Sabtu, Mei 25, 2024

Lahirnya Zaman Pergerakan Nasional Kedua?

Widdy Nuril Ahyar
Widdy Nuril Ahyar
Historian, Paedogigic and Andragogic Entusiasm

Menjelang tahun politik 2024, terdapat adagium yang kerap melekat dalam ingatan kolektif masyarakat seiring pergantian kekuasaan: Ganti Menteri Ganti Kurikulum. Pergantian kurikulum sebetulnya menjadi suatu hal yang wajar terjadi di berbagai negara dengan melihat dinamika yang terjadi terutama dalam melihat konstelasi global dan tantangan zaman yang berubah.

Apalagi Kurikulum 2013 yang kini genap berusia lebih dari 10 tahun telah melewati tiga periode menteri yang berbeda, kepemimpinan Anies Baswedan, Muhadjir Effendi dan terakhir Nadiem Makarim. Sudah sepatutnya kita mengucapkan salam perpisahan pada Kurikulum 2013 yang telah membersamai dunia pendidikan kita.

Dalam beberapa tahun belakang, Kemendikbudristek dibawah Nadiem Makarim gemar menggunakan frasa yang menggunakan kata gerak, dan kata turunannya seperti penggerak, tergerak, bergerak, menggerakkan dalam program-program yang diluncurkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penggerak memiliki dua makna, yaitu orang yang menggerakkan dan alat untuk menggerakkan.

Sekolah Penggerak, Pendidikan Guru Penggerak dan Organisasi Penggerak menjadi program unggulan Nadiem Makarim sejak menjabat sebagai Mendikbudristek pada 2019 hingga hari ini. Selain gerak, kata yang kerap muncul ialah kata “Merdeka” sebagai tagline berbagai program Kemendikbudristek, seperti Kurikulum Merdeka, Kampus Merdeka, Merdeka Belajar dan seterusnya. Hal ini mengingatkan kita pada pembabakan sejarah Indonesia, yaitu Zaman Pergerakan Nasional yang terjadi antara kurun waktu 1908 hingga 1945.

Pertanyaannya ialah akankah program-program tersebut dapat “menggerakkan” Bangsa Indonesia untuk mencapai peningkatan kualitas Pendidikan di Indonesia secara signifikan? Apakah kesamaan pola yang terjadi akan mengulang kesuksesan zaman pergerakan nasional di masa lalu yang puncaknya membawa Indonesia mencapai kemerdekaan? Oleh karena itu kita perlu melakukan suatu analisa historis untuk melihat konteks yang terjadi hari ini.

Rekonstruksi Zaman Pergerakan Nasional

Dalam sejarah Indonesia, terdapat satu periode yang menandai suatu zaman yang disebut oleh Indonesianis, Takashi Shiraishi, sebagai Zaman Bergerak. Pada saat itu dibentuklah kelompok ronda Rekso Rumekso di Laweyan, Surakarta yang bertujuan menjaga batik-batik yang dijemur oleh para pengrajin dari para pencuri batik yang kerap meresahkan masyarakat.

Selanjutnya, berdirilah organisasi Sarekat Dagang Islam (kemudian menjadi SI) yang digagas oleh H. Samanhudi. SDI berkembang ke seluruh Hindia Belanda dan membentuk cabang organisasi di kota-kota besar. Kemudian pada 1908, dr. Wahidin Sudirohusodo mencetuskan pendirian Boedi Oetomo yang menarik minat para pelajar-pelajar STOVIA (Sekolah Kedokteran) untuk bergabung dalam organisasi tersebut.

Dari periode ini kita dapat melihat paling tidak terdapat tiga komponen utama yang menentukan jalannya pergerakan nasional. Komponen pertama adalah organisasi modern, baik yang bercorak keagamaan, politik, sosial maupun budaya yang lahir dari rahim dunia pergerakan.

Komponen kedua adalah sekolah yang menjadi tempat bersemainya pemikiran-pemikiran yang memanifestasikan kehendak untuk terlepas dari belenggu penjajahan. Komponen ketiga adalah peran para tokoh-tokoh pergerakan sebagai guru bangsa yang menyatukan keragaman budaya dan masyarakatnya untuk mencapai cita-cita bersama: kemerdekaan. Ketiga komponen itu melebur menjadi satu kekuatan yang mampu membangkitkan kesadaran masyarakat di akar rumput.

Lahirnya Zaman Pergerakan Nasional Kedua

Menariknya, ketiga komponen di atas juga menjadi bagian penting dalam berbagai program yang diinisiasi Kemendikbudristek; Organisasi Penggerak, Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak. L’histoire c’est repete, sejarah telah berulang. Pemerintah menginginkan adanya transformasi pendidikan yang akan berdampak pada masa depan pendidikan di Indonesia.

Berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, di mana pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang dirancang secara lengkap oleh tim ahli yang terdiri dari praktisi dan akademisi pendidikan dengan inspirasi yang diperoleh dari teori-teori pendidikan Barat, implementasi transformasi pendidikan yang dicanangkan saat ini berusaha secara holistik kembali pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang selama ini hanya sekedar slogan Kemendikbudristek, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Dengan menggunakan skema piramida terbalik (bottom up) yang dimulai dari perubahan praktik pendidikan di tingkat akar rumput (level individu dan kelas), kemudian memengaruhi perubahan di tingkat satuan pendidikan, komunitas, sehingga implementasi praktik baik ini dapat dijadikan referensi bagi pemerintah untuk mengambil suatu kebijakan dalam upaya transformasi pendidikan di Indonesia.

Kata kunci yang dapat ditebalkan ialah: mendengar. Mendengar lebih banyak inilah yang memiliki peran yang sangat penting dan krusial dalam program guru penggerak dalam menyebarluaskan praktik pendidikan di daerahnya masing-masing sehingga terjadi transformasi pendidikan pada skala yang lebih luas.

Dalam melakukan transformasi pendidikan yang berkelanjutan dibutuhkan paling tidak tiga elemen: inisiatif pendidikan yang dilakukan, pemimpin dan pengikut. Kini Kemendikbudristek telah menjalankan Pendidikan Guru Penggerak dan seleksinya hingga Angkatan 9 dan melibatkan ribuan guru dari jenjang TK hingga SMA.

Diharapkan melalui Pendidikan yang berlangsung selama 6 bulan tersebut, para guru dapat mendiseminasikan filosofi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara melalui metode Inkuiri Apresiatif, yaitu suatu landasan berpikir yang berfokus pada upaya kooperatif menemukan hal positif dalam diri seseorang, dalam suatu organisasi dan dunia di sekitarnya baik di masa lalu, masa kini maupun masa depan demi suksesnya transformasi pendidikan.

Jika Zaman pergerakan nasional pertama menjadi jembatan menuju kemerdekaan Bangsa Indonesia, lantas apakah zaman pergerakan ini akan mampu mewujudkan transformasi Pendidikan di Indonesia seperti yang diharapkan? Tentu hal ini tergantung kepada komitmen bersama yang perlu disepakati. Pada 2024, negara ini akan menyambut pesta demokrasi yang diklaim sebagai pesta demokrasi terbesar di dunia.

Dalam persepsi publik, sudah lazim jika terjadi pergantian kepemimpinan, maka seluruh kebijakan juga akan mengalami perubahan, termasuk di bidang pendidikan. Semoga program Organisasi Penggerak, Sekolah Penggerak, Guru Penggerak tidak mengalami diskontinyu akibat peralihan pemerintahan itu. Apabila komitmen ini dapat dijaga, maka perlu kita sambut dengan suasana optimis suatu zaman pergerakan nasional kedua dalam sejarah Bangsa Indonesia yang bisa jadi kekuatannya melampaui suksesi kemerdekaan, yaitu cita-cita para pendiri bangsa dalam mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Widdy Nuril Ahyar
Widdy Nuril Ahyar
Historian, Paedogigic and Andragogic Entusiasm
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.