaitu:

  • Manusia
  • Alam raya
  • Hubungan antara manusia dan alam raya dengan segala isinya.

Tak hanya dalam pandangan Islam, paradigma etika teosentrisme ini dapat dilihat di daerah Bali, konsep teosentrisme ini ditekankan dalam sebuah kearifan lokal yang dikenal dengan Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab hubungan yang harmonis untuk mencapai suatu kebahagiaan dan menjadi landasan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan). [3]

Contoh selanjutnya dalam cerita lokal masyarakat Batak yang memegang etika lingkungan teosentrisme bahwa di suatu lingkungan tertentu terdapat penguasa yang mereka percayai sebagai tokoh utama terjadinya alam yang ia sebut sebagai Debata Mulajadi Nabolon. Kemudian, Si Boru Deakparujar sosok yang dipercayai sebagai Dewa Bumi, Tanah, dan Hutan yang telah memberikan ajaran agar memanfaatkan bumi dan segala isinya dengan baik, arif, dan bijaksana. Jika ada yang mencoba merusak bumi dan isinya maka akan diberikan hukuman oleh Debata Mulajadi Nabolon.[4]

Berdasarkan pemaparan di atas, paradigma atau etika teosentrisme ini merupakan pandangan yang menegaskan dan menyadarkan manusia sebagai suatu makhluk yang memiliki kerterkaitan kuat dengan alam, sehingga diwajibkan untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungannya. Dalam paradigma ini, manusia diarahkan untuk melakukan suatu berdasarkan kebermanfaatan dirinya dan lingkungan, bukan berdasarkna keserakahan, nafsu dan hal semacamnya yang membuat manusia tidak pernah puas dalam mengeksploitasi alam dengan besar-besarnya.

Adanya rasa syukur merupakan salah satu ajarannya, dengan adanya rasa syukur tersebut, tentu manusia akan menerima apa yang ingin dipenuhi untuk kebutuhan hidup, bukan untuk keinginan akan kekayaan dan kejayaan yang tidak akan pernah ada habisnya.

Adanya permasalahan lingkungan hdup, menurut Passmore, tidak terpisah dari bagaimana cara manusia memandang terhadap kehidupan, yang pada kenyataannya pada saat ini banyak menimbulkan suatu perilaku eksploitatif terhadap alam. Oleh karena itu dengan adanya paradigma teosentrisme ini, yang menghendaki adanya perubahan sikap secara dalam dan menimbulkan sikap yang lebih bersahabat antara Manusia dengan lingkungan.

 Referensi

[1] Aristoteles  (1986),, The Politics. Middlesex: Penguin Books, hlm. 79

[2] Rabiah Z Harahap, ‘Tata Kota Yang Amburadul, Perusakan Alur Sungai Alamiah, Dan Pelanggaran Undang-Undang Yang Mengamankan Kawasan-Kawasan Tertentu Menjadi’, File:///F:/SKRIPSI/Journal/Deforestasi/42689-ID-Etika-Islam-Dalam-Mengelola-Lingkungan-Hidup.Pdf, 1.1 (2015).

[3] Dinas Lingkungan Hidup. (2018). Teori-teori Lingkungan Hidup. Diakses dari https://dinlh.slemankab.go.id/teori-teori-lingkungan-hidup/.

[4] Editora Guanabara and others, ‘Etika Lingkungan’.

 

 

 

Muhamad Rizky Tafaul Jahidin
Muhamad Rizky Tafaul Jahidin
Majors student in international relation, University of Mataram
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.