Jumat, April 23, 2021

Menanti Narasi Besar Jokowi

Jenderal Merah, Jenderal Hijau, dan Jenderal Merah Putih

LB Moerdani, Ali Moertopo dan Sudomo adalah 3 sekawan yang menjadi operator politik Soeharto yang paling ganas. Mereka sering dikelompokan dalam "jenderal-jenderal merah". Di...

Menyikapi Demokrasi Kita yang Selalu Ribut

Penentuan pasangan calon presiden (capres) dan wakil presiden RI pada Pemilu 2019 mendatang telah ditetapkan. Sedikitnya perang mutu dan strategi oleh para politisi dan...

Konsumsi Rumah Tangga dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Pandemi Covid-19 yang selama ini berlangsung sangat memukul perekonomian Indonesia. Dampaknya siginifikan terasa baik pada sisi kesehatan, sosial ekonomi, hingga  sektor keuangan. Kebijakan yang...

Data Statistik di Tengah Hiruk Pikuk Tahun Politik

Tahun politik sudah datang. Hiruk pikuk persiapannya mulai lalu lalang di setiap lini kehidupan. Televisi, koran, kanal berita online, bahkan baliho-baliho di pinggir jalan mulai...
Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik

Pelaksanaan Pilpres sudah memasuki hitungan mundur, kurang lima bulan lagi menuju hari pencoblosan. Penantian yang panjang bagi rakyat untuk mendapatkan kepala negara periode lima tahun ke depan, dengan tantangan kehidupan kiwari yang makin besar. Namun, bagi capres cawapres, baik petahana Jokowi-Amin, maupun penantang Prabowo-Sandi, waktu yang tersisa hingga pemilih masuk ke bilik suara relatif tidaklah lama.

Meski singkat waktu tersisa bagi  kedua pasangan yang berlomba, sampai hari ini belum terlihat daya tarik yang kuat dari kedua capres untuk bisa kita yakini sepenuhnya apa alasan mendasar (reason d’etre) kenapa harus memilih mereka. Yang sampai ke publik masih berupa citra pesona semu yang melekat atau dilekatkan pada personal mereka.

Petahana dan penantang beserta tim pemenangan serta pendukung mereka, masih bergulat dengan gaya lama; perang kata, adu argumen dangkal dan konflik semantik yang tidak menarik. Belum terlihat branding, konten dan tagline memikat yang menyatu pada masing masing kandidat. Belum tampak visi kongkret dalam bentuk narasi besar hendak kemana bangsa dan negara ini akan dibawa. Kedua kandidat gagap memformulasikan kehendak rakyat secara lebih masuk akal.

Dari berbagai survei dalam rentang dua bulan belakangan, persentase keterpilihan kedua pasangan pun belum nampak menjanjikan. Keterpilihan petahana masih berkisar antara 52-57 persen, angka yang belum aman. Penantang pun sejauh ini baru meraup sekitar 29-34 persen pemilih. Hasil dari berbagai lembaga survei ini menunjukkan, dukungan terhadap kedua kandidat, relatif stagnan.

Stagnasi angka keterpilihan kedua kandidat amat sangat terkait dengan alasan substansial mengapa rakyat harus memilih satu di antara keduanya. Sampai saat ini rakyat belum diberi gambaran gamblang tentang visi misi, program kongkret untuk menggerakkan roda sejarah bangsa ini ke masa depan sesuai dengan tantangan zaman dalam sebuah narasi besar yang bisa ditangkap dan dipahami rakyat dari beragam lapisan.

Petahana sesungguhnya memiliki modal politik amat besar untuk meraih keuntungan elektabiltas dengan mengelaborasi, mempresentasikan dan meyakinkan publik tantang kinerja, tindakan dan program besar yang telah diwujudkan dalam satu periode mengelola negara dan menjalankan pemerintahan.

Banyak bidang pemerintahan dan program pembangunan yang berhasil signifikan dan malahan membanggakan jika dikomparasikan dengan beberapa rezim sebelumnya. Banyak pula bidang dan program pembangunan yang masih belum berubah dan jauh dari hasil maksimal.

Hal ini bukanlah sebuah kegagalan jika dikomunikasikan dengan jujur dan obyektif tentang kendala mendasar yang sulit diperbaiki dalam waktu singkat. Kesadaran nalar rakyat pun bisa dibuka dengan apa adanya dan dengan lapang dada rakyat pun akan memakluminya. Ini bisa diartikulasikan dalam sebuah cerita besar bahwa sang petahana memang beda (diferensiasi) dengan rezim sebelumnya dan dengan penantang untuk bertarung ulang pada 2019 mendatang.

Narasi besar dari keberhasilan dan kekurangan pada satu periode yang telah dilalui harus disambungkan dengan narasi besar lima tahun periode kepemimpinan bangsa ke depan. Sebuah narasi besar harus kuat secara filosifis, epistemologis dan capaian eksekusi. Poin poin keberhasilan semestinya mudah diurai dalam sebuah bingkai kuat dan terintegrasi secara utuh dan kukuh yang terartikulasi, terekspresikan dan dengan sendirinya bercerita tentang progres perjalanan sejarah bangsa terkini.

Dari narasi besar inilah kekuatan petahana dikerucutkan menjadi personal branding kepemimpinan yang menarik, layak dan semestinya diteruskan untuk lima tahun lagi supaya tuntas sudah tanggungjawab sejarah yang diamanahkan. Dari narasi besar ini pulalah tagline petahana bisa dipersembahkan dengan pilihan diksi yang tepat, padat dan kuat yang mampu menyedot kesadaran rakyat; pilihan politik ke depan amatlah menentukan.

Namun sayang seribu sayang, petahana tak fokus, lemah atau limbung dalam mendefisikan kekuatan dan capaian program yang telah dilakukan. Capaian program hanya dikongklusikan pada terbangunnya banyak infrastruktur yang dikomunikasikan dalam terminologi amat fisik dan teknis.

Padahal pembangunan infrastruktur bisa didefinisikan lebih hebat dari itu. Infrastruktur adalah soal penting menyangkut keadilan, keterhubungan anak anak bangsa yang berada di banyak wilayah yang sungguh luas secara georafis, beragamnya potensi sumberdaya dan kekayaan kultural. Infrastruktur bukan sekadar soal fisik, tapi menyatunya anak anak bangsa dalam mengarungi hidup menuju masa depan.

Jika Jokowi tetap ingin mendulang suara rakyat secara meyakinkan dan agar Pilpres lebih menarik dan mendidik layaknya konser demokrasi yang apik, disain kampanye terutama sajian semantik dan derivasinya dalam berbagai bentuk, harus ada perbaikan serius. Jokowi dan tim kampanyenya mesti mulai mengurangi atau malahan menghentikan stetmen stetmen parsial, dangkal dan sempit.

Juga sebaiknya tak lagi menonjolkan sekadar penampilan personal dalam even even seremonial dengan tujuan menyedot dukungan generasi milenial. Yang mengemuka hendaknya lebih kepada isu isu besar, substansial yang dinanti rakyat untuk memenuhi asa kehidupan berbangsa dan bernegara yang hakiki. Dengan begitu, rakyat bisa diikat dengan sebuah keyakinan dan kesadaran; bersama Jokowi, bangsa yang beragam ini, optimis bergerak meraih masa depan.

Masih ada waktu untuk Jokowi dan timnya berbenah. Skenario kampanye masih bisa diubah untuk lebih terarah. Apalagi kandidat kompetitor juga belum memiliki narasi jelas, apatah lagi narasi besar yang menggugah. Jika Jokowi dan timnya tak berbenah, harapan untuk terpilih kembali tidaklah mudah. Seandainya pun tetap terpilih dan memenangkan pertarungan, Pilpres 2019 tidaklah menarik dan menggembirakan seperti sering ia nyatakan. Ia terpilih kembali hanya karena kompetitornya di sebelah memang payah. Dan rakyatpun akan menerimanya dengan pasrah sebagai kemestian sejarah.

Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.