Minggu, November 30, 2025

Nilai Altruistik: Privilege, Pengalaman, atau Kekayaan?

Fahad Adzriel
Fahad Adzriel
Atau dikenal dengan nama asli Abdullah Hasanudin; Penulis, sekaligus seorang mahasiswa Islamic Studies of Islamic Open University, Gambia Afrika
- Advertisement -

Abstrak

Opini ini mengeksplorasi paradoks dalam pencapaian kesuksesan di masyarakat kontemporer, di mana kekayaan sering kali ditempatkan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai hasil. Melalui analisis naratif, artikel ini membedah perjalanan menuju kesuksesan menjadi tiga tahap yang berbeda: Kekayaan Tanpa Nilai, Kekayaan dengan Nilai Teknis, dan Kekayaan dengan Nilai Altruistik.

Argumen utama yang diajukan adalah bahwa tahap tertinggi, yang dicirikan oleh penciptaan nilai bagi orang lain (altruisme), tidak hanya menjamin keberlanjutan kesuksesan material tetapi juga selaras dengan kebijaksanaan spiritual yang abadi, khususnya dalam ajaran Islam. Artikel ini menyimpulkan bahwa dengan menjadikan penciptaan nilai altruistik sebagai tujuan utama, kekayaan yang sejati dan bermakna akan menjadi konsekuensi yang alami.

Manakah yang lebih penting untuk dikejar dalam lorong-larikan karir dan kehidupan: Privilege (hak istimewa) seperti koneksi dan latar belakang keluarga, pengalaman yang membentuk ketangguhan, atau kekayaan yang menjanjikan kebebasan materi? Pertanyaan ini sering kali menggema, namun ia mungkin mengaburkan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: adakah sesuatu yang lebih hakiki dari semua itu, yang justru menjadi akar dari ketiganya?

Kekayaan sebagai Tujuan Akhir: Sang Raja yang Keliru

Dewasa ini, kesuksesan hampir disamakan secara mutlak dengan akumulasi kekayaan (kekayaan). Mobil mewah, rumah megah, dan gaya hidup glamor telah menjadi indikator universal bahwa “seseorang telah berhasil.” Obsesi ini bukan tanpa alasan. Di tengah tekanan ekonomi dan hiruk-pikuk media sosial yang merayakan kemewahan, kekayaan menjadi penanda yang paling terlihat dan mudah dipahami (tangible). Ia adalah jawaban sederhana untuk pertanyaan kompleks tentang status dan keamanan (security).

Namun, di balik gemerlapnya, terdapat sebuah paradoks. Banyak yang mengejar uang secara langsung justru menemui jalan buntu atau kepuasan yang hampa. Mereka lupa bahwa dalam logika yang benar, uang seharusnya adalah output, bukan goal (Drucker, 1993). Ia adalah hasil sampingan dari sesuatu yang lebih mendalam. Ketika kita menjadikannya sebagai tujuan utama, kita seperti berlari di treadmill terus bergerak tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke tempat yang bermakna.

Tiga Panggung Kesuksesan: Dari yang Rapuh menuju yang Bermakna

Untuk memahami paradoks ini, kita dapat memetakan perjalanan kesuksesan ke dalam tiga tahap yang berbeda:

1. Tahap 1: Kekayaan Tanpa Nilai (The Fragile Foundation). Ini adalah tahap di mana seseorang mendapatkan kekayaan tanpa dibangun di atas nilai yang sejati. Kekayaan di tahap ini seperti rumah dari kartu cepat terkumpul, tetapi mudah runtuh oleh satu krisis atau perubahan tren. Ia rapuh dan seringkali meninggalkan kehampaan.

2. Tahap 2: Kekayaan dengan Nilai Teknis (The Solid Base). Di sini, kekayaan datang dari keahlian teknis (hard skills) yang mumpuni. Kekayaannya lebih stabil karena berbasis kompetensi. Namun, ia masih terbatas karena penghasilannya seringkali masih bergantung pada waktu dan tenaga yang dikeluarkan secara individual.

3. Tahap 3: Kekayaan dengan Nilai Altruistik (The Exponential Growth). Inilah panggung tertinggi, di mana kesuksesan finansial lahir dari kontribusi dan dampak bagi orang lain (altruism). Kekayaan bukan dikejar, tetapi “datang” sebagai konsekuensi logis dari nilai luar biasa yang diciptakan bagi komunitas (Komives et al., 2013). Kekayaannya berkelanjutan, penuh makna, dan multiplikatif.

- Advertisement -

Start Nol dan Pertarungan “Aku” versus “Kita”

Setiap orang memulai dari “start nol” yang berbeda-beda. Namun, perjalanan dari satu tahap ke tahap berikutnya pada dasarnya adalah perjalanan pola pikir (mindset). Inti dari Tahap 1 dan, pada tingkat tertentu, Tahap 2, adalah memperkaya diri sendiri. Motivasi utamanya adalah “Aku”. Pertanyaannya, “Bagaimana dunia bisa memenuhi keinginanku?” Fokusnya adalah pada accumulation (penumpukan).

Sikap ini berseberangan tajam dengan jiwa Tahap 3, yang bersifat altruistik. Mindset-nya adalah “Kita”. Pertanyaannya berubah menjadi, “Bagaimana aku bisa melayani dan memecahkan masalah bagi orang lain?” Fokusnya pada distribution (penyebaran). Sifat egois, yang hanya memikirkan kepentingan diri, adalah penghalang terbesar untuk mencapai tahap ini (Dweck, 2016). Di sini, kesuksesan diukur oleh seberapa besar gelombang positif yang dihasilkan bagi kehidupan orang lain.

Telah Diajarkan Sejak Lama: Kebijaksanaan Al-Qur’an tentang Nilai

Konsep modern tentang “menciptakan nilai altruistik” ini sejatinya adalah prinsip abadi yang diajarkan dalam Islam. Sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ahmad). Hadits ini adalah blueprint sempurna untuk Tahap 3, di mana parameter kesuksesan tertinggi (“sebaik-baik manusia”) ditentukan oleh tingkat manfaat yang diberikannya kepada orang lain (“paling bermanfaat”).

Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92). Ayat ini dengan jelas menghubungkan tindakan memberi sebuah tindakan altruistik dengan pencapaian “kebajikan,” yang merupakan bentuk kekayaan spiritual dan materi yang sejati. Proses “belajar dan mengajarkan” yang dianjurkan dalam Islam adalah metafora sempurna untuk siklus penciptaan nilai: memperkaya diri dengan pengetahuan (nilai internal) lalu menyebarkannya untuk memberdayakan orang lain (nilai eksternal).

Kesimpulan: Kembali ke Esensi yang Benar

Jadi, jawaban dari pertanyaan pemantik adalah: bukan privilege, bukan pula pengalaman atau kekayaan semata yang harus menjadi tujuan utama. Ketiganya hanyalah alat atau batu loncatan. Tujuan hakiki yang harus dikejar adalah menjadi pribadi yang bernilai altruistik, manusia yang bermanfaat. Privilege dan pengalaman adalah modal berharga untuk mempercepat pencapaian kapasitas memberi. Kekayaan adalah hasil yang niscaya akan mengikuti ketika nilai yang diciptakan telah menyentuh dan memecahkan masalah banyak orang.

Jalan Tahap 3 memang memerlukan ketahanan dan kemenangan atas ego. Namun, inilah jalan yang tidak hanya menjadikan individu “kaya,” tetapi juga “berarti.” Pada akhirnya, dengan menjadikan nilai altruistik sebagai kompas, kesuksesan yang diperoleh bukan hanya bersifat finansial, tetapi juga holistik, berkelanjutan, dan penuh makna.

Fahad Adzriel
Fahad Adzriel
Atau dikenal dengan nama asli Abdullah Hasanudin; Penulis, sekaligus seorang mahasiswa Islamic Studies of Islamic Open University, Gambia Afrika
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.