Suatu waktu di sebuah kelas diskusi, seorang perempuan paruh baya melempar pertanyaan sederhana kepada audiens: “Apakah kita benar-benar memahami sejarah bangsa kita sendiri?” Ruangan mendadak hening. Padahal, itu forum yang membahas tentang masa depan demokrasi kita. Dari situ saya sadar, sejarah rupanya masih menjadi hal yang asing bagi banyak orang. Sejarah sering dianggap sebatas tumpukan angka tahun, hafalan nama pahlawan, atau materi ujian sekolah yang cepat dilupakan. Jika orang-orang terpelajar saja asing dengan sejarah penindasan, bagaimana dengan para pembuat kebijakan dan penguasa kita?
Sejarah itu bukan sekadar romantisme masa lalu. Sejarah adalah gambaran nyata tentang bagaimana ketidakadilan bekerja. Hanya pada pengalaman rakyat kecil yang tertindaslah bekas-bekas kesewenang-wenangan itu bisa dirasakan secara jujur.
Seorang warga hari ini tidak serta-merta bisa menikmati kemerdekaannya secara utuh. Masih banyak yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Takut suaranya dianggap memicu pembuat onar, takut kritiknya berujung sanksi hukum, hingga harus menahan diri dan menyensor pikirannya sendiri saat bicara di meja makan keluarga.
Pola seperti tadi diam-diam bekerja dalam kehidupan bernegara kita hari ini. Kritik sering kali dianggap sebagai ancaman, kebebasan bersuara dicurigai sebagai pengganggu stabilitas, dan ruang hidup rakyat kecil kerap dikorbankan atas nama pembangunan instan. Aturan hukum yang seharusnya menjadi benteng pelindung warga, kerap kali justru berubah fungsi menjadi alat untuk menakut-nakuti rakyatnya sendiri. Ketika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, di situlah rasa keadilan masyarakat mulai mati rasa.
Kita sering membanggakan diri sedang memajukan demokrasi. Kita rajin membangun gedung-gedung pemerintah yang megah, memamerkan proyek baru, dan memuji angka pertumbuhan ekonomi di panggung pidato. Namun di saat yang sama, kultur politik kita justru makin menunjukkan tabiat kolonial yaitu feodal, arogan, dan gemar menuntut kepatuhan mutlak.
Jujur saja, kekuasaan telah berlaku curang kepada generasi hari ini, justru karena kita malas belajar dari kesalahan masa lalu. Kita menuntut rakyat untuk selalu nasionalis, tetapi para pengelolanya sering kali alpa menunjukkan keteladanan etis.
Seorang pemikir pernah memperingatkan dengan sangat tajam: “Siapa pun yang tidak belajar dari masa lalu, dikutuk untuk mengulanginya.” Pengulangan sejarah bukanlah takdir atau kualat, melainkan akibat dari kebiasaan kita yang enggan berenung secara jujur. Pada saat bersamaan, di panggung perayaan saban Agustus, khotbah pejabat publik sering kali berbunyi sungguh mencengangkan: “Tuhan, terima kasih karena bangsa ini sudah merdeka dan tak lagi dijajah oleh bangsa asing.” Padahal kita semua tahu, tabiat suka menindas, memamerkan privilese, dan mengabaikan suara rakyat itu kini justru dilestarikan oleh bangsa kita sendiri.
Dalam sebuah diskusi, saya pernah mencoba membandingkan rasa takut warga saat mengutarakan kritik hari ini dengan suasana di zaman kolonial Hindia Belanda. Seorang pejabat berwenang langsung protes dan tersinggung. Menurutnya, membandingkan pemerintah sendiri dengan penjajah adalah tindakan yang tidak nasionalis dan melukai martabat negara. Suasana ruangan mendadak canggung. Saya katakan padanya, saya tidak sedang menghina siapa pun melainkan hanya mengajak kita semua untuk jujur melihat kenyataan. Bukankah ruang publik seharusnya berisi keberanian untuk menilai keadaan, bukan panggung pamer janji manis yang meninabubukkan.
Pada praktik bernegara hari ini, kita masih menemukan bentuk-bentuk ketidakadilan yang dulu dilawan oleh para perintis Republik. Mulai dari gaya hidup pejabat yang feodal, kesewenang-wenangan hukum, pembungkaman pendapat, hingga perampasan tanah rakyat. Lalu, perilaku pejabat yang anti-kritik hingga regulasi yang menyempitkan ruang gerak warga, kita seolah dipaksa buta huruf tentang arti kemerdekaan yang sejati. Sesungguhnya, kita memang sudah berhasil mengusir penjajah luar, tetapi kita memilih merawat watak penjajah itu di dalam rumah kita sendiri.
Tentu kita tidak bisa membiarkan generasi mendatang mewarisi ketakutan yang sama. Generasi muda -termasuk saya sendiri- tidak boleh dibesarkan dalam budaya kepatuhan buta yang kaku. Anak-anak muda harus diajak untuk merawat akal sehat, berani bertanya pada ketidakadilan, dan tidak mudah silau oleh kemasan seremonial. Sebab, sebuah bangsa akan runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena kehilangan orang-orang yang berani menyatakan kebenaran di tengah rasa takut.
Rakyat tidak lahir sekadar untuk menjadi penonton perayaan tahunan. Rakyat tidak diciptakan hanya untuk mengibarkan bendera di tepi jalan atau mendongak untuk memberi hormat bendera negara lalu kembali hidup dalam kecemasan. Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga memiliki keberanian untuk berpikir dan bersuara tanpa rasa cemas. Kemerdekaan bukanlah festival pesta setahun sekali untuk membuai kesadaran kita, melainkan keberanian untuk memutus mata rantai penindasan -agar kita tidak terus-menerus dikutuk mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
