Sabtu, Mei 15, 2021

Medsos, Sun Tzu, dan Gaduh Tahun Politik

Membaca Politik Kultural Jawa Barat

Membincang politik kultural, ada satu nama yang sejauh ini konsisten membawa aroma kultural dalam panggung politik. Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta yang berani menentang arus...

Catatan Demokrasi Indonesia di Akhir Tahun

Indonesia baru saja menghelat pesta demokrasi serentak pada kontestasi Pemilihan Kepala Daerah 9 Desember 2020. Kontestasi tersebut sukses digelar walaupun di masa pandemi Covid-19....

Kopi Jum'at Semangat

Kopi Jum'at SemangatOleh : Widdy Apriandi(Penulis adalah Pegiat Kopi Tanah Air Sekaligus Founder Kedai Kopi "Bandit" - Purwakarta)Eits, ngopi dulu kita! Biar ngga ngantuk...

Muhammad: Manusia Pengemban Wahyu

Bukan dari rumpun bangsawan, bukan turunan raja, tidak juga kaya harta, tidak pula dikenal cendekia di tengah-tengah kaumnya. Dialah Muhammad, seorang yang ditakdirkan lahir...
Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/

Memasuki tahun 2018 adalah memasuki rimba politik. Presiden Jokowi juga menegaskan demikian. Makanya, sejak pertengahan tahun lalu Jokowi mengingatkan para menteri agar tidak gaduh.

Masyarakat umum juga dihimbau agar tetap menjaga kerukunan dan persatuan di tengah tibanya tahun politik ini. Terutama di media sosial yang seakan menjadi “arena baru” pertarungan partai politik, yakni berupa agitasi dan propaganda politik. Bahkan polarisasi pilpres 2014, yang menghadapkan Jokowi dan Prabowo, masih sangat terasa hingga sekarang. Masyarakat media sosial atau netizen terbelah, dan tak jarang saling melempar hoax, fitnah, maupun ujaran kebencian.

Suasana gaduh yang “diprediksikan” Jokowi pertengahan tahun lalu rupanya menjadi kenyataan di saat mulainya tahun 2018. Bahkan di minggu pertama pembuka tahun ini, sudah diwarnai dengan beberapa kegaduhan politik. Salah satunya beredar foto syur, yang di dalamnya melibatkan calon wakil gubernur Jawa Timur, Abdullah Azwar Anas. Hingga berdampak pada mundurnya Bupati Banyuwangi itu dari pencalonan sebagai wakil gubernur mendampingi Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Bahkan episode minggu pertama salah satu program talkshow yang fenomenal, dengan host jurnalis kawak, Indonesia Lowyers Klub ( 09/01/18 ), dibuka dengan tema “Pilkada : Panas Sebelum Dimulai”. Host acara itu, Karni Ilyas, mengundang para tokoh partai politik dan beberapa calon kepala daerah, yang akan berkompetisi di pilkada serentak 2018, untuk mengelaborasi fenomena politik yang sudah terjadi.

Disela-sela acara, salah satu narasumber, Prof. Cipta Lesmana, menggambarkan konstelasi pilkada ini dengan teori Sun Tzu, “Politic is war”, dimana politik adalah perang. Kondisi perang dalam pilkada adalah realita yang menjadi fakta di lapangan. Dan kondisi itu didorong dari nafsu kekuasaan yang ada dalam diri manusia. Dimana manusia adalah “Zon Politicon” kata Prof. Cipta, mengutip istilah filusuf Yunani, Aristoteles, untuk menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang dibekali dengan nafsu politik seperti hewan.

Realitas politik Indonesia seringkali memang seperti apa yang digambarkan oleh Prof. Cipta Lesmana, namun manusia punya akal untuk mengukur sejauh mana prilaku yang pantas untuk dilakukan. Lebih-lebih hidup di Indonesia dimana kesantunan dikedepankan, daripada sekedar nafsu untuk memperoleh kekuasaan dan kepentingan sesaat.

Psikolog Sigmund Freud (1909) sudah bertitah, bahwa kepribadian manusia terdiri dari 3 komponen, id, ego, dan super ego. Id adalah nafsu atau dorongan kenikmatan yang harus dipenuhi. Ego bisa dianalogikan dengan otak atau akal yang membimbing manusia untuk mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan. Sedangkan Super ego sederhananya adalah dorongan dalam diri manusia untuk mengetahui norma sosial, aturan agama, dan sejenisnya.

Berangkat dari teori Freud ini, manusia tak sebatas seperti yang digambarkan oleh Prof. Cipta dalam forum ILC. Dalam diri manusia juga ada unsur akal yang membimbing untuk keluar dari segala persoalan. Dalam diri manusia juga ada unsur pendorong untuk mengetahui norma sosial, agama, dan lebih lanjut mengaplikasikanya dalam realita kehidupan.

Dalam hal ini manusia Indonesia yang punya akal sehat dan juga bermoral, seharusnya lebih bijak dalam menggunakan media sosial, agar tidak menjadi korban konstelasi politik yang dikonfigurasi oleh para elit politik. Karena seringkali yang terjadi adalah rakyat menjadi korban dari konfigurasi politik yang dibuat oleh elit politik. Rakyat baper, reaksioner, dan ribut sendiri.

Lebih lanjut polarisasi dari konstalasi politik yang tidak sehat, sampai pada merebaknya hoax, ujaran kebencian, dan finah yang tidak terkontrol akan merugikan bangsa Indonesia. Akan timbul efek domino, berupa disintegrasi bangsa, ketidakpastian perekonomian, macetnya pembangunan, dan lain sebagainya. Apabila itu yang terjadi, ujung-ujungnya rakyat juga yang menjadi korban lagi, dengan menurunnya indeks kesejahteraan. Padahal hakikatnya pemilu yang didasarkan atas panji demokrasi, tujuan utamanya adalah kesejahteraan rakyat itu sendiri.

Kondisi seperti ini digambarkan secara menohok oleh Prof. Nadirsyah Hosen dalam cuitan akun twiternya, @na_dirs (28/12/17), “Politik di level atas itu dinamis. Makanya pimpinan parpol gak boleh baperan. Semua bisa dinegosiasikan. Politik di level bawah itu idiologis. Makanya emosi pendukung setia yang terus digosok. Gak aneh di level atas pada lobi sambil ketawa. Di level bawah maunya rusuh terus”.

Harusnya rakyat cerdas, dan mengetahui kondisi yang seperti ini, sehingga lebih dewasa dalam bertindak. Terutama dalam bermedia sosial, ditengah hiruk-pikuk perpolitikan nasional yang makin kencang di tahun politik 2018 sampai puncaknya nanti tahun 2019. Jangan mudah terpancing emosi dengan dinamika perpolitikan yang ada, la wong para elit aja lobi-lobi sambil ketawa-ketawa, masak yang di bawah ribut sendiri, seperti kata Prof. Nadir.

Bukan berarti terus menafikan kompetisi, dengan bumbu agitasi. Namun berkompetisilah dengan sehat, beragitasilah dengan batas kewajaran, agar tercipta pemilu yang berintegritas dan demokrasi yang berkualitas.

Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.