Sabtu, Juni 19, 2021

Memilih Diam dalam Pemilihan

Ketika Persma Tak Lagi Diminati

Bagi mahasiswa baru, Pers Mahasiswa atau biasa disebut dengan persma, nampaknya masih menjadi sesuatu yang tabu di telinga. Padahal, persma sendiri berperan sebagai roda...

Counter Attack dari Falling Star Challange

Hampir seluruh masyarakat saat ini telah terhubung dalam satu kesatuan kelembagaan yaitu media sosial atau yang bisa disebut medsos. Hype media sosial berawal pada...

Knowledge Management dan Equlibrium Baru

Tahun 2016 sembilan bank di tanah air harus mengurangi 7.216 pegawainya, raksasa taxi tanah air Blue Bird harus rela laba periode tahun berjalannya turun...

Kumbh Mela, Nyepi, dan Idulfitri

Kumbh Mela termasuk perayaan keagamaan terbesar di India yang berkaitan dengan mitologi Dewa Wisnu. Kita bisa melihat secara utuh perihal euforia keagamaan Kumbh Mela...
Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.

Sistem politik yang sedang kita hadapi sekarang ini bernama “demokrasi”. Saya artikan demokrasi ini sebagai kebebasan dalam menyalurkan kekuasaan dari rakyat untuk rakyat. Sedapatnya itu terjadi di negeri ini! Namun nyatanya demokrasi yang banyak dimengerti hanya sekedar memilih dan dipilih.

Belum lagi bisingnya suara-suara pendukung yang fanatik. Kita hanya sekedar mengerti bahwa pada dasarnya ada calon-calon yang akan memimpin negeri ini (entah dari mana datangnya).

Mereka secara tiba-tiba menampilkan diri, dan menjadi pahlawan serba tahu. Rakyat tergeletak melihat serangkaian janji-janji yang (kemungkinan besar) pupus. Dan tentu saja masih ada yang bersedia memilih orang-orang itu. Yang dilihat personalnya, bukan apa yang ingin dia lakukan. Uniknya, para pemilih ini dengan lantang menyatakan apa yang akan dipilihnya.

Pada esensinya, pemilihan pemimpin itu dilaksanakan secara rahasia. Maka dari itu, disediakan bilik-bilik di TPS. Ketika kita memilih, disediakan privasi untuk mencoblos. Itu untuk menjaga kerahasiaan pemilih dalam berdemokrasi.

Sekarang tidak ada artinya memilih secara rahasia, kalau kita sudah memilih sebelum datang ke TPS. Apa gunanya bilik-bilik itu kalau kita sudah terang-terangan memakai atribut partai? Bahkan memilih golput saja dianggap sebagai dosa. Memilih apa yang kita mau pilih sudah tidak berdasarkan keinginan kita.

Rasionalitas dalam pandangan sempit bagi para kaum populis anti-golput, memaknai bahwa golput bukan pilihan. Saya cukup kecewa dengan tanggapan-tanggapan semacam itu.

Memilih dalam demokrasi bukan sekedar perkara 01 atau 02, tapi lebih dari itu. Pilihan bukan sekedar angka-angka atau mana yang lebih kita sukai atau tidak. Pilihan itu berdasarkan apa yang kita kehendaki.

Bisa diterima bahwa memilih itu suatu kebebasan, maka kita memilih atau pun tidak memilih merupakan hak-hak kita sebagai rakyat yang bebas. Karena rakyat itu sendiri yang memberikan kekuasaan kepada calon pembesar. Dengan segera para penguasa seharusnya takut pada rakyat, bukan sebaliknya. Sayangnya kondisi saat ini lebih condong kepada opresi terhadap kebebasan memilih.

Ada perkiraan yang terjadi bila angka golput yang tinggi, maka sistem politik nantinya tidak akan berjalan dengan lancar. Saya rasa sistem sekarang juga tidak berjalan begitu baik, terutama di parlemen. Dan apa yang diharapkan dalam pemilihan umum nanti adalah untuk mengubah “situasi”.

Hal itu tidak segampang masalah coblos dan tidak mencoblos. Pasalnya, pilihan kita sekarang dianggap sebagai penentu masa depan. Ya, memang betul siapa yang memimpin kita nantinya akan duduk di kursi kekuasaan. Namun masa depan kita tidak tergantung pada slogan-slogan populis kedua kubu.

Yang saya sesalkan sebetulnya bukan terhadap mereka yang berani bersuara keras tentang apa yang mereka pilih, tetapi kepada mereka yang tidak memberikan kebebasan kepada mereka yang tidak mau memilih. Hak-hak pemilih itu lebih dari sekedar mencoblos wajah calon pemimpin. Pemilih memeilki free will dalam bertindak, mau dia memilih yang kiri atau yang kanan, maupun tidak memilih sama sekali.

Ketidakmauaan dalam memilih, menurut hemat saya, datang dari kemuakan terhadap status quo. Sebelum presiden saat ini berdiam di istana, dia memberikan suatu harapan baru kepada rakyat—sosok pemimpin yang merakyat.

Maka saat itu, pemilih benar-benar memilih sesuai keinginan karena diberikan harapan. Memang kini kinerjanya cukup mumpuni, tetapi masih banyak janji-janji yang tidak ditepati. Dan mereka yang berkata bahwa memberikannya kesempatan satu kali lagi untuk 5 tahun ke depan merupakan harapan yang bisa dikatakan janji kosong. Seperti yang kita ketahui, politik praktis ini tak kenal dengan ekspektasi rakyat, melainkan bersiteguh akan kelangsungan kekuasaan.

Kasus-kasus HAM masa lalu belum juga dituntaskan.  Belum lagi soal kesejahteraan rakyat yang setiap kali dibuat sebagai janji palsu. Kedua kubu melakukan hal yang sama, masalahnya kubu yang satu lagi belum pernah merasakan “kekuasaan”. Ada juga yang bilang (kebanyakan dari pendukung oposisi) bahwa calon pemimpin mereka harus diberikan kesempatan. Hmmm… Apakah kekuasaan di tahun 1998 tidak cukup ?

Maka atas kemuakan ini semua rakyat memilih untuk tidak memilih walaupun berhak untuk memilih. Itu kebebasan mereka sebagai rakyat yang beradab. Mereka tidak dungu, atau bodoh, dan gila. Mereka juga tidak anti-nasionalis ataupun anti-pemerintah. Mereka ini hanya lelah. Saya salut kepada mereka yang secara terang-terangan mengaku untuk tidak menggunakan hak suara mereka. Dan saya lebih memilih diam ketika ditanyakan kepada kubu mana saya akan memilih, karena itulah esensi demokrasi.

Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.