Sabtu, April 24, 2021

Pandemi dan Kesehatan Mental

Abu Nawas yang Ternyata Gay

Doktor Mun'im Sirry , cendekiawan Islam asal Madura yang kini menjadi asisten profesor di Fakultas Theologi, Universitas Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat, pernah menulis...

Malu-Malu dan Malu-Maluin dalam Bermedsos

Dalam al-Jami’ al-Ushul min Ahadits al-Rasul karya Ibn al-Atsir, Anas ibn Malik RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal setiap dosa;...

Nasib Honorer Siapa yang Memperhatikan?

Pendaftaran CPNS sebentar lagi akan digelar baik tingkat daerah maupun tingkat pusat, bahkan formasi dan kuota CPNS pun telah diumumkan. Namun ada hal yang...

Ada Apa dengan Pendidikan Kita?

Pendidikan adalah cara untuk memanusiakan manusia. Setidaknya inilah pernyataan yang banyak diterima oleh berbagai kalangan mengenai hakikat dari pendidikan. Seseorang yang menempuh dunia pendidikan...
Sagita Widyastuti
Nama: Sagita Widyastuti Prodi: Pendidikan Fisika

Akhir tahun 2019 dunia digemparkan dengan adanya penemuan coronavirus jenis baru yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina. Penyakit karena infeksi virus ini disebut Covid-19. Virus ini menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) totalnya lebih dari 79 juta terkonfirmasi positif dengan yang meninggal dunia lebih dari 1,7 juta tercatat dari keseluruhan negara yang memiliki kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Di Indonesia kasus pertama yang terkonfirmasi positif ditemukan pada bulan Maret di daerah Depok, Jawa Barat. Sejauh ini, hampir seluruh daerah di Indonesia terdapat kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19. Berdasarkan data yang diperoleh saat ini tercatat sebanyak 735.124 terkonfirmasi positif dengan 21.944 diantaranya meninggal dunia dan 603.741 dinyatakan sembuh.

Covid-19 ini memberikan banyak dampak positif maupun negatif. Secara keseluruhan, dampak Covid-19 ini membuat kehidupan masyarakat berubah total yang semula dapat bebas melakukan aktivitas di luar rumah, sekarang diharuskan melakukan hampir seluruh aktivitas di rumah. Hal paling dasar yang dilakukan untuk bertahan pada masa pandemi ialah menjaga kesehatan masing-masing, baik dari segi fisik maupun psikis, serta mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan guna mencegah penyebaran virus ini. Misalnya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yaitu pembatasan aktivitas masyarakat dan penerapan protokol kesehatan yang disertai penegakan sanksi bagi yang melanggar. Akibatnya semua aktivitas dipusatkan di rumah seperti belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah. Selain itu, pemerintah telah memberikan fasilitas serta pelayanan untuk membantu masyarakat bertahan pada masa pandemi ini. Namun, semua itu akan sia-sia apabila masyarakat sendiri tidak peduli dengan bahaya yang mengancam dan mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku.

Perubahan yang dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dapat berdampak pada kesehatan psikologis yang nantinya dapat berimbas pada kesehatan fisiknya. Sehingga perlu adanya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan psikologis maupun fisik masing-masing.

Masalah psikologi yang muncul sebagai dampak dari Covid-19 antara lain gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder), kebingungan, kegelisahan, frustrasi, ketakutan akan infeksi, insomnia dan merasa tidak berdaya [Brooks dkk.2020]. Stres merupakan tekanan atau kekhawatiran yang disebabkan oleh masalah dalam hidup seseorang. Apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung, masalah berat badan, depresi, dan gangguan imun.

Menurut Ketua Umum PDSKJI DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS, sejak pertama kali ditemukannya kasus Covid-19, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) segera meluncurkan swaperiksa web guna mencegah kepanikan massal dalam suasana batin yang mencekam. Selama Maret-Oktober 2020 ditemukan 32 persen mengalami masalah psikologis dan 68 persen tidak ada masalah psikologis. 67,4 persen dari 2606 swaperiksa mengalami gejala cemas, 67,3 persen dari 2294 swaperiksa mengalami gejala depresi, 74,2 persen dari 761 swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis, dan 68 persen dari 110 swaperika memiliki pemikiran tentang bunuh diri.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro, dr. Leonardi Goenawan, Sp.KJ mengatakan, setidaknya ada tiga tahapan psikologis yang bisa dialami oleh setiap individu selama pandemi Covid-19 ini. Antara lain adalah tahap disrupsi (perubahan berbagai pola hidup), tahap kebingungan dan ketidakpastian, hingga akhirnya sampai pada tahap penerimaan atau menerima tanpa syarat terhadap kondisi yang ada berkaitan dengan pandemi ini. Namun, tidak semua orang memiliki ketangguhan yang sama untuk mencapai tahap penerimaan. Seseorang yang biasanya mudah tertekan, akan merasakan dampak pandemi ini lebih berat

Setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi masalah psikologis masing-masing. Beberapa langkah atau cara yang bisa diterapkan dalam menghadapi pandemi ini dengan baik hingga benar-benar berakhir antara lain dengan beristirahat. Setidaknya tubuh dan otak perlu diberikan waktu beristirahat dari menonton, membaca, mendengarkan berita, termasuk media sosial karena mendengarkan informasi pandemi berulang kali bisa membuat hanyut dalam kekhawatiran yang berlebihan.

Menjaga gaya hidup sehat dengan asupan gizi yang cukup, pola tidur yang baik, olahraga, dan berinteraksi dengan orang-orang yang disayang bisa membantu dalam mengatasi masalah psikologis. Selain itu, dianjurkan untuk menghindari konsumsi alkohol, rokok dan obat-obatan yang tidak perlu.

Hal lain yang dapat dilakukan ialah memberi waktu pada diri sendiri untuk bersantai dengan melakukan aktivitas yang disukai. Aktivitas fisik dan olahraga terbukti penting dalam manajemen stres yang efektif karena dapat menurunkan kadar hormon-hormon stres seperti adrenalin dan kortisol dalam tubuh.

WHO merumuskan strategi untuk menghadapi stres selama pandemi Covid-19 yaitu, a.) Berbincang dan berbagi cerita dengan orang-orang yang dapat dipercayai bisa membantu mengurangi rasa tertekan yang dialami. b.) Berdiam di rumah lebih dianjurkan untuk meminimalisir penyebaran virus dan kontak fisik dengan orang banyak.

Menjaga gaya hidup sehat dengan asupan gizi yang cukup, pola tidur yang baik, olahraga dan berinteraksi dengan orang-orang yang disayang bisa dilakukan selama berdiam di rumah. c.) Menghindari rokok, alkohol dan narkotika untuk menyelesaikan masalah emosi. d.) Mencari fakta-fakta dan info terbaru yang dapat membantu dalam menentukan tahap pencegahan yang tepat dan menghindari berita-berita yang tidak valid dan kredibel. e.) Mengurangi kecemasan dengan membatasi media yang menyebarkan informasi yang membuat semakin cemas dan takut. f.) Mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki untuk mengatur emosi selama masa pandemi ini.

Selama masa pandemi ini diperlukan kondisi psikis dan fisik yang prima untuk bertahan. Meskipun Covid-19 merupakan virus yang menyerang kesehatan dalam segi fisik namun juga memiliki dampak sama besarnya dalam segi psikis sehingga perlu adanya perhatian terhadap kondisi psikis masing-masing. Cara setiap orang dalam megatasi masalah psikologisnya dapat bermacam-macam. Apabila dengan cara masing-masing tidak berhasil, sangat disarankan untuk menemui dan berkonsultasi kepada ahlinya agar mendapat penanganan yang sesuai.

Referensi:

Muslim,Moh.2020.Manajemen Stress pada Masa Pandemi Covid-19.Jurnal Manajemen Bisnis Volume 23 Nomor 2 (halaman 193-200)

Brooks,S.K.,Webster,R.K.,Smith,L.E.,Woodland,L.,Wessely,S.,Greenberg,N.,& Rubin,G.J.(2020).The Psychological Impact Of Quarantine And How To Reduce It: Rapid Review Of The Evidence.Lancet, 395 (10227),912–920

https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/15/123200423/5-langkah-mengatasi-gangguan-psikologis-akibat-pandemi-corona?page=all

https://www.tribunnews.com/kesehatan/2020/10/14/pdskji-sebut-cemas-jadi-masalah-kesehatan-jiwa-yang-dominan-selama-pandemi

https://www.who.int/publications/m/item/weekly-epidemiological-update—29-december-2020

Sagita Widyastuti
Nama: Sagita Widyastuti Prodi: Pendidikan Fisika
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.