Minggu, Juli 14, 2024

Pandangan Generasi Z Terhadap Sains dalam Film Interstellar

Triyatna Fatma Sari
Triyatna Fatma Sari
just another papercut survivor

Film sci-fi legendaris besutan Christoper Nolan yang rilis tahun 2014, Interstellar kembali mengguncangkan dunia perfilman. Pasalnya, film dengan tema astronomi ini akan dirilis ulang di layar lebar untuk memperingati perayaan sepuluh tahun mahakarya ini.

Film ini menceritakan perjuangan sekelompok astronot untuk mencari tempat tinggal baru di luar angkasa melalui sebuah wormhole atau lubang cacing di dekat planet Saturnus. Film ini mendapatkan banyak ulasan positif dari berbagai kritikus. Film ini juga banyak meraih prestasi di antaranya 44 penghargaan dan 148 nominasi.

Kesuksesan filmnya yang luar biasa tidak luput dari segi alur ceritanya yang sangat menarik. Menjelaskan tentang misi para astronot yang terdengar mustahil dan sedikit sulit dicerna otak namun tetap dirangkum dengan apik.

Film ini pun mengangkat banyak fenomena astronomi berdasarkan teori dan hukum sains yang akurat. Kip Stephen Thorne, seorang ilmuwan fisika peraih nobel bahkan ikut turun tangan dalam pembuatan film ini dan beliau menulis sebuah buku yang berjudul “The Theory of Interstellar” dimana buku itu menjelaskan berbagai macam teori dibalik film tersebut.

Beberapa fenomena sains yang ada dalam film tersebut antara lain:

Kerusakan bumi

Interstellar mengambil latar tahun 2067, dari awal film sudah diperlihatkan dengan jelas bagaimana penampakan bumi sudah sangat memprihatikan, tidak ada lagi tumbuhan kecuali jagung.

Para petani gagal panen besar-besaran dikarenakan hama hawar, sejenis jamur yang menyerang tumbuh-tumbuhan dan hanya jagung serta okra yang mampu bertahan dengan hama ini, ditambah adanya badai debu yang menyebabkan segalanya hampir tidak terlihat.

Hal ini semakin mirip dengan keadaan bumi di masa ini, populasi pepohonan yang kian minim dan semakin banyaknya polusi yang bahkan menyebabkan langit tidak bisa lagi terlihat biru cerah. Itu semua tidak luput dari pola hidup dan kebiasaan manusia yang banyak masa bodo soal lingkungan, maka bukan tidak mungkin bumi ini akan nampak sama seperti apa yang digambarkan pada film. Jadi, sebelum terlambat, mari kita sama-sama menjaga bumi tercinta kita ini.

Lubang Hitam Gargantua

Dalam film interstellar, ada sebuah lubang hitam bernama Gargantua yang diorbit oleh planet Miller dan planet Mann, lubang hitam ini berukuran sangat besar dan bergerak dengan sangat cepat. Dalam film, Gargantua divisualisasikan sebagai sebuah lubang dengan piringan akresi yang tipis. Sang ilmuwan Kip Thorne mendasarkan visualisasi Gargantua pada Teori Relativitas Umum Einstein.

Namun, pada tahun 2019, tepat 5 tahun setelah Interstellar dirilis, para ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil menangkap foto lubang hitam yang sebenarnya yang berada di galaksi M87, foto tersebut bahkan diambil menggunakan gabungan berbagai teleskop selama tujuh tahun, namun nyatanya lubang hitam M87 dengan Gargantua nampak berbeda, lubang hitam M87 terlihat lebih terang serta tidak memiliki piringan akresi, mirip seperti sebuah donat.

Banyak orang yang bertanya-tanya tentang kebenaran teori ini, dan di tahun yang sama Kip Thorne menjelaskan hal ini dalam kelas studinya di Cardiff University bahwa Gargantua dan lubang hitam M87 adalah sama, hanya saja Gargantua divisualisasikan secara tampak depan, sementara foto lubang hitam M87 diambil dari sudut pandang tampak atas.

Perbedaan Waktu

Sebelum sang pemeran utama yaitu Cooper terbang ke luar angkasa, dia memberikan sebuah jam tangan pada anak permpuannya dan mengatakan bahwa ketika ia kembali maka waktu yang ditunjukkan oleh jam tangan anaknya akan sama dengan jam tangan yang ia pakai saat ke luar angkasa. Perbedaan waktu ini merupakan sebuah konsep dari Teori Relativitas Khusus Einstein yang disebut dengan dilatasi waktu. Dilatasi waktu merupakan konsep dimana kecepatan pengamatan antar dua pengamat akan berpengaruh pada waktu. Waktu tersebut akan relatif pada kecepatan konstan, yaitu kecepatan cahaya.

Saat di planet Miller, dijelaskan bahwa rentan waktu di sana berputar lebih cepat dibandingkan waktu yang berputar di planet Bumi. Di film dijelaskan bahwa satu jam di Miller sama dengan tujuh tahun di Bumi.

Sama seperti sebelumnya, permasalahan ini nyatanya juga bisa dijelaskan dengan Teori Relativitas Umum Einstein. Dalam teorinya, Einstein menjelaskan bahwa gravitasi muncul sebagai bagian dari ruang dan waktu, yang artinya waktu dapat berbeda-beda pada setiap tempat. Tapi, apa benar 1 jam di luar angkasa sama dengan 7 tahun di bumi? Tidak.

Perbedaan waktu bumi dengan luar angkasa tidak terjadi sejauh itu, jam di ISS (International Space Station) berjalan 0,007 detik lebih lambat dari bumi, yang artinya luar angkasa sana hanya berbeda sekian mikrodetik saja dengan planet kita, namun bukan berarti teori ini salah. Teori ini sudah sepenuhnya benar, hanya saja penguluran waktu dalam film dibuat lebih panjang untuk menciptakan suasana dramatis.

Dimensi ke-5

Dalam sains, dimensi kelima adalah gabungan kompleks antara gravitasi, ruang, dan waktu. Artinya, dalam dimensi kelima akan terdapat multiple timeline, yakni peristiwa rentetan waktu yang bisa bergerak maju atau mundur dalam ruang tanpa batas.

Dalam film, ada adegan di mana Cooper terjebak dalam sebuah Tesseract atau ruangan abstrak di mana dia bisa melihat kejadian-kejadian di masa lalu. Namun, para ilmuwan menyatakan bahwa dimensi kelima sulit untuk diamati secara langsung. Matematika memandang dimensi kelima sebagai konstrukai teoretis yang berarti dapat dijelaskan secara teori namun belum bisa dibuktikan secara pengamatan.

Itu dia beberapa ragam sains yang terdapat dalam film Interstellar. Faktanya, masih ada banyak hal yang bisa dikulik dari film ini. Meskipun terkesan sulit dimengerti, namun pada nyatanya sains sangat menarik. Segala hal dalam Interstellar memang menakjubkan, namun sebagai manusia yang setiap hari terbiasa menghirup oksigen bumi, ada baiknya semua itu tidak terjadi dengan cara menjaga lingkungan dan kelestarian bumi kita serta mulailah tergerak dalam penghijauan agar kerusakaan bumi dan perpindahan umat manusia ke planet lain tidak terjadi.

Triyatna Fatma Sari
Triyatna Fatma Sari
just another papercut survivor
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.