Menjadi Dewasa di Surabaya: Catatan Seorang Perantau Sunda Era 2

Jaka Ghianovan
Jaka Ghianovan
Dosen di perguruan tinggi Islam kota Tangerang. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center Research of Islamic Studies (CRIS) Foundation. Pecinta Studi al-Qur`an, ilmu Sosial dan Sejarah Islam juga Indonesia. Penikmat kopi susu dan travelling.
- Advertisement -

Ketika meninggalkan Surabaya pada 2019, saya tidak menyadari bahwa suatu hari saya akan merindukan suara kondektur lyn.

“T2.. T2… Joyoboyo-Kenjeran!”

“Lyn S… Lyn S…. Bratang”

Kalimat itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun bagi saya, suara tersebut adalah bagian dari soundtrack kehidupan selama lima belas tahun tinggal di Surabaya. Saya datang dari Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 2004. Saat itu saya masih remaja. Ketika meninggalkan kota itu lima belas tahun kemudian, saya pulang sebagai seorang magister yang telah melewati berbagai fase kehidupan: pelajar, mahasiswa, aktivis, pencari ilmu, hingga pekerja.

Banyak orang mengenal Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Namun bagi saya, Surabaya adalah universitas kehidupan. Saya masih mengalami Surabaya sebelum banyak hal berubah. Saya mengenal Terminal Joyoboyo yang lama: padat, bising, penuh asap kendaraan, tetapi justru di sanalah denyut kota terasa begitu nyata. Saya tumbuh bersama trayek-trayek lyn yang menjadi urat nadi mobilitas warga kota. Salah satu yang paling saya ingat adalah T2 jurusan Joyoboyo-Kenjeran-Mulyosari. Dari dalam kendaraan itu saya belajar mengenali Surabaya sedikit demi sedikit; jalan-jalannya, kampung-kampungnya, logat masyarakatnya, hingga ritme kehidupan yang khas.

Sebagai anak Sunda, saya sempat mengalami gegar budaya. Di lingkungan asal saya, orang terbiasa berbicara dengan nada yang halus dan penuh basa-basi. Di Surabaya saya menemukan dunia yang berbeda. Orang berbicara lugas, cepat, bahkan terkadang terdengar keras. Pada awalnya saya mengira mereka sedang marah. Belakangan saya memahami bahwa itulah bahasa kejujuran khas Arek Suroboyo. Mereka mungkin tidak selalu berbicara dengan kata-kata yang manis, tetapi sering kali tulus dalam tindakan.

Masa sekolah saya habiskan di SMP Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya dan SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Dari dua sekolah itulah saya mulai memahami bahwa Surabaya bukan sekadar kota besar di Jawa Timur, melainkan titik temu berbagai identitas. Saya bertemu teman-teman dari keluarga Jawa, Madura, Arab, Tionghoa, hingga berbagai daerah lain di Indonesia.

Pengalaman itu semakin luas ketika saya melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel yang kemudian bertransformasi menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya. Saya termasuk generasi yang menyaksikan perubahan historis tersebut secara langsung. Transformasi itu bukan hanya perubahan nama institusi, melainkan perubahan cara pandang akademik yang semakin terbuka terhadap berbagai disiplin ilmu.

Di kampus inilah cakrawala saya benar-benar berubah. Saya berjumpa dengan mahasiswa dari Madura, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Malaysia, terutama dari Sarawak. Untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa pengalaman keislaman tidak pernah tunggal. Islam yang saya kenal di Jawa Barat ternyata memiliki ekspresi yang berbeda ketika bertemu tradisi Madura, kultur Melayu Sarawak, maupun pengalaman masyarakat daerah lain.

Di lingkungan kampus pula saya berkenalan dengan beragam corak pemikiran dan gerakan Islam. Dari tradisi Muhammadiyah yang sudah saya kenal sejak SMA, budaya Nahdlatul Ulama yang sangat kuat di Jawa Timur, hingga kelompok-kelompok dakwah kampus dengan corak yang beragam. Banyak diskusi yang membuat saya mempertanyakan kembali asumsi-asumsi lama yang sebelumnya saya anggap pasti. Tidak semuanya berjalan mulus. Ada masa-masa kebingungan intelektual, pergolakan pemikiran, bahkan krisis identitas. Namun justru proses itulah yang kemudian mengajarkan saya untuk melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

- Advertisement -

Surabaya juga mengajarkan saya bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pendidikan terjadi ketika berburu buku di Gang Dosen sekitar kampus maupun di kawasan Blauran. Pendidikan terjadi ketika mendengarkan obrolan sesama penumpang di dalam lyn. Pendidikan terjadi ketika menyaksikan ribuan Bonek berjalan dari Ngagel menuju Tambaksari dengan nyanyian yang menggema sepanjang jalan. Saya memang tidak pernah menjadi penonton rutin di stadion, tetapi saya pernah merasakan energi kolektif yang menjadikan Persebaya lebih dari sekadar klub sepak bola. Ia adalah identitas kota.

Saya juga menyaksikan wajah Surabaya yang berubah. Saya mengenal kawasan Tunjungan ketika belum seramai sekarang. Saya melihat Jembatan Merah Plaza dalam berbagai fase perkembangannya. Saya menikmati Minggu pagi di kawasan Darmo ketika Car Free Day mulai menjadi bagian dari gaya hidup warga kota. Saya menyaksikan perubahan wajah kampus, jalan-jalan kota, serta ruang-ruang publik yang perlahan menjadi lebih modern.

Namun ada satu pemandangan yang selalu membekas dalam ingatan saya: musim wisuda di UIN Sunan Ampel. Saat itu kampus berubah menjadi lautan manusia. Satu keluarga bisa datang dengan satu ELF atau bahkan satu bus penuh dari kampung halaman. Orang tua datang dengan pakaian terbaik mereka. Ada yang menempuh perjalanan berjam-jam demi melihat anaknya mengenakan toga. Mahasiswa internasional dari Sarawak sering didampingi perwakilan lembaga yang membiayai pendidikan mereka. Momen itu selalu mengingatkan saya bahwa sebuah gelar akademik bukan hanya pencapaian individu, tetapi juga hasil perjuangan kolektif keluarga dan komunitas.

Kenangan lain yang tidak kalah kuat adalah perjalanan pulang-pergi antara Surabaya dan Tasikmalaya. Saya masih mengingat Stasiun Pasar Turi dan Stasiun Gubeng dalam wajah lamanya. Saya masih mengingat masa ketika perjalanan kereta terasa jauh lebih lambat dibanding sekarang. Saya masih ingat cerita-cerita tentang pelemparan batu ke kereta di sejumlah jalur, gerbong yang dipenuhi suporter sepak bola, serta suasana stasiun yang jauh lebih sederhana dibanding era modern saat ini.

Kini, setelah bertahun-tahun meninggalkan Surabaya, saya menyadari bahwa kota itu tidak hanya memberi saya pendidikan formal. Surabaya membentuk cara saya berpikir, cara saya melihat keberagaman, dan cara saya memahami Indonesia. Saya datang sebagai seorang anak Sunda dari Tasikmalaya. Saya pulang sebagai seseorang yang membawa sedikit keberanian khas Arek Suroboyo dalam dirinya. Dan mungkin itulah alasan mengapa, hingga hari ini, sebagian diri saya masih tertinggal di sana.

Jaka Ghianovan
Jaka Ghianovan
Dosen di perguruan tinggi Islam kota Tangerang. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center Research of Islamic Studies (CRIS) Foundation. Pecinta Studi al-Qur`an, ilmu Sosial dan Sejarah Islam juga Indonesia. Penikmat kopi susu dan travelling.
Facebook Comment
- Advertisement -