Senin, Juli 15, 2024

Konstruksi Pemikiran Dahlan yang Melampaui

Amin Citra Prayoga
Amin Citra Prayoga
Mahasiswa PPKn UMM, Kader IMM Raushan Fikr.

 

Kemajuan Muhammadiyah dalam dunia pendidikan tidak dapat diragukan kebenarannya. Hal tersebut seolah menjadi karakter khusus yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Sehingga secara pengakuan tidak hanya muncul dari internal Muhammadiyah sendiri, bahkan dari masyarakat umum, pemerintah Indonesia bahkan masyarakat dunia.

Pada setiap kesempatan Pidato Presiden Joko Widodo di internal Muhammadiyah, merasa terbantu atas gerakan-gerakan Muhammadiyah dalam sektor pendidikan. Gerakan pencerahan untuk membebaskan manusia dalam keterpurukan dan kebodohan seolah tak pernah terhenti. Bahkan, kalau boleh dikata tanpa adanya amanah konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa semangat Muhammadiyah akan terus bergelora dan mumbumi seolah terilhami oleh ilahi.

Kemajuan tersebut tentu tidak terlepas dari geneologi pendirinya yaitu Muhammad Darwis (K.H. Ahmad Dahlan), yang jauh dari gerakan islam simbolis namun lebih mengedapankan subtantif, tidak fundamental namun kontekstual seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman.

Hal tersebut biasa dikenal sebagai gerakan pembaharuan untuk islam yang berkemajuan. Untuk melakukan Tracing geneologi dahlan dapat dilihat dari guru dahlan ketika dimekah dan cendikiawan muslim eropa dan timur tengah yang memiliki pemikiran inklusif terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman.

Melihat era kelahiran dahlan, (Akhuludin, 2021) menyebut kelahiran Dahlan yaitu 1 Agustus 1868, meninggal tanggal 23 Februari 1923 diusianya  ke-53 tahun, dan diusia 44 tahun  mendirikan Muhammadiyah tepatnya 18 November 1912. Era tersebut dapat disebut sebagai era sulit umat islam terutama di wilayah hindia (Indonesia sekarang) sebagai bangsa terjajah, dan umat islamnya mayoritas terbelakang ditandai dengan peribadatan hanya sebatas ritual penyembahan diri kepada tuhan, dan absen terhadap pengentasan ketertindasan yang diakibatkan sistem, serta penggunaan kacamata kuda oleh kaum elite agama.

Dahlan muda yang tidak pernah tenang melihat itu, terilhami dengan pembaharuan islam hasil pemikiran cendikiawan muslim saat itu di luar sana. Sebutlah Muhammad Abduh dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, kemudian diikuti oleh Jamaludin Al-Afghoni di Pakistan, Rasyid Ridho dari Palestina, dan pemikir-pemikir islam pembaharu lainnya yang memecahkan mitologisasi ijtihad untuk melahirkan penemuan besar dan meneruskan karya cedikiawan muslim terdahulu sebelum zaman rennaisanse (pencerahan di Eropa).

Selain itu, di wilayah hindia terdapat karya anak bangsa yang melakukan gerakan terstruktur dan teroganisir yang diinisiasi oleh dr. Soetomo yaitu Budi Utomo pada tahun 1908 yang mempunyai gerakan dalam sektor pendidikan namun hanya bisa dirasakan oleh kaum bangsawan.

Terinspirasi dari hal yang demikian dahlan ingin memasifkan pengimplementasian ayat-ayat Al-qur’an itu dengan gerakan yang terstruktur dan terorganisir dengan mendirikan Muhammadiyah bersama para santrinya.

Maka tak khayal kemudian jika Dahlan disebut-sebut sebagai Man of Action  oleh karena gerakan sosial hasil kajian Al-qur’an dilanggarnya yang sederhana menjadi pembeda dari yang lain, seolah agama tidak hanya hadir di masjid-masjid dan di langgar-langgar namun juga hadir di tempat kumuh dan tak tersentuh oleh pendidikan. Itulah ciri pikir seorang Dahlan, kyai Kosmopolit berwatak “sedikit bicara banyak bekerja”.

Pokok pikiran dahlan yang termanifestasikan melalui Trisula Muhammadiyah yaitu feeding, schooling, dan healing menjadi pelopor daripada pendidikan islam berkemajuan.

Upaya memadukan pelajaran islam dengan pelajaran umum menjadi pemecah dikotomi yang saat itu terbangun dengan kokoh, hal itu dilihat dari sistem sekolah yang dinaungi oleh Muhammadiyah seperti sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.

Djarnawi Hadikusumo (dalam Awaluddin, n.d.) sekolah yang didirikan Muhammadiyah di kampung Kauman Yogyakarta tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya aktifitas umat islam saat itu, namun bertempat di sebuah gedung milik ayah Dahlan dengan meja dan papan tulis mirip sekolah belanda dengan mengajarkan agama menggunakan metode dan baru serta berpadu dengan ilmu umum sesuai kebutuhan saat itu. Bahkan Dahlan berani mendatangkan orang gereja ke sekolahnya untuk mengajarkan pengetahuan umum yang jarang diketahui oleh umat islam seperti pelajaran ipa, bahasa, dsb.

Pemikiran Dahlan kemudian dibahasakan menjadi kurikulum pendidikan Islam yang merupakan bagian integral dan vital dalam capaian hasil atau tujuan pendidikan. sehingga kemudian menghasilkan mutu pendidikan, yang lebih komprehensif dan paripurna sebagai wujud penghambaan kepada Sang Pencipta dan Pemelihara terhadap keutuhan alam-ilmiyah.

Kurikulum adalah sejumlah pengalaman, pendidikan, kebudayaan, sosial, keolaragaan dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid di dalam dan diluar sekolah dengan maksud menolong mereka untuk berkembang dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidik.

Hasan langgulung menggambarkan pada tiga materi yang harus ada dalam kurikulum yaitu, pertama, ilmu yang diwahyukan yang meliputi al-Qur’an dan Hadits serta bahasa Arab. Kedua, ilmu-ilmu yang mengkaji tentang manusia. Ketiga, adalah sains yang meliputi fisika, biologi, astronomi dan lain sebagainya. Hanya saja menurut Hasan Langgulungpada esensinya ilmu itu satu yang membedakan adalah analisa.

Sampai saat ini pokok pikiran dahlan sebagai pembaharu terkristalisasi dan semakin berkembang, ribuan lembaga pendidikan milik Muhammadiyah tersebar seantero bahkan mulai dari sekolah paud sampai perguruan tinggi tersebar, bahkan gerkan baru-baru ini terdapat gagasan internasionalisasi gerakan Muhammadiyah dengan pembangunan lembaga pendidikan diluar negeri. Selain dari pada itu tokoh-tokoh cendikiawan muslim Muhammadiyah senantiasa lahir memberikan kontribusinya pada kemajuan bangsa.

Karakter humanisme yang kuat membuat lembaga pendidikan Muhammadiyah lebih terbuka dan tidak membedakan kasta, persis saat awal-awal berdiri dengan mengetangahkan persamaan kasta, tidak ada beda antara pribumi dengan bangsawan karena keduanya mempunyai hak yang sama dan dan derajat yang sama dihadapan Tuhan, sehingga humanisme tersebut berkembang pada saat ini dengan memperhatikan secara utuh nasib manusia yang berkebutuhan khusus.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai organisasi otonom, yang berkeinginan untuk membentuk akademisi islam berakhlak mulia untuk mencapai tujuan Muhammadiyah perlu senantiasa mengikuti pikiran Dahlan muda yang melampaui. Hal itu bisa dilakukan dengan melibatkan diri pada isu nasional yang dikaji secara mendalam  di Muhammadiyah baik forum Tanwir ataupun Muktamar. Sehingga hal tersebut dapan menjadi narasi besar persyarikatan yang tentunya sesuai dengan arah juang persyariktan, tidak secara idividualistik.

Amin Citra Prayoga
Amin Citra Prayoga
Mahasiswa PPKn UMM, Kader IMM Raushan Fikr.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.