Ketika Amerika Serikat dan Israel merancang serangan udara yang menewaskan Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, logika di balik operasi itu kemungkinan besar bertumpu pada asumsi yang sudah sangat tua dalam strategi militer: hancurkan kepalanya, maka tubuhnya akan mati. Asumsi itu keliru.
Iran tidak hanya bertahan, tetapi melakukan transisi kepemimpinan dengan cepat, menggelar prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah modern, dan kembali ke meja perundingan dalam posisi yang justru lebih kuat. Untuk memahami mengapa strategi penghancuran kepemimpinan gagal total di Iran, kita harus memahami satu hal yang paling sering diabaikan oleh para analis Barat: Iran tidak memiliki satu tentara, melainkan dua, dengan misi yang secara fundamental berbeda satu sama lain.
Dua Tentara dengan Dua Misi yang Berbeda
Artes, angkatan bersenjata reguler Iran, menjalankan fungsi yang familiar bagi siapapun yang memahami militer konvensional. Mereka bertugas melindungi kedaulatan wilayah dan perbatasan negara, bersifat defensif, dan beroperasi di bawah wewenang presiden meskipun pada akhirnya tetap tunduk kepada Pemimpin Agung.
Garda Revolusi Islam atau IRGC adalah entitas yang sama sekali berbeda. IRGC tidak dibentuk untuk melindungi wilayah. Ia dibentuk untuk melindungi sistem teokrasi itu sendiri, sebuah misi ideologis yang jauh lebih luas dan lebih dalam dari sekadar menjaga perbatasan fisik. IRGC berada langsung di bawah komando Pemimpin Agung, bukan presiden, bukan parlemen. Ia bertanggung jawab kepada sumber kekuasaan tertinggi dalam sistem dan hanya kepada sumber itu.
Seperti yang dijelaskan oleh Orsi, Avgustin, dan Nurnus (2018) dalam Realism in Practice, keberadaan pasukan paralel yang setia secara ideologis kepada sistem, bukan kepada individu pemimpin, adalah salah satu mekanisme paling efektif untuk mencegah kudeta militer dan memastikan keberlangsungan rezim bahkan di tengah krisis kepemimpinan. Iran tidak menemukan konsep ini secara kebetulan. Ia adalah pelajaran yang dipetik dari sejarah panjang intervensi asing dan ketidakstabilan internal yang nyaris menghancurkan Iran berkali-kali.
IRGC: Lebih dari Sekadar Tentara
Yang membuat IRGC jauh lebih signifikan dari Artes dalam konteks konflik kontemporer adalah penguasaannya atas senjata-senjata strategis paling canggih yang dimiliki Iran. Rudal balistik, drone jarak jauh, dan pengawasan Selat Hormuz semuanya berada di tangan IRGC, bukan Artes. Ketika Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, ancaman itu bukan datang dari kementerian pertahanan atau panglima militer reguler. Ia datang dari institusi yang langsung terhubung ke Pemimpin Agung dan yang mengendalikan kapasitas militer paling mematikan yang dimiliki Iran.
Williams (2008) dalam Security Studies: An Introduction mengingatkan bahwa penilaian kekuatan militer suatu negara yang hanya melihat angkatan bersenjata reguler akan selalu menghasilkan kesimpulan yang salah ketika negara tersebut memiliki struktur kekuatan ganda. Kesalahan penilaian ini adalah salah satu alasan mengapa strategi tekanan militer terhadap Iran terus menghasilkan kejutan bagi perencana strategis di Washington dan Tel Aviv.
IRGC juga bukan hanya tentara dalam pengertian konvensional. Ketika protes dalam negeri mengancam stabilitas sistem teokrasi, IRGC yang turun tangan untuk meredam, bukan polisi biasa. Ketika wilayah Selat Hormuz perlu dijaga dari kehadiran kapal-kapal asing dan pangkalan militer Amerika yang berada tidak jauh dari sana, IRGC yang mengambil alih pengawasan. Institusi ini adalah tulang punggung pertahanan sistem dari segala arah, baik dari luar maupun dari dalam.
Mengapa Mossadegh Masih Relevan Hari Ini
Untuk memahami mengapa rakyat Iran menerima keberadaan IRGC sebagai institusi yang sah dan bahkan dicintai, kita perlu kembali ke 1953. Kudeta yang diakui oleh CIA Amerika Serikat dan intelijen Inggris itu menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, seorang pemimpin demokratis yang ingin menasionalisasi minyak Iran agar hasilnya bisa kembali kepada rakyatnya sendiri. Sebelum itu, konsesi kepada pengusaha Inggris atas sumber daya minyak Iran di masa Dinasti Qajar telah menjadi luka yang lebih awal.
McGlinchey (2017) dalam International Relations menjelaskan bahwa memori kolektif tentang intervensi asing membentuk identitas politik nasional dengan cara yang bertahan jauh lebih lama dari peristiwa pemicunya. Bagi rakyat Iran, IRGC bukan sekadar pasukan bersenjata. Ia adalah simbol bahwa Iran, kali ini, memiliki kekuatan untuk mencegah Mossadegh lain terjadi kembali. Ia adalah penjamin bahwa tidak ada kekuatan asing yang bisa kembali meruntuhkan kedaulatan Iran dari dalam.
Revolusi 1979 mengintegrasikan keyakinan ini ke dalam struktur negara secara permanen. Sistem teokrasi yang lahir darinya, dengan segala kompleksitasnya, adalah jawaban institusional atas satu pertanyaan mendasar: bagaimana caranya membangun negara yang benar-benar tidak bisa dikontrol dari luar?
Transisi yang Membuktikan Segalanya
Pemilihan Mujtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung ketiga, meskipun dilakukan dalam kondisi perang dan oleh sebagian pengamat dianggap tergesa-gesa, adalah demonstrasi paling konkret dari ketangguhan sistem ini. Majelis Ahli, lembaga yang terdiri dari para ahli agama yang dipilih langsung oleh rakyat setiap delapan tahun, mengaktifkan mekanisme suksesi dengan kecepatan yang mengejutkan banyak pihak. Mujtaba membawa latar belakang IRGC dan pemahaman mendalam tentang hukum Islam, dua kualifikasi yang dalam sistem ini bukan sekadar nilai tambah, melainkan persyaratan absolut.
Hast (2018) dalam Sounds of War mengingatkan bahwa sistem-sistem hibrida yang menggabungkan legitimasi religius dengan kapasitas militer yang kuat cenderung jauh lebih tahan terhadap tekanan eksternal dari yang umumnya diperkirakan, justru karena mereka memiliki sumber legitimasi ganda yang saling menopang. Ketika salah satu sumber legitimasi melemah, yang lain mengambil alih. Ketika Khamenei tewas dan legitimasi personal melemah, legitimasi institusional IRGC dan Majelis Ahli yang mengisi kevakuman itu dengan cepat.
Apa yang Seharusnya Dipahami Dunia
Pelajaran terpenting dari ketangguhan Iran pasca-Khamenei bukan tentang kekuatan militer semata. Ia adalah tentang desain institusional. Iran telah membangun sistem yang tidak memiliki titik kegagalan tunggal, yang menyebarkan kekuasaan di antara lembaga-lembaga yang saling mengawasi, dan yang memiliki dua angkatan bersenjata dengan misi yang saling melengkapi sehingga serangan terhadap salah satunya tidak melumpuhkan keseluruhan kapasitas pertahanan negara.
Selama komunitas internasional terus mendekati Iran dengan asumsi bahwa sistem ini bisa diruntuhkan melalui penghilangan pemimpinnya atau tekanan ekonomi yang cukup keras, mereka akan terus menghadapi hasil yang sama: Iran yang tetap berdiri, bahkan lebih teguh dari sebelumnya, dengan posisi tawar yang semakin menguat di setiap putaran konfrontasi.***
