Negara tanpa republikanisme sama dengan rumah tanpa fondasi yang kokoh: berdiri namun ringkih. Republikanisme adalah paham purba yang senantiasa segar. Republikanisme merupakan sinopsis sempurna tentang hasrat bernegara. Ketika republik mangkir, maka kontribusi warga tak mungkin melintas. Hanya pada pengalaman republiklah seluruh praktik bernegara membekas. Yudi Latif (2024) menyebut republik sebagai cara bangsa merawat luka.
Menurut KBBI, republik berasal dari kata latin ‘res publica’ yang berarti ‘urusan publik’. Artinya, seluruh laku republik harus sebanding dengan kehendak warga. Namun, keadaan republik hari ini justru tengah menempuh jalan yang berbeda. Begitu banyak kebijakan negara yang tidak pro warga. Negara melulu memaksakan warga supaya menelan mentah-mentah pil pahit kebijakan. Padahal, pelibatan warga adalah syarat minimal dari republik.
Warga dalam republikanisme
Dalilnya yakni keterlibatan warga merupakan imperatif republik yang harus selamanya dipastikan dalam proses kebijakan. Preseden hukum konstitusi mempopulerkan istilah partisipasi bermakna (meaningfull participation). Demikian halnya dengan demokrasi, pelibatan aktif warga merupakan misi suci (mission sacre) demi menyuplai energi kedaulatan rakyat (Pasal 1 ayat 2 UUD 1945). Karenanya, keterlibatan warga adalah sari pati dari kehidupan republik ‘demokrasi’ yang mesti selalu diucapkan dalam satu tarikan nafas.
Keterlibatan warga bahkan sudah dipromosikan sejak mula peradaban demokrasi di republik athena. Kota athena kemudian dihidupi oleh ekosistem parlemen yang merawat keutamaan politik (political virtue). Pada waktu itu, parlemen merupakan arena pertaruhan etis karena etikanya: siapapun yang menjadi perwakilan berarti juga mewakili kepentingan etis warga. Saking sakralnya mandat DPR di abad itu, sampai-sampai tak seorang pun terobsesi menjadi seorang caleg. Kecuali mereka yang sudah tuntas dengan diri sendiri. Etika parlemen athena memberi sinyal bahwa jabatan adalah amanah bukan tempat mengais tunjangan gaji.
Selain menjunjung tinggi etika, athena mensponsori kehidupan republik yang bebas dan setara. Dalam satu kesempatan, Jean Jacques Rousseau mengatakan bahwa republik ibarat buah sangat bagus untuk pencernaan, tetapi hanya lambung yang sehat yang mampu mencernanya dengan baik. Artinya, sehatnya lambung athena telah berdaya memproduksi ide-ide republik (kebebasan, kesetaraan, kemajemukan). Republik athena menyontohkan bahwa tugas negara hanyalah menjamin agar kesehatan lambung tetap terjaga. Selebihnya, biarkan warga yang menentukan sendiri jenis hidangan apa yang hendak dicerna oleh lambungnya. Negara tak boleh sedikit pun mengarahkan, apalagi ‘memenjarakan’ kebebasan membaca buku misalnya -sebab buku adalah satu-satunya makanan bergizi paling gratis bagi warga.
Museum republik
Di awal kemerdekaan, republik pernah mengalami kondisi dimana argumentasi menjadi langgam berpolitik. Masa itu, para pendiri republik saling berterus-terang dalam beragumentasi (force the better argument), yang sekaligus menegaskan bahwa intelektualitas masih bisa bekerja kendati sedang dalam keadaan krisis. Pada waktu menyusun perkakas negeri, frasa ‘republik’ pada tinta konstitusi menjadi begitu berarti. Bahkan pasca kemerdekaan, ide republik terus dipertahankan setelah berulang kali tertatih-tatih menghadapi agresi kolonialis. Namun, melalui kecerdasan intelektual, Sutan Sjahrir dan kawan-kawan mampu menyihir Konferensi Meja Bundar (KMB) agar segera menyepakati pendirian sebuah republik yang kita sebut Republik Indonesia.
Kemerdekaan republik bukanlah hadiah yang diperoleh tanpa kerja keras. Ia jelmaan dari dera derita bangsa yang dirasakan bertalu-talu. Keringat kering para pahlawan dan rimba raya pengetahuan dari pendiri bangsalah yang berhasil memancang tiang republik. Mereka mematri pelajaran penting sejarah yaitu merawat republik artinya berinvestasi pada peradaban. Investasi itu membutuhkan waktu yang amat panjang. Sebab itu, proyek investasi yang dimaksud harus senantiasa diselenggarakan oleh gegap gempira suara warga. Hanya dengan cara itulah kita bisa memastikan perjalanan sebuah republik.
Mengembalikan ide republik
Setelah mengarungi sejarah republik athena yang berisi keutamaan politik, dan sejarah awal republik Indonesia yang penuh dengan kecerdasan, satu keterangan yang bisa diajukan ialah bahwa republik adalah cara memaksimalkan peran warga. Republik athena memelopori resonansi demokrasi perwakilan demi mengucapkan etika parlementarian. Sedangkan republik Indonesia, menarasikan semangat anti-kolonialisme sebagai syahadat kemerdekaan. Pertanyaannya, republik macam apa yang saat ini sedang berlangsung?
Republik hari ini sedang menampilkan wajah yang risau. Politik dijalankan tanpa tuntunan etika, penegakan hukum yang tebang-pilih, ekonomi kartel yang kian mengencang, yang pada muaranya menciptakan kesenjangan sekaligus friksi sosial. Bukankah gejala tadi malah sebetulnya mengundang musuh lawas manusia yaitu Leviathan?. Kebijakan yang cenderung mengkhianati kepentingan warga sudah pasti menggunting denyut nadi republik sekaligus melahirkan homo homoni lupus.
Kebengisan kekuasaan seringkali disebabkan oleh peragaan drama proletar yaitu bahwa buat orang miskin hidup adalah tragedi, sedangkan buat yang berkuasa hidup adalah komedi. Republik sema sekali berbeda dengan kekuasaan. Republik adalah peralatan lengkap untuk mencurigai segala hal tentang negara. Dalam suasana skeptisisme itulah, utopia ‘kontrak sosial’ masih mungkin kita pertaruhkan, sebelum terbabat habis oleh bellum omnium contra omnes.
Mengaktifkan republik artinya mengembalikan ulang kedaulatan rakyat. Aktivasi republik semata-mata demi memastikan kondisi minimal yaitu kesetaraan argumentasi warga. Argumentasi hanya mungkin ditagih dalam ruang publik yang setara. Ketika ruang kesetaraan gagal diproyeksikan maka ambisi kekuasaan akan mengambil-alih kendali dan menyorongkan republik kedalam pasar gelap keadilan (black market of justice). Apakah harapan pada masa depan republik masih tersisa (republic of hope) atau justru masa depan republik terkatung dalam hingar-bingar ketakutan (republic of fear). Republik berakhir bila harapan berhenti.
