Minggu, Juli 14, 2024

Komitemen Jepang Melawan Diskriminasi Akses Vaksin Dunia

Dzaky Hilmy Majid
Dzaky Hilmy Majid
Mahasiswa S1 Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia

Pandemi Covid-19 telah melanda dunia kurang lebih selama setahun, selama kurun waktu tersebut telah banyak merenggut nyawa manusia. Pandemi ini tidak hanya berdampak kepada kehidupan manusia, pandemi ini juga berdampak pada keberlangsungan negara. Banyak sektor–sektor yang terdampak dan terpaksa berhenti karena adanya penyebaran virus covid–19 yang begitu masif. Bahkan saat ini, dengan jumlah kasus dunia Covid-19 yang tidak kunjung melandai membuat ketahanan kesehatan negara–negara mengalami pergolakan.

Fasilitas dan tenaga kesehatan yang terbatas menjadi kendala banyak negara dalam menghadapi virus Covid-19. Penemuan beberapa vaksin covid-19 oleh perusahaan – perusahaan medis dunia tampak terlihat sebagai harapan baru dalam memerangi virus Covid-19. Akan tetapi, harapan tersebut seolah hanya milik mereka negara–negara maju, sementara negara–negara berpenghasilan rendah mendapat kesulitan untuk mengakses vaksin yang tersedia

Negara Jepang adalah salah satu diantara negara maju yang menentang diskriminasi akses vaksin terhadap negara–negara berpenghasilan rendah. Jepang melalui Menteri Luar Negerinya Toshimitsu Motegi dalam pidato kebijakan luar negeri Jepang pada forum 204th Session of the Diet menegaskan, bahwasanya harus adanya sinergitas antara negara-negara di dunia dalam mengatasi penyebaran virus Covid-19.

Kemudian, beliau juga memberi statement tentang komitmen Jepang untuk berkontribusi aktif dalam melawan virus covid-19 dengan cara mereformasi dan memperkuat fungsi WHO yang memiliki tanggung jawab pada masalah kesehatan dunia serta, Jepang juga berkomitmen akan membantu pembangunan sektor kesehatan negara-negara berkembang misalnya, memberikan dukungan kepada ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases.

Untuk mempromosikan Universal Health Coverage dengan semangat “ Leaving No One’s Health Behind (tidak meninggalkan kesehatan siapa pun).” Jepang juga akan memberikan dukungan penuh untuk memastikan kemudahan akses vaksin untuk semua negara, termasuk negara berkembang.

Upaya yang dilakukan Jepang adalah mencoba berpartisipasi aktif untuk mereformasi serta menguatkan peran WHO (World Health Organization) sebagai organisasi kesehatan dunia yang bertanggung jawab terhadap permasalahan-permasalahan kesehatan dunia.

Kemudian, pada April 2020 WHO (World Health Organization) membentuk fasilitas program vaksin yang bernama COVAX (COVID-19 Vaccines Global Access) dimana, ini adalah buah inisiatif global yang bertujuan untuk menghadirkan kesetaraan akses vaksin antara negara dengan berpenghasilan tinggi dan rendah.

Adanya program fasilitas COVAX ini diharapkan untuk memberikan lebih dari dua miliar dosis kepada orang – orang di 190 negara dengan tenggat waktu tidak kurang selama setahun. Secara spesifik COVAX ingin memastikan bahwa 92 negara negara yang lebih miskin akan menerima akses vaksin yang sama dengan 98 negara yang lebih kaya. Program ini juga bertujuan untuk menjangkau hingga 20% populasi masyarakat di negara – negara miskin tanpa memberikan beban biaya kepada pemerintahan mereka (“Vaksin Covid-19 gratis melalui skema Covax mulai dibagikan, Ghana jadi penerima pertama”).

Melihat hal tersebut Jepang dengan komitmennya untuk membantu negara – negara memerangi Covid-19 dengan memberikan dana senilai 200 juta dollar AS (sekitar Rp. 2,85 triliun) serta juga terbaru Jepang melalui PM Yoshihide Suga menjanjikan dana tambahan lagi sebesar 800 juta dollar AS (sekitar 11,42 triliun) untuk program COVAX dari WHO (World Health Organization) (Sinaga).

Hal tersebut menunjukkan bahwa jelas kebijakan politik negara Jepang adalah untuk menekan angka Covid-19. Selain itu juga, Jepang juga turut membantu pemulihan keadaan kesehatan di ASEAN. Dimana Jepang mendukung penuh terbentuknya ASEAN Pusat Darurat Kesehatan Masyarakat dan Penyakit yang Baru Muncul (ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases – ACPHEED).

Kebijakan politik luar negeri Jepang di masa pandemi ini yang memprioritaskan pada bidang kesehatan, dengan misi melawan COVID-19 merupakan bentuk dari sikap Jepang dari akibat yang ditimbulkan oleh penyebaran virus COVID-19 di dunia. Seperti yang kita tahu bahwasanya penyebaran virus ini berdampak kepada negara-negara di seluruh dunia dengan turut berdampak kepada hampir seluruh bidang termasuk didalamnya ekonomi. Jepang sebagai negara dengan tingkat ekonomi yang pesat menggantungkan perekonomiannya pada kegiatan ekspor.

Akan tetapi, kegiatan ekspor tersebut harus banyak terhambat karena adanya penyebaran virus COVID-19. Maka dari itu terlihat masuk akal bahwa Jepang menitik beratkan politik luar negerinya dalam membantu negara – negara di dunia dalam penanganan penyebaran COVID-19.

Pasar ekspor dari negara Jepang kebanyakan di negara – negara berkembang, walaupun vaksin sudah beredar namun terdapat diskriminasi akses vaksin yang terjadi antara negara maju dan berkembang.

Untuk menyamaratakan akses terhadap vaksin bagi setiap negara tanpa terkecuali, Jepang menginisiasi ke WHO untuk memberikan akses vaksin yang setara yang kemudian menjadi alasan terbentuknya fasilitas COVAX. Kebijakan Jepang tersebut selain akan dapat memulihkan kesehatan dan ekonomi dunia juga dapat memulihkan perekonomian Jepang yang sedang mengalami penurunan drastis karena lambatnya kegiatan perdagangan antar negara.

Komitmen Jepang dalam melawan virus COVID-19 juga terlihat pada terbentuknya ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases – ACPHEED). Dimana penyebaran virus COVID-19 di kawasan Asia Tenggara terus mengalami lonjakan, untuk itu Jepang berkontribusi aktif membantu ASEAN untuk mengendalikan kasus penyebaran COVID-19.

Lebih lanjut ASEAN menjadi pasar baru bagi Jepang, dengan banyaknya pabrik asal Jepang yang terdapat di beberapa negara ASEAN. Maka dari itu, Jepang perlu mengambil tindakan dengan membantu ASEAN agar kegiatan industri pabriknya dapat kembali berjalan dan menghasilkan keuntungan bagi Jepang.

Referensi :

Adyatama, Egi. “4 Pembahasan Utama Saat Presiden Jokowi Temui PM Jepang.” Edited by Dwi Arjanto. TEMPO.CO, 21 Oktober 2020, https://nasional.tempo.co/read/1397866/4-pembahasan-utama-saat-presiden-jokowi-temui-pm-jepang. Accessed 30 Juli 2021.

Aryanti, Hari. “Ketidakadilan Dunia Itu Nyata, Distribusi Vaksin di Negara Kaya vs Negara Miskin.” Merdeka.com, 25 Februari 2021, https://www.merdeka.com/dunia/ketidakadilan-dunia-itu-nyata-distribusi-vaksin-di-negara-kaya-vs-negara-miskin.html. Accessed 30 Juli 2021.

Ministry Of Foreign Affairs of Japan. “Foreign Policy Speech by Foreign Minister MOTEGI to the 204th Session of the Diet.” Ministry Of Foreign Affairs of Japan, 18 Januari 2021, https://www.mofa.go.jp/fp/pp/page3e_001106.html. Accessed 8 Juni 2021.

Sinaga, Yuni Arisandi. “Jepang akan sumbangkan dana tambahan untuk vaksin ke badan COVAX WHO.” Antara News, 2 Juni 2021, https://www.antaranews.com/berita/2187366/jepang-akan-sumbangkan-dana-tambahan-untuk-vaksin-ke-badan-covax-who. Accessed 8 Juni 2021.

“Vaksin Covid-19 gratis melalui skema Covax mulai dibagikan, Ghana jadi penerima pertama.” BBC INDONESIA, 25 Februari 2021, https://www.bbc.com/indonesia/dunia-56178224. Accessed 30 Juli 2021.

 

    

Dzaky Hilmy Majid
Dzaky Hilmy Majid
Mahasiswa S1 Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.