Istilah baru yang semakin sering muncul belakangan ini adalah Generasi Sigma. Disinyalir bahwa para bayi yang lahir pada tahun 2026 akan menjadi generasi baru, yaitu Generasi Sigma, yang sering dianggap sebagai generasi yang memiliki pola pikir dan kecenderungan gaya hidup yang lebih independen. Generasi Sigma juga digambarkan sebagai anak-anak yang akan tumbuh di tengah perubahan dunia yang sangat cepat.
Generasi baru ini memang belum masuk ke dalam klasifikasi resmi, seperti Generasi Z atau Alpha. Namun, istilah Generasi Sigma ini sudah mulai banyak digunakan dalam diskusi-diskusi publik untuk menggambarkan karakter generasi masa depan. Dikutip dari RRI, bahwa istilah Sigma tersebut berasal dari huruf Yunani yang diartikan sebagai perubahan, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi. Tentu saja hal ini selaras dengan kondisi global yang nantinya akan dihadapi oleh para Generasi Sigma sejak usia dini, seperti adanya percepatan teknologi, perubahan sosial serta tantangan sosial yang kompleks.
Generasi Sigma diprediksi akan akrab dengan dunia teknologi yang semakin canggih. Percepatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), otomatisasi serta perkembangan dunia digital dalam kehidupan sehari-hari diprediksi akan berpengaruh pada kemampuan Generasi Sigma untuk beradaptasi yang tinggi, memiliki cara berpikir yang lebih fleksibel serta sangat peka terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka.
Zaman yang terus berkembang serta berbagai potensi yang dimiliki oleh para Generasi Sigma juga akan berhadapan dengan tantangan yang semakin berat. Paparan teknologi sejak dini dapat memunculkan persoalan ketergantungan digital yang dapat berpengaruh, misalnya, pada penurunan interaksi sosial.
Jika dilihat lebih luas lagi, ketimpangan dalam akses teknologi dan pendidikan pun dapat memperluas kesenjangan ekonomi. Individualitas dan ekspresi diri juga diperkirakan menjadi hal-hal yang dominan dalam kehidupan Generasi Sigma mendatang.
Generasi Sigma merupakan generasi yang hadir sebagai cerminan masa depan dunia. Generasi tersebut lahir di tengah perubahan dunia yang serba cepat, namun juga membawa potensi besar lainnya untuk dapat menciptakan solusi baru. Bagaimana dengan generasi sebelumnya?
Tantangannya adalah kita harus memastikan bahwa kecanggihan teknologi harus berjalan seiring dengan nilai-nilai sosial yang ada, seperti nilai empati, simpati, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, Generasi Sigma bukan hanya sebagai generasi yang akan hidup di masa depan, tetapi mereja juga lah sebagai generasi pembentuk masa depan itu sendiri. Diharapkan juga, Generasi Sigma tidak hanya menjadi generasi yang cakap teknologi, tetapi kuat secara karakter.
