Lidah Jawa

Priyadi
Priyadi
Bapak rumah tangga amatir. Tukang halu di balik asap arang angkringan. Lebih sering melahirkan draf tulisan yang belum selesai ketimbang masakan yang sempurna. Sedang belajar menyusun kata agar seimbang dengan takaran gula wedangan.
- Advertisement -

Di atas mangkuk plastik sore ini, kolak yang isinya waluh, pisang, dan singkong, bukan sekadar perkara pengganjal perut. Aku meminta anakku untuk mencicipinya. Barangkali, agak ambisius untuk menyebut upayaku ini untuk mengenalkan padanya sepotong riwayat kebudayaan.

Memang, tak ada santan dalam kuahnya. Namun, perpaduan rasa manis, gurihnya waluh, sedikit kecut pisang kepok, dan lumernya singkong, menjelma kombinasi yang akrab di lidah. Ketika aku bertanya bagaimana rasanya, dia menjawab pendek: “Enak.” Selanjutnya, dia dengan lahap menyantapnya.

Anakku, yang baru akan masuk TK B itu, tentu saja belum perlu tahu bahwa hasil bumi dusun Watulemper yang terhidang di hadapannya punya sejarah panjang, pelik dan kadang berdarah-darah.

Waluh, pisang, dan singkong, pernah memiliki tempat berdaulat bagi lidah-lidah generasi sebelum dia. Panganan itu, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari biografi para leluhur. Kini, terlanjur dianggap kuno. Mereka, perlahan tersisih di tengah gempuran homogenisasi gastronomi yang mengepung generasinya.

*****

Aku sendiri, hingga dewasa, tidak pernah bertanya dari mana waluh dan singkong itu berasal. Sebab keduanya sudah terasa seperti bagian dari tanah ini:  seperti udara, seperti air sumur depan rumah, seperti suara azan subuh, seperti alunan sedih burung Kedasih. Padahal, waluh dan singkong adalah pendatang.

Barangkali, para petani tetanggaku juga tidak pernah memikirkannya. Sebab, keduanya sudah terlalu lama hidup bersama kita. Waluh mudah hidup di pekarangan, singkong mudah tumbuh di sawah dan tegalan. Keduanya hadir dalam berbagai hidangan dan berjalan melintasi zaman yang berganti zaman.

Hingga, sajian dua panganan itu menjadi sangat begitu akrab, meneroka jauh ke dalam ingatan lidah. Maka, sebenarnya saat ini sulit membayangkan bahwa pada suatu masa, lidah orang Jawa rupanya pernah hidup tanpa mengenal keduanya.

Namun, sejarah memang kerap bekerja dengan cara tak terduga. Berabad-abad lalu, saat kapal penjelajah-penjajah Portugis dan Spanyol melintasi samudra: mereka mencari rempah-rempah sambil membawa senjata, agama, bendera raja, juga bibit tanaman dari seberang benua.

Waluh dan singkong di antaranya. Keduanya berasal dari Amerika lalu singgah di Maluku, kemudian menyebar ke berbagai pulau. Perjalanan pelik itu kemudian menemukan rumah, di tanah yang bahkan tak pernah mereka kenal sebelumnya.

- Advertisement -

Yakinlah, penjelajah-penjajah itu juga tak bakal mengira, jika benih tanaman yang mereka bawa akan mempengaruhi jutaan lidah manusia di Nusantara, khususnya lidah manusia Jawa.

*****

Setiap tanaman yang bertumbuh, akan mencari jalannya menuju dapur, piring resik, lalu ingatan. Saat musim berganti, dan tahun-tahun melahirkan generasi demi generasi, waluh dan singkong berhenti jadi tanaman asing. Mereka, menyusup dengan pelan menjadi kebiasaan, masuk ke pawon dalam resep yang beragam, kemudian jadi sesuatu yang dianggap telah ada sejak dahulu kala.

Padahal, keakraban itu sesungguhnya adalah hasil dari perjalanan panjang menjadi sebuah kebudayaan. Saking rekatnya keakraban itu, kedua panganan tersebut turut mengejawantah dalam alam pikir imajinasi manusia Jawa.

Kita bisa simak cerita yang dikumpulkan C.F. Winter dalam Dongeng Wewulang Becik (1889). Di buku itu, dikisahkan ada orang desa membandingkan tanaman waluh dan elo. Waluh yang hanya merambat, tapi menghasilkan buah yang besar dan kuning cantik. Sedang pohon elo yang besar, hanya menghasilkan buah yang kecil dan kurang memikat.

“Yen akua kang nitahake jagat, amasthi uwit elo iki uwohe gedhe lan kuning-kuning: kaya waluh iku, iba asrine dineleng.”

(Jika aku adalah pencipta dunia, pastilah pohon elo ini buahnya besar dan kuning-kuning: seperti labu itu, buanya indah dipandang).

Begitu juga dengan singkong, tanaman ini juga terdokumentasi sudah sejak lama. Ki Padmasusastra dalam Serat Bauwarna (1898), memasukkan “Pohung” dalam bukunya dan memberi penjelasan:

“Ana kang ngarani: katela pohung, saka tembung Malayu: pohung iku ditandur ana ing pategalan, utawa ana ing pakebonan, panandure ing mangsa labuh kapat, lemah wis rada teles mangisor, yen wis pitung sasi kena kadhudhuk…..Pohung duwe aran maneh: katela jendral utawa kaspe.”

(Ada yang menyebutnya: katela pohung, dari kata Melayu: pohung ditanam di ladang, atau di kebun, ditanam pada musim peralihan, tanah di bawahnya sedikit basah, setelah tujuh bulan digali…..Pohung memiliki nama lain: katela jendral atau kaspe).

Berbeda dengan pisang yang memang lahir dari rahim tanah ini, daun dan jantungnya telah abadi dipahat pada relief candi-candi. Waluh dan singkong harus menempuh takdir berbeda, melakukan perjalanan melintasi samudra, untuk sampai di dalam mangkuk kita.

*****

Ketika anakku menghabiskan kolaknya, aku terkejut saat dua tangannya dengan pelan mengangkat mangkuk itu dan menempelkan di antara dua bibir mungilnya. Dia lalu menenggak kuahnya sampai tak tersisa. “Enak, Bapak,” ujarnya.

Aku hanya tersenyum melihat adegan sekilas itu, yang mungkin akan membuatku terus mengingatnya sepanjang usia. Meski aku tahu kolak itu masih kurang sempurna, sebab tak ada aroma pandan yang menguar dari kehangatannya, tapi kesempurnaan itu digenapi oleh tandasnya kuah dengan cara tak terduga.

Arkian, aku sadar selera lidah anakku akan terus dibentuk oleh zamannya, dan zaman itu, zaman keseragaman rasa, tidak ramah pada kolak. Tapi setidaknya, hari ini, ia sudah pernah mencicipinya. Dan ia bilang enak.

Dan, lewat kunyahan gigi serta kecapan lidah mungilnya, tanpa ia sadari, ia sedang meringkas ratusan tahun pertemuan antarperadaban.

12.59. Selasa, 16 Juni 2026

Rujukan:

Winter, C. F. (1889). Dongeng Wewulang Becik. Yayasan Sastra Lestari (Sastra.org). Tersedia di: https://www.sastra.org/kisah-cerita-dan-kronikal/dongeng/253-dongeng-wewulang-becik-winter-1889-868?s=waluh (Diakses pada 15 Juni 2026).

Padmasusastra. (1898). Bauwarna (Jilid 31: Pa). Yayasan Sastra Lestari (Sastra.org). Tersedia di: https://www.sastra.org/bahasa-dan-budaya/adat-dan-tradisi/598-bauwarna-padmasusastra-1898-205-jilid-31-pa?s=katela (Diakses pada 15 Juni 2026).

Priyadi
Priyadi
Bapak rumah tangga amatir. Tukang halu di balik asap arang angkringan. Lebih sering melahirkan draf tulisan yang belum selesai ketimbang masakan yang sempurna. Sedang belajar menyusun kata agar seimbang dengan takaran gula wedangan.
Facebook Comment
- Advertisement -