Jumat, Juni 21, 2024

Mengulik Fenomena Childfree di Indonesia

Utami Aditya
Utami Aditya
An accounting student

Pembahasan terkait childfree belakangan ini sangat masif dilakukan, hal ini dikarenakan banyak pasangan muda yang memilih untuk mengambil keputusan tersebut. Fenomena ini dipengaruhi oleh banyak pertimbangan salah satunya adalah lingkungan. Melalui survei yang dilakukan oleh Tomas Frejka penulis buku Childlesness in United States menyatakan setiap tahunnya pasangan yang menganut childfree terus bertambah, terdapat peningkatan sejumlah 20% terhitung sejak rentang tahun 1970-2021. Australian Bureau of Statistics, juga melaporkan hal serupa, pada rentang tahun 2023-2029 banyak pasangan berkeluarga yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak.

Di Indonesia sendiri pembahasan terkait fenomena itu mulai ramai sejak Gita Savitri Dewi, seorang content creator, menyinggung hal tersebut. Dalam postingan instastory miliknya, ia menjelaskan dirinya dan suaminya mengambil keputusan untuk childfree. Keadaan lingkungan dan perihal parenting menjadi perhatian utama dalam pengambilan keputusannya. Beberapa publik figur lain seperti Cinta Laura juga memilih untuk mengambil keputusan besar tersebut, alasannya dikarenakan populasi manusia di dunia sudah terlalu banyak. 

Jika menilik anak dalam kehidupan rumah tangga di berbagai negara, anak umumnya dianggap sebagai salah satu pelengkap kebahagiaan. Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan Universitas Diponegoro mengenai kehadiran anak yang memiliki pengaruh penting dalam keluarga. Dalam penelitian tersebut didapatkan eksistensi seorang anak dapat meningkatkan kepuasan dan menguatkan komitmen pernikahan.

Hal ini tentu saja berbanding terbalik dengan teori childfree yang saat ini banyak dianut oleh pasangan muda. Lantas bagaimanakah arti seorang anak dalam pernikahan?

Dimulainya Pemahaman Childfree 

Diskursus mengenai keputusan untuk tidak memiliki keturunan mulai eksis sejak abad 18. Victoria Tunggono penulis buku Childfree & Happy menyatakan pemahaman tersebut sudah ada kemudian berkembang pada abad ke-20 dengan istilah childfree. Dilansir dari oxford dictionary, childfree diartikan sebagai istilah yang merujuk pada orang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak, atau tempat dan situasi tanpa anak.

Victoria dalam karyanya mencoba untuk mengulas pengambilan keputusan yang ada. Menurutnya, dasar untuk memilih bukan hanya sekadar mengikuti gaya hidup, tetapi juga pikiran serta risiko yang mengintai. Lebih lanjut ia juga memaparkan hal yang paling mendasar sebelum mengambil keputusan tersebut adalah memahami keinginan diri sendiri.

Sejalan dengan hal ini, di Indonesia sendiri terdapat komunitas tertutup di Facebook berisi perempuan yang mengambil keputusan yang sama. Grup tersebut berdiri sejak tahun 2016 dengan anggota awal berjumlah 60 orang dan meningkat menjadi 300 orang pada 2020. Di grup tersebut mereka membagikan kisah mereka dan juga membimbing anggota grup lain dalam menghadapi masalah yang sama.

Alasan Memilih

Terdapat beberapa alasan bagi seseorang untuk tidak memiliki anak. Studi yang ditemukan di Afrika Selatan misalnya. Ditemukan tiga hal utama yang mendorong untuk menganut gaya hidup tanpa anak (Bimha & Chadwick, 2016): pertama, pengalaman mengasuh dan menjalankan tugas keibuan. Hidup dengan serba keterbatasan dan tingginya angka kelahiran, menyebabkan orang-orang di Afrika Selatan harus membantu mengasuh saudara sendiri dan menjalankan tugas keibuan lainnya. Mereka berpendapat di masa depan dirinya tidak ingin memiliki anak karena telah melakukannya di masa muda, kendati yang diasuh bukanlah anak mereka sendiri.

Alasan lainnya adalah persepsi memiliki anak bukanlah hal yang praktis. Melahirkan seorang anak dinilai akan menjadi beban tambahan secara finansial bagi segelintir orang. Merujuk Paul (2001) memutuskan untuk tidak memiliki anak sama dengan terbebas dari tanggung jawab dan komitmen secara finansial. Tidak hanya itu, instabilitas kondisi pernikahan yang rentan juga menjadi variabel pendukung.

Faktor terakhir yaitu preferensi untuk mencapai karir profesional yang mapan. Ingin berfokus mengejar karir dianggap lebih penting dibanding mengurus anak dan segala tetek bengeknya. Mengasuh anak malah hanya dianggap sebagai penghalang untuk mendorong kesuksesan dalam mencapai karir yang mentereng.

Jika direfleksikan di Indonesia terdapat pergeseran budaya dalam memandang kelahiran anak. Masyarakat tradisional memandang pihak yang tidak ingin memiliki keturunan terganggu secara mental dan tidak bahagia. Ajang pernikahan juga turut menjadi celah untuk munculnya konflik. Pasalnya pernikahan yang dilakukan bukan hanya sekadar mengikat dua individu, tetapi juga dua keluarga yang memiliki harapan ke depannya. Konflik dapat timbul ketika keputusan untuk tidak berketurunan ditepis oleh salah satu keluarga, dan dapat memperburuk hubungan yang ada.

Merujuk Pandangan Islam

Islam sendiri menilai childfree sebagai hal yang jauh dari fitrah seorang perempuan. Hal ini juga didasarkan pada pernyataan Buya Yahya seorang ulama besar Indonesia. Dalam salah satu ceramahnya, dijelaskan fitrah seorang perempuan adalah melahirkan dan menyusui maka ketika ada perempuan yang menentang kedua hal tersebut maka dapat dikatakan orang tersebut telah merusak fitrahnya.

Perspektifnya juga menilai dalih yang digunakan dalam pengambilan keputusan justru menjadi argumen yang zalim. Salah satunya seperti ketakutan akan menyakiti anak di masa depan. Ketika mempunyai ketakutan seperti itu, secara tidak langsung dalam hati memiliki niatan untuk melakukan hal tersebut kelak di masa depan.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan Islam juga memperbolehkan childfree, hal ini juga ditinjau dari alasan yang dikemukakan. Nur Rofiah, Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang juga merupakan Akademisi bidang Tafsir mengatakan hal yang bertolak belakang dari pernyataan Buya Yahya.

Beliau menjelaskan bahwa pengambilan keputusan merupakan kesepakatan bersama yang diambil oleh setiap pasangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan bersama. Dalam hal ini pertimbangan yang digunakan tidak hanya pertimbangan internal yang berasal dari dalam diri sendiri ada juga pertimbangan eksternal seperti contohnya kerusakan alam sehingga hal ini berkaitan erat dengan menjalankan komitmen tauhid sebagai manusia.

Dalam pembahasan childfree, beliau  juga menyinggung terkait hak atas tubuh yang dimiliki oleh setiap perempuan. Dan juga kesetaraan dimana laki-laki dan perempuan diciptakan dari jiwa yang sama. Selain itu, jiwa itu tidak memiliki konsep gender kemudian bersama-sama diciptakan menjadi sosok fisik.

Karenanya, keputusan punya anak atau tidak itu lebih baik tentu bergantung pada dampak dari pilihan itu. Apakah dengan punya anak dapat menjadi anugerah untuk membawa kemaslahatan luas. Atau justru sebaliknya dengan punya anak semakin banyak kezaliman dilakukan, seperti kekerasan dalam rumah tangga.

Utami Aditya
Utami Aditya
An accounting student
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.