Jumat, Juni 21, 2024

Menggali Kegagalan Atribusi Pesan Politik

Hascaryo Pramudibyanto
Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka

Kemampuan melakukan atribusi oleh tiap orang memang berbeda. Perbedaan pandangan atribusi yang begitu besar, sering mengakibatkan putusnya hubungan yang selama ini sudah terjalin dengan baik. Secara teoretis, atribusi merupakan sebuah proses internal dalam diri seseorang dalam rangka memahami penyebab perilaku orang lain. Perilaku yang dimaksud bukan sekadar tindakan fisik, melainkan juga ucapan dan bahasa tubuh atau gesture.

Keinginan untuk menjadikan figur yang berhasil dalam proses atribusi sering diiringi oleh kegagalan yang tak terduga penyebabnya. Seseorang yang sudah mengendapkan diri sebagai individu pengalah, pun masih dihantui oleh kegagalan ini.  Khusus dalam paparan ini akan disajikan uraian mengenai faktor penyebab kegagalan memaknai atribusi pesan politik – yang saat ini sedang menjadi pandangan khalayak dan pelaku politik lain.

Dengan menggunakan pendekatan semiotis visual, Danesi mengatakan bahwa faktor penyebab kegagalan ditandai oleh adanya tanda visual dari mitra komunikasi kita. Misalnya, ketika Cak Imin bertemu dengan Prabowo tampak bahwa hubungan keduanya sangat cair. Namun, apakah demikian kenyataan yang terjadi, jawabannya belum tentu. Walaupun salah satu dari mereka sudah merasa sangat percaya diri akan dijadikan mitra politik di pemilu 2024.

Ujung dari pertemuan keduanya bisa menjadi awal hubungan buruk jika salah satu dari mereka mengalami kegagalan atribusi politik. Studi tentang tanda visual secara harfiah menganut pemahaman sebagai sebuah tanda yang dikemas dengan penanda visual. Penanda visual jenis ini sangat mudah dicerna hanya melaluin tatapan mata,  dalam wujud ikonis.

Wujud ikonis yang dimaksud adalah tanda, simbol, atau gambar yang mewakili ciri-ciri sebuah objek tertentu dan dekat sekali artinya dengan sebuah objek. Selain itu, ada muatan indeksial yang menandakan adanya sebuah objek dengan mengacu pada fenomena tertentu. Hal lainnya adalah hadirnya sebuah simbol yang diketahui oleh khalayak yang memahami fenomena tersebut akibat sudah dikonvensi oleh masyarakat.

Jika hal-hal ini dialami secara negatif oleh salah satu dari dua tokoh politik yang saling sua, maka terciptalah sebuah atribusi pesan politik yang gagal. Sebenarnya bukan hanya pimpinan partai politik yang bisa mengalami kegagalan ini, melainkan orang-orang di struktur organisasi pun bisa tertutupi kemampuannya dalam memahami pesan politik secara baik. Begitu juga dengan simpatisannya yang berasal dari berbagai latar belakang pendiidkan, sosial, ekonomi, dan budaya.

Dalam upaya memahami atribusi tanda visual ini diperlukan pula kemampuan sensasi, atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. Keempat hal ini akan dibahas pada materi berikutnya, dan kita lanjutkan dulu pada aspek penyebab kegagalan persepsi atribusi. Yang pertama adalah kesalahan atribusi. Kesalahan ini terjadi dalam diri pelaku komunikasi dalam upayanya memahami perilaku orang lain. Misalnya, teman kita ingin mengajak kita makan siang, dan ia berusaha menggamit tangan kita untuk segera pergi bersama. Ada sebagian orang yang merasa nyaman dan biasa saja ketika digamit ataun digandeng olehn orang lain.

Namun ada pula yang merasa risih jika ada sentuhan fisik pada dirinya dan mitra tutur. Padahal teman kita tak punya maksud apapun, selain menunjukkan keseriusannya untuk mengajak makan. Yang mengkhawatirkan adalah jika kita kemudian merasa tak nyaman dan berujung pada penilaian negatif terhadap teman kita, dengan memunculkan persepsi negatif terhadap dirinya. Mungkin saja penilaian itu berupa nilai negatif atau merendahkan teman dengan menyebutnya jahil, sok akrab, atau hal lain yang menjurus ke arah keburukan.

Aspek kegagalan atrihusi berikutnya adalah gegar budaya. Aspek ini dapat ditunjukkan dalam ranah benturan persepsi akibat penggunaan penilain yang sangat berbeda terhadap nilai budaya yang dipelajari oleh seseorang dan belum dipahami dengan baik substansinya.

Benturan persepsi tersebut dapat memunculkan konflik dan tekanan di dalam diri yang sangat dalam. Misalnya, kita berasal dari sebuah wilayah yang selalu dilingkupi dengan bahasa yang sangat santun, dan tiba-tiba kita harus berdomisili di sebuah wilayah yang cara berinteraksinya sangat terbuka. Bahkan sering digunakan kosa kata yang terdengar kasar, meskipun maksud dari tuturan itu adalah wujud keakraban. Bagi yang baru saja mendegar, ia bisa mengalami kejutan jiwa yang mungkin saja sangat menyesakkan.

Kemudian faktor stereotip. Faktor ini merupakan bentuk klasifikatif terhadap seseorang atau kelompok secara sporadis dengan mengabaikan perbedaan tiap individu yang ada dalam kelompok itu. Misalnya, ketika kita menyaksikan adanya kerusuhan yang dilakukan oleh sekelompok oknum pemuda pendukung tim sepak bola tertentu yang melakukan tindakan tak terpuji, spontan sajakita menilai bahwa semua anggota tim dan suporter sepak bola tim itu adalah perusuh. Inilah stereotipe. Upaya membagun citra positif di mata publik menjadi sia-sia akibat tindak salah satu oknum suporter.

Kemudian faktor prasangka, yang akibat yang lebih dalam dampaknya daripada stereotipe. Prasangka sudah mengarah ke dampak berupa kebencian dan bahkan bisa saja menduga bahwa hal lain yang juga buruk akibatnya, adalah ulah para pelaku dalam kategori stereotipe tadi. Orang yang terkena atribusi prasangka sangat sulit diubah pendiriannya – yang mungkin saja karena ia telah menjadi korban stereotipe dalam satu pengalaman sebelumnya.

Aspek atau faktor kegagalan lainnya adalah erfek halo, yaitu sebuah penilaian atributif yang muncul akibat adanya kesan menyeluruh tentang seseorang yang menimbulkan dampak tertentu akibat sifat spesifik yang ditunjukkan oleh orang lain. Misalnya, ketika kita sedang berbincang dengan seorang teman dan ia mampu memberikan penjelasan, penguatan, dan pengalaman baru terhadap kita, maka secara tiba-tiba muncullah persepsi kita tentang dirinya.

Persepsi atribusi itu bisa muncul dalam bentuk positif maupun negatif. Yang positif, kita akan terkesan dan mengikuti arus pikirannya, sedangkan yang negatif berupa sikap antipati dan mengarah ke keengganan untuk melakukan interaksi lebih intens. Beginilah atribusi pesan yang seringkali menimbulkan konflik batin atau malah membahagiakan. Rasanya akan sangat bahagia jika kita punya kemampuan beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru, termasuk jalinan hubungan politis baru dengan partai koalisi.

Hascaryo Pramudibyanto
Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.