Sabtu, Juli 20, 2024

Menilik Ide Soedjatmoko di Tengah Masifnya Pembangunan

Ghaniey Arrasyid
Ghaniey Arrasyid
M Ghaniey Al Rasyid | Penulis Lepas dan Pengkliping yang tinggal di Surakarta.

Berkali-kali gerumunan pemuda mengacungkan tangan terkepal menyuarakan keberpihaknnya kepada kaum mustafh’afin. Mereka yang hidup di luar dari hiruk pikuk kota, menanam dan mengkonsumsi hasil bumi dari jerih payah dan keringat mereka, diusik tanah kehidupannya.

Gilang gemilang infrastruktur membuka pola gerak pemerintah agar segera menggenjot sektor pembangunan dan infrastruktur sampai pelosok-pelosok negeri. Canggung, dan gemetar nampak pada raut wajah pemuda desa yang mengharapkan penghidupannya pada sebongkah kayu dan segunduk pasir untuk dijadikan dengan segepok rupiah.

Bisikan menjaga hutan dan alam tetap lestari, semakin membuat masam banyak pemuda dan membuat sejenis lingkar diskusi kritis membendung eksploitasi lahan dilingkungan mereka. Apa daya penyampaian Rostow agar Indonesia ini, bisa punya gebrakan ke pasar global? Tidak semudah itu, pertentangan pemikiran terus melambung saling menguatkan satu ke yang lain.

Bumi Indonesia di kacamata orang luar sebagai bumi subur. Kayu ditancap jadi pohon jati kokoh, benih di sebar jadi hamparan sawah, dan jaring disemai, ikan tak habis-habisnya membuat nelayan-nelayan tersenyum. Begitulah metafora mengenai bangsa ini ucap Koes Ploes dengan lagunya.

Tak tahu, bagaimana seharusnya negeri ini harus dibentuk. Seabrek kebijakan dibuat untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini. Dinamika di situ memiliki pelbagai sisi menarik, tak pelak beberapa bersikap tak setuju bahkan dengan narasi menolak.

Soedjatmoko atau kerap di panggil koko adalah cendekiawan yang menyuguhkan gagasan menarik perihal pembangunan bangsa Indonesia. Salah satu yang membuat terperanjak agar mengetahui lebih dalam gagasan Koko, bagaimana manusia (individu) menerjang konsep strukturalis yang beresiko mengekang.

Bung Koko, seorang intelektual sejati. Beliau pernah menjadi rektor Univerisitas PBB di Tokyo dan gilang gemilang intelektualitasnya memiliki daya tawar menarik bagi konsep pembangunan bangsa Indonesia. Konsep yang matang dan tak melebar ketika menyampaikan gagasan. Bung Koko, seorang futurolog yang kritis dan objektif.

Berkaitan mengenai pembangunan nampaknya tak akan pernah selesai di negari yang katanya masih tertinggal dengan beberapa negeri raksasa lain di seberang pulau sana. Munculnya beton sampai aspal beribu-ribu hektar hingga eksploitasi lahan masal untuk tujuan pemulihan ekonomi membuat rakyat  jadi terasingkan oleh perubahan lahan hijau  digantikan oleh gemerlap bangunan kokoh. Ada yang menuduh terjangkit virus culture Shock dan ada pula yang beranggapan, “sebagai proses.”

Entah bagaimana bangsa ini menyikapinya. Jelas saja, ada barikade besar menyuarakan kehidupan seperti nenek buyut lakukan, dengan tetap mempertahankan pohon menjulang dan jalan tanah yang akan becek bila digenangi air, namun banyak juga merelakan itu semua untuk dirubah dengan harap kepastian.

Manusia yang diberkahi daya pikir tenggelam oleh penguasa modal. Pembangunan berbasis laba jadi tujuan utama. Rakyat jadi korban karena tanah garapannya disulap untuk pembangunan ekonomi agar hasilnya bisa ditujukan bagi pemerataan perekonomian.

Artikel berjudul Koko berjudul, “Umat Manusia Menghadapi Tantangan Bagi Kelangsungan Hidupnya,” benar-benar membuat kita merinding. Perubahan akan terus berjalanan. Suatu sistem yang tadinya menekankan otot, dirubah oleh gemulainya teknologi di sela-sela kehidupan manusia. Manusia akan bertarung pada perubahan dan kemajuan sebuah teknologi.

Pada artikel itu, menggambarkan dualitas umat manusia mengahadapai tantangan. Globalisasi bisa menjadi peran serta konkrit atas pembangunan, akan tetapi bisa juga berimbas pada kejumudan dan keterasingan. Bagi, Koko kita tidak bisa menghidari sebuah kebijakan pembangunan, akan tetapi kita perlu sadar bahwasannya kitalah sebagai subyek kebijakan pembangunan, bukan sebaliknya.

Efek mengalir keatas (Trickel Up Effect) jadi kritikan pedas atas kebijakan pembangunan yang tidak bisa menyasar secara adil. Hanya orang-orang tertentu seperti; pemegang modal, pembuat kebijakan, penjaga proyek dan sanak famili mereka sajalah yang mendapatkan hasilnya. Masyarakat pinggiran hanya termenung menyaksikan itu semua.

Disambung, Thomas Bottomore dalam bukunya berjudul “Elite dan Masyarakat,” menyingkap dan benar-benar membuka mata, bagaimana konsep strukturalis pada sebuah kebijakan dianalogikan sebagai gurita besar yang siap melilit siapapun di sekitarnya. Elite bukan hanya mereka yang berada di ujung tanduk struktur. Akan tetapi mereka juga mampu membuat gerbong-gerbong baru sebagai sub elite menakutkan.

Hasil wawancara oleh majalah Prisma (1988) dengan Soedjatmoko membeberkan bagaimana pemahaman akan nasionalisme penting untuk dilibatkan dalam pembangunan. “Nasionalisme Sebagai Prospek Belajar,” mengulas bagaimana elite, globalisasi hingga pembangunan penting untuk memahami secara betul arti kekeluargaan dalam pembangunan ekonomi.

Tanpa itu, metofora “Kacang lupa kulit,” bakal ramai didengungkan. Pembangunan yang gencar dan mengorbankan lingkungan, terkadang melupakan sasaran siapa sebenarnya yang dituju dalam pembangunan. Biang kerok yang mengakibatkan gesekan sosial timbul, karena tidak adanya pemahaman secara betul, pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan. Lagi-lagi masyarakat jadi korban.

Hantu kapitalisme sudah tak seseram gambaran Marx. Penguasaan beberapa segmen, termasuk teknologi sudah mereka kuasai bagi kepentingan kapitalis. Memporak-porandakan kapitalisme dan mengecam akan hancur dengan sendirinya nampaknya tak terbukti. Mereka menjamur di beberapa sektor dan hari ini hingga menjadi raksasa sublim di tengah gejolak sosial.

Hanya penggunaan nalar secara kritislah yang mampu memberikan struktur berpikir matang agar merekonstruksi sebuah kondisi yang dianggap matang. Kenyamanan semu uangkapan Theodore Adorno, terus direbut untuk rekonstruksi, sebagai peranan intelektualitas membela wong cilik.

Banyak bertebaran konsep pemikiran mengenai pembangunan. Salah satu tokoh terkenal bernama W.W Rostow, menyampaikan begitu kuat bagaimana secara infrastruktur, bangsa Indonesia harus mengalami perubahan. Termasuk agar perubahan konsep perkonomian secara tradisional untuk bisa dirubah menjadi perekonomian industrial dengan konsumerisme tinggi.

Soedjamoko tak setuju dengan konsep Rostow itu. Baginya, konsep itu membawa masyarakat kepada keterasingan. Kebebasan merupakan muara utama manusia agar secara keberjalanan masyarakat menentukan jalan keinginan sesuai dengan kompetensi, bukan dipaksakan sehingga terjadi ketidakselarasan.

Paman Soedjatmoko dengan kacamata berbentuk kotak dan kepiawaiannya dalam merumuskan sebuah gagasan bagi bangsa ini, akan selalu kita rindukan. Bagi kami, membaca karya-karya belia untuk keperluan masa depan bangsa ini, masih benar relevan untuk kita serap sebagai ladang rekonstruksi.

Ghaniey Arrasyid
Ghaniey Arrasyid
M Ghaniey Al Rasyid | Penulis Lepas dan Pengkliping yang tinggal di Surakarta.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.