Rabu, Januari 7, 2026

Mahasiswa Merantau, Menumpang Hidup atau Tuntutan Hidup?

- Advertisement -

Mahasiswa yang merantau bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya perguruan tinggi. Setiap tahun ribuan mahasiswa meninggalkan kota asalnya untuk menuntut ilmu di kota lain dengan harapan mendapat pendidikan yang tingkatannya lebih dari sekolah menengah. Namun, di sisi lain muncul sebuah pertanyaan : apakah mahasiswa merantau sekadar numpang hidup di kota orang, atau justru dituntut untuk sungguh-sungguh hidup — berdiri sendiri, mandiri, dan bertahan?

Kehidupan seorang mahasiswa yang merantau dipenuhi dengan dilema emosional dan sosial. Pada fase awal, banyak yang merasakan perbedaan dan kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, baik dari segi gaya hidup, bahasa, sosial, dan biaya hidup. enelitian dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (2024) mencatat bahwa homesickness merupakan tantangan emosional terbesar yang dialami mahasiswa baru perantau. Hal itu dapat terjadi karena jarak yang terpisah dengan keluarga, dan perbedaan lingkungan.

Terlebih ketika mahasiswa tersebut berasal dari keluarga yang selalu memenuhi apa yang diminta, itu membuat proses adaptasi jauh lebih berat. Lain cerita ketika mahasiswa tersebut sudah mandiri sebelum merantau, mereka umumnya lebih siap menghadapi tekanan di tanah rantau karena sudah memiliki dasar kemampuan manajemen diri, kemandirian finansial sederhana, serta kepercayaan diri dalam mengambil keputusan. Namun demikian, pada akhirnya setiap mahasiswa merantau akan melalui proses pembelajaran yang sama, yaitu menghadapi ketidakpastian, menemukan cara untuk bertahan, lalu perlahan membangun kenyamanan dan identitas baru di tempat yang jauh dari rumah.

Namun, dibalik itu justru pengalaman merantau membuat mahasiswa dapat menemukan siapa diri mereka sebenarnya. Mahasiswa akan menemukan karakter diri mereka karena dituntut untuk mengatur keuangan sendiri, mengelola waktu, menyeimbangkan akademik dan kebutuhan pribadi, dan memutuskan pilihan hidup tanpa bantuan orang tua. Situasi ini perlahan membentuk karakter yang mandiri, dewasa, tanggung jawab, dan problem solving yang baik.

Seiring berjalannya waktu, karakter mahasiswa tersebut semakin berkembang, walau harus menghadapi kegagalan dan pilihan hidup yang keliru. Tetapi, itu bukan menjadi alasan untuk menyerah hidup sebagai perantau, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran hidup yang memperkuat mental dan cara berpikir mahasiswa. Sebuah kajian dari Jurnal Future Academia (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa rantau cenderung memiliki perkembangan kepercayaan diri dan penyesuaian diri yang lebih kuat dibanding mahasiswa lokal karena tuntutan lingkungan yang menuntut mereka untuk bertindak aktif. Jurnal tersebut menunjukkan mahasiswa perantau juga pantas untuk tinggal dan berkembang di kota yang bukan kota asal.

Dalam proses ini, mahasiswa yang merantau tidak hanya belajar mata kuliah di kampus, tetapi juga belajar bertahan hidup, memahami diri sendiri, menjalin relasi baru, hingga membentuk cara pandang yang luas. Mahasiswa yang awalnya hanya “numpang belajar” di kota lain, perlahan menyadari bahwa merantau adalah melatih hidup untuk mandiri. Karena pada akhirnya kita akan kembali ke diri kita masing–masing.

Suatu saat pun setelah lulus kuliah dan bekerja, tentunya ada masanya kembali merantau ke kota lain, sehingga dapat adaptasi lebih mudah karena sudah ada pengalaman semasa kuliah. Dengan segala halangan, kesulitan, dan tantangan yang dialami, mahasiswa rantau tidak hanya menjadi pendatang sementara, tetapi membangun ruang hidup yang baru meski jauh dari rumah.

Pengalaman merantau bagi mahasiswa itu juga memperluas relasi sosial, baik dengan teman seangkatan, kating, dosen, ataupun masyarakat sekitar. Relasi – relasi ini tidak hanya bermanfaat selama di bangku kuliah, tetapi juga dalam dunia kerja maupun kehidupan apapun setelah lulus kuliah.

Mahasiswa rantau belajar untuk bersosial dengan orang – orang yang berasal dari latar belakang dan pola pikir yang berbeda, sehingga wawasan dan cara berpikir mereka lebih terbuka dan luas. Kehidupan merantau seringkali memaksa para mahasiswa rantau untuk keluar dari zona nyaman dan menerima perubahan diri yang dipaksa oleh keadaan sebagai proses untuk pertumbuhan diri. Hal itu agar mahasiswa dapat tetap menjalankan hidup selama kuliah ataupun setelah lulus kuliah untuk menyadari mahasiswa kalau hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Contohnya di dunia kerja, banyak pekerja yang bekerja di bidang yang berbeda sewaktu kuliah. Itu dilakukan agar kita dapat bertahan hidup walau tidak sesuai yang kita inginkan.

Pada akhirnya, merantau adalah proses memaknai hidup. Mahasiswa yang berani meninggalkan rumah demi menuntut ilmu membawa harapan besar, baik dari diri sendiri maupun keluarga. Mereka belajar bahwa hidup bukan sekadar tentang mencari kenyamanan, melainkan tentang keberanian menghadapi ketidakpastian dan kesediaan untuk terus berkembang.

- Advertisement -

Proses jatuh bangun selama merantau menjadi bukti bahwa perjuangan bukan hanya ada di ruang kelas, tetapi di setiap keputusan yang diambil setiap hari. Karena itu, mahasiswa merantau bukanlah penumpang hidup di kota orang, melainkan individu yang sedang membangun masa depan yang dihasilkan dari keberanian, kerja keras, tekad, dan pengalaman hidup yang tidak ternilai. Merantau membuktikan bahwa tempat tinggal mungkin berubah, tetapi tujuan dan arah hidup justru menjadi semakin jelas.

Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.