Meja makan sering kali menjadi potret paling jujur dari sebuah ketimpangan sosial. Di satu sisi kota, meja makan mewah didekorasi dengan hidangan mancanegara yang melimpah, sementara di sudut lain, sebuah keluarga harus berbagi satu piring nasi dengan lauk seadanya. Namun, setiap tahun, ada sebuah fenomena spiritual dan sosiologis yang datang meruntuhkan tembok-tembok porselen tersebut yaitu Ramadhan. Bulan Suci yang ditunggu tunggu oleh umat Umat Islam di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia.
Bulan Suci Ramadhan bukan sekadar tentang puasa, menahan haus dan lapar secara fisik, melainkan sebuah eksperimen sosial besar-besaran untuk menciptakan keadilan. Melalui rasa lapar yang sama, Puasa memaksa setiap individu—tanpa memandang saldo rekening atau jabatan—untuk kembali ke titik nol kemanusiaan. Di sinilah keadilan di atas meja makan bermula.
Anatomi Rasa Lapar: Dari Biologis ke Teologis
Secara biologis, lapar adalah alarm tubuh. Namun dalam sosiologi, lapar sering kali menjadi penanda kelas. Sosiolog Pierre Bourdieu dalam teorinya tentang Distinction menjelaskan bagaimana selera makan dan gaya konsumsi menjadi alat untuk menegaskan status sosial. Orang kaya makan bukan hanya untuk kenyang, tapi untuk menunjukkan privilese. Sebaliknya, kaum papa makan hanya untuk bertahan hidup.
Ramadhan datang untuk mendekonstruksi teori Bourdieu tersebut. Ketika azan Subuh berkumandang, si miliarder dan si kuli bangunan memasuki ruang waktu yang sama: ruang “kekosongan”. Rasa perih di lambung yang dirasakan sang direktur saat jam dua siang identik dengan rasa perih yang dirasakan oleh pengemis di depan kantornya. Di sini, lapar menjadi “The Great Equalizer” atau penyamarata yang hebat.
Secara teologis, hal ini sejalan dengan tujuan utama puasa. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa dalam konteks ini tidak hanya bersifat vertikal (hubungan dengan Tuhan), tetapi juga horizontal (hubungan dengan sesama). Rasa lapar adalah instrumen “edukasi rasa” agar manusia memiliki empati yang tidak lagi teoritis, melainkan empiris.
Meja Makan sebagai Ruang Komunal (Commensality)
Salah satu keindahan Bulan Suci Ramadhan adalah tradisi buka puasa bersama. Secara sosiologis, terdapat konsep yang disebut Commensality, yaitu tindakan makan bersama di satu meja yang berfungsi memperkuat ikatan sosial. Di bulan Ramadhan, meja makan berubah fungsi dari ruang privat menjadi ruang komunal.
Dalam teori Keadilan Sosial yang diusung oleh John Rawls, terdapat konsep Original Position di balik Veil of Ignorance (Tabir Ketidaktahuan). Rawls membayangkan jika manusia tidak tahu posisi sosialnya di masyarakat, mereka pasti akan menyepakati sistem yang paling adil bagi semua. Ramadhan menempatkan kita di balik tabir itu. Saat duduk bersama di masjid atau di jalanan saat pembagian takjil, identitas kelas melebur. Di atas meja makan takjil yang sederhana, segelas air putih memiliki nilai yang sama bagi semua orang. Tidak ada air putih yang lebih “mulia” karena diminum oleh seorang pejabat.
Rasulullah SAW memperkuat prinsip keadilan meja makan ini dalam sabdanya:
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).
Dalil ini adalah perintah implisit untuk melakukan redistribusi akses pangan. Keadilan terjadi ketika “kelebihan” di meja makan seseorang dialirkan untuk mengisi “kekosongan” di meja makan orang lain.
Menghapus Sekat: Melawan “Komersialisasi” Ibadah
Sayangnya, tantangan modernitas sering kali mencoba membangun kembali sekat yang sudah diruntuhkan Ramadhan. Kita melihat fenomena paket “Buka Puasa Mewah” di hotel berbintang dengan harga selangit yang justru menciptakan eksklusivitas baru. Jika puasa Ramadhan hanya menjadi ajang pamer kemewahan hidangan di media sosial, maka esensi keadilan di atas meja makan telah gagal.
Keadilan di atas meja makan menuntut kita untuk kembali pada kesederhanaan. Dalam perspektif Utilitarianisme, sebuah tindakan dianggap baik jika memberikan kegunaan atau kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Meja makan yang adil bukan berarti meja yang penuh dengan menu mewah, melainkan meja yang inklusif—di mana tidak ada makanan yang terbuang (food waste) sementara ada orang lain yang berbuka hanya dengan air keran.
Prinsip ini ditegaskan dalam QS. Al-Ma’un: 1-3, di mana Allah memberikan peringatan keras:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Ayat ini adalah tamparan bagi siapa pun yang merasa saleh secara ritual namun menutup mata terhadap ketimpangan di atas meja makan sekitarnya.
Meja Makan: Manifesto Kemanusiaan
Menghapus sekat kelas sosial di Bulan Suci Ramadhan berarti menjadikan meja makan sebagai manifesto kemanusiaan. Ada tiga langkah untuk mewujudkannya:
- Redistribusi Pangan: Menjadikan sedekah makanan bukan sebagai “pemberian dari atas ke bawah”, melainkan sebagai hak yang dikembalikan kepada pemiliknya (kaum dhuafa).
- Dekonstruksi Gengsi: Berhenti menjadikan momen buka puasa sebagai ajang validasi status sosial. Meja makan harus kembali menjadi tempat berbagi cerita, bukan sekadar berbagi foto kemewahan.
- Solidaritas Tanpa Batas: Memastikan bahwa rasa lapar yang kita rasakan di bulan Ramadhan melahirkan komitmen jangka panjang untuk menghapus kelaparan sistemik setelah bulan suci berakhir.
Pada akhirnya Bulan Suci Ramadhan adalah momentum emas untuk menyadari bahwa di hadapan rasa lapar, kita semua adalah mahluk yang sama-sama rapuh. Keadilan di atas meja makan adalah tentang keyakinan bahwa kenyangnya perut kita baru dianggap sah secara moral jika tidak ada lagi orang di sekitar kita yang harus menahan lapar di luar waktu puasa.
Mari kita jaga agar semangat “lapar yang sama” ini tidak berhenti sebagai rutinitas biologis semata. Jadikan ia sebagai kekuatan transformatif untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, di mana setiap orang memiliki tempat di meja makan kehidupan, tanpa perlu merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari sesamanya.
